12 Maret, Juz 12

Bismillah.

Siapa yang kalau berdoa bisa menangis? Kenapa saya katakan “bisa”? Karena memang tidak mudah. Tapi kalau benar-benar bisa, itu masyaAllah, semoga diijabah Allah SWT.

Pertanyaan berikutnya, siapa yang kalau baca Al-Qur’an bisa menangis? Yang bisa, sungguh luar biasa karena mendapat nikmat yang sangat besar. Soalnya jujur saja, jauh lebih sulit meneteskan air mata ketika membaca ayat suci dibanding saat berdoa meminta sesuatu.

Mungkin ada yang bertanya, apa iya baca Al-Qur’an harus menangis? Drama amat?

Tadi pagi saya mendengar tausyiyah Ustadz Firanda Andirja, beliau mengutip fatwa Syekh Bin Baz, bahwa menangis ketika membaca atau mendengar ayat-ayat Allah ternyata derajatnya lebih tinggi dan lebih afdal daripada tangisan saat berdoa meminta hajat.

Sebab tangisan saat membaca Al-Qur’an adalah bukti nyata konsentrasi penuh, bersatunya akal dan hati, serta pengagungan terhadap firman Allah. Kita gampang menangis tersedu-sedu saat berdoa minta rezeki, kelancaran karir, atau jodoh, karena kita paham persis apa yang kita minta. Sedangkan saat membaca Al-Qur’an, mata sering kering kerontang karena kita tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh Tuhan semesta alam.

Kuncinya, masih menurut Ustadz Firanda, ada pada kualitas tadabbur, bukan sekadar kecepatan membaca. Caranya dengan membaca terjemahan dan berani melakukan jeda tadabbur. Kalau bertemu ayat tentang azab yang mengerikan, berhenti sejenak untuk memohon perlindungan. Kalau bertemu ayat tentang indahnya surga, berhenti sebentar untuk memintanya kepada Allah.

Ustadz Firanda juga menyarankan agar pemahaman ayat ini dibawa ke dalam bacaan shalat biar ibadah bertambah khusyu. Tapi ada catatan penting, jangan lakukan interaksi jeda dan menangis tersedu-sedu ini saat shalat wajib, apalagi ketika jadi imam, bisa-bisa jamaah di belakang malah kebingungan. Lakukan praktik ini saat shalat sunnah, seperti tahajjud atau qiyamullail sendirian di sepertiga malam. Di momen sepi itulah kita bisa bebas mengulang-ulang satu ayat, mentadaburinya dalam-dalam, membiarkan air mata luruh meresapi maknanya.

Standar tertinggi dari interaksi ini bisa kita lihat pada diri Rasulullah. Dalam sebuah riwayat, Abu Bakar ash-Shiddiq pernah keheranan dan bertanya kenapa rambut Rasulullah begitu cepat beruban.

Rasulullah menjawab, “Surah Hud dan saudara-saudaranya telah membuatku beruban.” (HR. Tirmidzi).

Selain berisi perintah yang sangat berat untuk istiqamah (Hud: 112), beliau juga bergetar meresapi rentetan azab umat terdahulu yang diturunkan bertubi-tubi di surah yang sama. Dalam Surah Hud, Allah menceritakan azab yang menimpa kaum-kaum yang mendustakan rasul mereka: kaum Nuh ditenggelamkan dengan topan, kaum ‘Ad (kaum Nabi Hud) dimusnahkan dengan angin kencang yang dingin, kaum Tsamud (kaum Nabi Shaleh) disiksa dengan suara yang mengguntur, dan kaum Luth yang dihujani batu dari langit. Semua azab ini disebutkan berurutan sebagai peringatan bagi mereka yang membangkang.

Relevansinya dengan bacaan hari ini kuat banget, karena Surah Hud yang dahsyat itu ada tepat di dalam Juz 12.

Mentadaburi Juz 12 di pertengahan Ramadhan ini rasanya jadi momen reset orientasi tilawah. Titik balik untuk mengubah fokus, dari sekadar kejar setoran khatam, jadi membaca yang menyertakan akal dan hati.

Semoga hari-hari Ramadhan ini selalu bisa kuambil hikmahnya. Harapanku, kelak air mata ini tidak lagi hanya menetes karena urusan dunia yang fana, melainkan luruh perlahan karena keagungan firman-Nya.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News