27 Januari, Juz 27
Di juz ini terletak Surat Ar-Rahman dan beberapa surat lainnya.
Karena daya tarik Ar-Rahman, izinkan aku membahas kembali surat ini. Kalimat Fabiayyi ala irobbikuma tukazziban yang sebanyak 31 kali ditempatkan setelah menyebutkan nikmat-nikmat Allah.
Salah satu nikmat yang disebutkan di awal surat ini, tepatnya pada ayat ke-14, adalah tentang penciptaan manusia. Penciptaan manusia adalah peristiwa yang sangat istimewa, karena bukan hanya mengandung science, tapi juga mengandung pesan Maha Kuasa Allah, kun fayakun.
Di sana digambarkan penciptaan manusia berasal dari shalshaal kal-fakhkhaari, yang artinya tanah kering yang berbunyi seperti tembikar.
Proses ini adalah rangkaian yang sangat detail, mulai dari pengambilan tanah di bumi hingga menjadi bentuk yang solid. Dari caranya yang diciptakan langsung dari tanah itulah, para ulama berpendapat bahwa ini adalah proses penciptaan Nabi Adam, manusia pertama.
Namun jika kita selami lebih dalam, Allah sebenarnya menunjukkan kehebatan-Nya dengan menciptakan manusia melalui empat cara yang berbeda agar kita sadar betapa tidak terbatasnya kekuasaan-Nya.
Cara pertama tentu saja penciptaan Nabi Adam alaihissalam yang tanpa ayah dan tanpa ibu, melainkan dibentuk langsung dari tanah yang kering tadi.
Kemudian cara kedua adalah penciptaan Siti Hawa, di mana Allah menciptakan manusia dari bagian tubuh manusia lainnya, yaitu melalui tulang rusuk Nabi Adam, sebuah proses yang menunjukkan kedekatan asal-usul antara laki-laki dan perempuan.
Cara ketiga yang tak kalah ajaibnya adalah penciptaan Nabi Isa alaihissalam, yaitu beliau diciptakan lewat rahim ibunda Maryam namun tanpa perantara sentuhan laki-laki sama sekali, sebuah bukti bahwa hukum sebab-akibat biologis bisa Allah lalui hanya dengan satu firman-Nya.
Dan yang terakhir, cara keempat, adalah proses penciptaan kita semua sebagai manusia biasa melalui jalan biologis antara laki-laki dan perempuan yang berawal dari saripati tanah yang menjadi nutfah, lalu berkembang menjadi segumpal darah hingga ditiupkan ruh pada masanya.
Semua proses penciptaan di atas sangatlah istimewa dan memiliki keunikannya masing-masing. Itulah kenapa sering kali motivator mengatakan pada kita kalau kita tidak boleh minder, karena kita adalah makhluk ciptaan Allah yang dirancang dengan sangat khusus dan memiliki nilai kualitas yang luar biasa sejak dalam kandungan.
Lantas, apa hikmah terdalam dari perenungan penciptaan ini bagi kehidupan kita di era modern?
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali menilai kesuksesan seseorang hanya dari angka-angka materi atau seberapa viral ia di media sosial, ayat ini seolah menarik kita kembali ke akar jati diri yang sesungguhnya. Mengingat asal-usul kita yang dari tanah mengajarkan kerendahan hati agar tidak tergelincir dalam kesombongan.
Namun di saat yang sama, menyadari bahwa proses penciptaan kita begitu rumit dan melibatkan kehendak langsung dari Allah membuat kita sadar bahwa hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk merasa tidak berguna.
Kita bukanlah produk kebetulan atau sekadar deretan kode genetik tanpa makna, melainkan sebuah mahakarya yang didesain dengan presisi tinggi oleh Sang Maha Pencipta untuk sebuah tujuan yang mulia.
Maka, setiap kali pertanyaan ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’ itu terngiang di telinga, sesungguhnya itu adalah panggilan mesra agar kita berhenti sejenak dari mengejar validasi manusia, lalu mulai mensyukuri betapa hebatnya potensi diri yang telah Allah titipkan dalam raga ini.
Kita hebat, dengan izin Allah.

