28 Februari, Juz 29.
Bismillah.
Ternyata bulan Februari tahun ini hanya sampai tanggal 28. Artinya, malam ini harus khatam karena besok tanggal 1 Maret. Ini namanya marathon.
Ritme maraton ini terasa sangat pas dengan isi Juz 29 itu sendiri. Berbeda dengan juz sebelumnya yang berisi hukum sosial yang dibaca pelan, Juz 29 ini kembali ke fase Makkiyah dengan “pace” atau tempo yang sangat cepat dan menghentak.
Ayat-ayat di juz ini, seperti dalam Surat Al-Haqqah, Al-Qiyamah, atau Al-Mursalat, sangat pendek dan lugas. Bunyi akhirannya seragam dan berulang, menciptakan ketukan yang memacu ritme bacaan kita.
Temanya pun sangat darurat, yaitu peringatan kiamat. Bahasanya seperti alarm kebakaran yang berbunyi nyaring membangunkan jiwa yang tertidur.
Pertama, tentang Shalat malam dan hikmah Al-Quran. Di Surat Al-Muzzammil, Allah berseru: Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari… dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil).
Kenapa lagi enak tidur disuruh bangun?
Allah berfirman di ayat kelima: “Innaa sanulqii alaika qaulan tsaqiilaa”. “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan (tugas) yang berat.”
Tugas kehidupan dunia dan menahan hawa nafsu di siang hari itu sangatlah berat. Untuk memikulnya, kita butuh “baterai” yang di-charge penuh di malam hari melalui tidur cukup, qiyamul lail dan interaksi dengan Al-Quran.
Di juz ini pula Allah membeberkan hikmah mengapa kita harus membaca Al-Quran. Di Surat Al-Jinn ayat 1-2, diceritakan sekumpulan jin yang hanya mendengar Al-Quran sekilas langsung takjub dan beriman: “Qul uuhuya ilayya annahustamaa nafarum minal jinni fa qaaluu innaa saminaa quraanan ajabaa. Yahdii ilar rusydi fa aamannaa bih”. “Katakanlah (hai Muhammad), Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.”
Bila makhluk gaib saja tersentuh, sungguh malu rasanya jika aku membaca Al-Quran tapi hati ini hampa. Al-Quran juga perisai dari penyesalan. Jadi ingat waktu di Surat Arrahman kemarin, sahabat nabi pun “kalah” dibandingkan dengan jin ketika merespon “fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaa”.
Di Surat Al-Haqqah ditegaskan bahwa Al-Quran adalah kebenaran mutlak yang menyelamatkan: “Wa innahu latadzkiratul lil muttaqiin. Wa innahu lahaqqul yaqiin”. “Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar suatu peringatan bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar kebenaran yang meyakinkan.” (Al-Haqqah: 48 dan 51)
Membaca Al-Quran adalah proses men-charge baterai kehidupan dan memastikan diri tetap di jalur yang benar.
Kedua, tentang Infak. Di Juz 29 ini Allah mengajarkan level tertinggi dari memberi melalui Surat Al-Insan ayat 8 dan 9: “Wa yuthimuunath thaama alaa hubbihii miskiinan wa yatiiman wa asiiraa. Innamaa nuthimukum li wajhillaahi laa nuriidu minkum jazaa-an wa laa syukuuraa”
Allah memuji golongan Abrar yang memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.
Komitmen batin mereka luar biasa: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan tidak pula ucapan terima kasih dari kamu.”
Aku teringat penyakit hati yang sering mampir saat aku hendak berinfak. Sering muncul keraguan: Jangan-jangan pengemis ini pura-pura miskin? Jangan-jangan uangnya malah dipakai beli rokok?
Ternyata, keraguan itu adalah trik halus setan untuk membuatku menunda sampai lupa.
Puncak keikhlasan dalam Surat Al-Insan bukan hanya ikhlas tidak diucapkan terima kasih, tapi juga ikhlas melepaskan prasangka.
Ada kisah sahih tentang seseorang di zaman dulu yang niat bersedekah, tapi tanpa sengaja uangnya jatuh ke tangan pencuri, lalu ke pelacur, dan ke orang kaya. Ia sedih, tapi Nabi mengabarkan bahwa Allah tetap menerima semua sedekahnya secara utuh.
Tugasku hanyalah melepaskan harta lillahitaala. Begitu uang berpindah tangan, hisabnya sudah berpindah ke penerima. Jika dia memakainya untuk maksiat, itu urusannya dengan Allah. Pahala sedekahku semoga sudah dicatat sempurna, insyaAllah.
Lebih dari itu, infak tidak melulu harus kepada pengemis. Mentraktir makan teman-teman, sahabat, atau rekan kerja yang mampu sekalipun, sah dan bernilai pahala infak besar. Mentraktir teman adalah bentuk idkhal as-surur, memasukkan rasa bahagia ke hati saudara, sebuah amal yang sangat dicintai Allah.
Duh rasanya aku pengin ditraktir :D, banyak sahabatku demen infak.
Malam ini, membedah Juz 29 mengingatkanku bahwa tiga pilar ini adalah kurikulum untuk mencetak jiwa yang tangguh menghadapi beratnya dunia, dan jiwa yang ikhlas melepaskan harta tanpa prasangka.
Bismillah, menarik napas sejenak, lalu melangkah lari menuju garis finish di Juz 30.
Wallahu alam.
