Lawang Sewu dan Cermin yang Tidak Bisa Berbohong

Tanggal 28 bahas juz 28.

Kemarin sore saya mampir ke Lawang Sewu Semarang.

Lawang Sewu itu luar biasa megah. Arsitek belanda, marmer dari Italia, granit dari Jerman, kaca patri Eropa. Tahun 1904, bangunan seindah itu berdiri bukan hanya untuk lambang kekuasaan, sekaligus membungkam inlander. Pesannya sederhana dan kejam: kami hebat kami angkut semua hasil alam, kalian stay poor, un-educated dan kalah.
Teknologi dipamerkan, martabat orang lokal direndahkan.

Kita tahu itu. Kita sadar. Perlu momentum saudara tua, lalu kita bangkit, qodarullah.
Kita tulis Pembukaan UUD 1945, Pancasila, dan janji kemerdekaan yang sangat luhur. Dan itu sudah 80 tahun berjalan.

Di juz 28 ini, kita membaca Al-Qur’an menegur kita dengan jujur:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(QS As-Saff: 2–3)
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?
Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”

Kenapa setelah sadar dan merdeka, dan berdemokrasi, dan berpendidikan, kita masih sering tidak menjalankan nilai yang kita ucapkan?

Mungkin karena trauma panjang membuat kita lebih memilih aman (partai pilihan menang, idola terkenal, gaji lancar) daripada adil.

Dan di juz 28 pula Al-Qur’an kembali mengingatkan:

> وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ
(QS Al-Hasyr: 19)
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”

Lawang Sewu hari ini tidak lagi membungkam.
Ia berdiri sebagai cermin.
Bangunannya megah, tapi pertanyaannya sederhana:
apakah kita masih menunduk pada sistem yg rusak, atau sudah berani berdiri tegak pada nilai yang kita sendiri rumuskan?

Wallahu a’lam.

Mungkin kita berbisik, kalau tidak bisa merubah dengan tangan, doa aja.

Atau kita menunjuk, itu tu yg tidak tau terimakasih, tidak kebagian, komplain terus. Kita tidak peduli. Padahal sadar kerusakan di sana-sini.

Lawang Sewu semoga jadi cerminku.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News