Tanggal 26 Januari, Juz 26
Ada Surat Muhammad, surat yang dinamai dengan nama Rasulullah karena di ayat ke-2, Allah mengabadikan nama beliau.
Nama “Muhammad” di dalam Al-Qur’an hanya disebut 4 kali, dan nama “Ahmad” satu kali. Di Surat ini, selain disebut di ayat 2 juga menjadi nama Surat. Tapi, Surat Muhammad ini isinya bukan biografi atau sejarah hidup beliau. Surat ini justru banyak membahas tentang ketegasan sikap dan hukum perang. Itulah kenapa para ulama juga menamai surat ini sebagai Surat Al-Qital (Peperangan).
Surat ini turun di periode awal Madinah, saat umat Islam mulai diizinkan melawan penindasan fisik, bertepatan dengan masa-masa Perang Badar dan Uhud.
Salah satu hukum perang yang revolusioner ada di ayat 4. Jika perang usai, tawanan tidak boleh disiksa. Opsinya hanya dua: lepaskan sebagai budi baik (al-mann) atau lepaskan dengan tebusan (al-fida’).
Selain soal fisik, surat ini juga “menyerang” mental orang-orang munafik yang enggan diajak berjuang (capek sedikit, mundur; takut sedikit, lari).
Lalu apa motivasi bagi mereka yang mau lelah berjuang?
Di ayat 15, Allah membocorkan fasilitas “VVIP” di surga nanti. Bukan cuma taman, tapi ada 4 jenis sungai: sungai air jernih, sungai susu, sungai arak lezat, dan sungai madu murni.
Tapi, apa hubungannya ‘Surat Perang’ ini dengan kita yang duduk di kubikel kantor, mengejar target sales, atau melayani administrasi pemerintahan?
Sangat relevan. Surat Muhammad membidik mentalitas “zona nyaman” kita.
Bagi kita Buruh Korporat & ASN, surat ini mengajarkan apa itu Integritas vs apa itu Mentalitas Munafik.
Orang munafik dalam surat ini digambarkan enggan, malas, dan banyak alasan saat diajak berjuang. Di dunia kerja, ini mirip mentalitas “asal Bapak senang”, kerja seadanya, atau korupsi waktu. Surat ini menuntut kita punya mental fighter, yaitu profesional, tuntas mengerjakan amanah, dan tidak “kabur” saat ada masalah di kantor. Ingat aturan tawanan perang di atas? Itu mengajarkan etika: bahkan saat punya kuasa (jabatan), kita harus tetap memanusiakan bawahan atau mitra kerja.
Bagi para Pengusaha, surat ini adalah Manual untuk Tahan Banting.
Bisnis itu keras, penuh ketidakpastian seperti perang. Ada kompetitor, ada krisis, ada kerugian.
Surat Muhammad mengajarkan: jangan cengeng. Allah menjanjikan kemenangan bagi yang kuat mau bertahan dan tidak ragu.
Kembali ke satu rumus di Ayat 7:
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.”
Namun, kita perlu berhati-hati. “Menolong Agama Allah” dalam konteks kerja profesional bukan berarti memaksakan simbol-simbol agama di kantor ya.
Esensinya adalah menegakkan nilai-nilai universal agama di ranah publik, seperti kejujuran (shiddiq), amanah, adil, dan kompetensi (itqan).
Seorang ASN yang jujur, pengusaha yang amanah, atau karyawan yang kompeten, itulah bentuk nyata “menolong agama” melalui akhlak.
Ingat juga pesan tegas dari Ayat 33: “Dan janganlah kamu merusak segala amalmu.”
Peringatan ini sangat keras. Sebanyak apapun amal baik dan prestasi profesional kita, bisa hancur dalam sekejap oleh satu dosa seperti korupsi, menyakiti rekan kerja, atau menghalalkan segala cara untuk target.
Integritas adalah fondasi yang tidak bisa ditawar.
Kalau niat kerjanya sudah sampai di level itu, maka janji Allah pasti turun. Allah akan menolong karir kita dan mengokohkan posisi kita, dan pasti menambah keberkahan buat kita.
Jadi, siap lelah untuk lillah?
Tapi ingat, Islam mengajarkan kita untuk bekerja cerdas (al-hikmah) dan efisien, bukan sekadar kerja keras hingga kelelahan tanpa makna.
Surat Muhammad mengajarkan strategi, bukan hanya semangat.
Jadi, kita diajari untuk jadi pejuang/pekerja/pengusaha yang cerdas, bukan hanya lelah. Istilahnya work smart not hard.
Wallahu a’lam
