Menjadi Qawwam Sejati: Memahami Fitrah Wanita dan Menjaga “Cermin” Keluarga

5 Februari, Juz 5

Hari ini kita masuk Juz 5. Isinya masih mendalami Surat An-Nisa. Surat ini sangat istimewa karena menunjukkan perhatian Islam yang begitu detail terhadap fondasi moralitas dan stabilitas sosial, yaitu Keluarga.

Di dalam Al-Qur’an, ada dua surat yang sering disebut sebagai Surat Wanita.

  1. An-Nisa, ulama sering menyebut sebagai An-Nisa Al-Kubra/Besar. Surat yang sedang kita baca ini di Juz 5. Surat ini banyak bicara tentang bagaimana membangun hubungan, menikahi, dan memuliakan wanita sejak awal.

  2. At-Talaq, ulama mengatakan sebagai An-Nisa As-Sughra/Kecil. Surat ini ada di Juz 28, dan banyak bicara tentang bagaimana jika hubungan itu harus berakhir 馃檨.

Adanya dua surat diatas menggambarkan begitu indahnya Islam. Islam mengatur hubungan mulia ini dari start sampai finish. Bahkan jika harus berpisah pun, Islam memerintahkan caranya harus baik (ma’ruf), tidak boleh saling menzalimi.

Alasan kita membahas keluarga adalah karena keluarga nyata-nyata sebagai benteng pertahanan utama kita bukan hanya untuk menyambut Ramadhan, tapi untuk seumur hidup kita. Dan “nyawa” dari benteng itu adalah wanitanya (Istri/Ibu).

Memahami wanita adalah kunci keharmonisan. Mari kita lihat dari sisi bahasa. Dalam bahasa Arab, wanita tunggal disebut Mar鈥檃h. Kata ini memiliki akar kata yang berdekatan dengan Mir鈥檃h, yang artinya Cermin. Juga dekat dengan Muru鈥檃h (Kehormatan/Dignity).

Filosofinya dalam sekali, yaitu wanita itu seperti cermin. Ia memantulkan apa yang ada di depannya.

  • Jika suami tersenyum, cermin akan memantulkan senyum yang lebih indah, bahkan disertai pelukan.

  • Jika suami marah, cermin akan memantulkan ketidaknyamanan. Malahan dia akan marah lebih galak atau lama.

  • Tapi ingat ya, cermin itu sensitif. Jika ia pecah (hatinya terluka), ia mungkin bisa disambung lagi (memaafkan), tapi pantulannya tidak akan pernah sesempurna dulu (bekas lukanya tetap ada). Maka, jagalah Muru’ah-nya, jangan sampai retak.

Sedangkan bentuk jamak untuk wanita dalam bahasa Arab adalah An-Nisa. Kata ini unik karena diambil dari akar kata yang bermakna berkumpul atau menuturkan/bercerita. Fitrah wanita itu komunal, senang berkumpul, dan butuh didengar ceritanya. Jadi, kalau istri atau anak perempuan kita “cerewet” atau banyak cerita hal-hal kecil, itu bukan gangguan. Itu fitrah An-Nisa.

Tugas kita sebagai ayah/suami adalah menjadi telinga yang baik. Karena jika mereka tidak didengar di rumah, mereka akan mencari pendengar di luar yang mungkin salah.

Nah sekarang tentang kita, Laki-laki. Seringkali laki-laki memotong diskusi dengan dalil ayat Quran pamungkas yang ada di Juz 5 ini: “Ar-rijalu qawwamuna ‘alan nisa…” (Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita…). (QS. An-Nisa: 34).

Eits, jangan berhenti di situ. Teruskan ayatnya. Seringkali cowok berhenti di penggalan ayat di atas. Padahal terusannya “Why”nya. Allah memberikan alasan kenapa laki-laki jadi pemimpin:

  • …bima fadhallahu ba’dhahum ‘ala ba’dh… (Karena Allah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain – dalam hal fisik/tanggung jawab).

  • …wa bima anfaqu min amwalihim… (Dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka).

Kata Qawwam di ayat di atas adalah bentuk sangat aktif dari Qima (berdiri/menopang). Artinya: Pemimpin itu yang paling depan pasang badan, yang paling lelah mencari nafkah, dan yang paling sibuk melayani kebutuhan keluarganya. Jadi, Qawwam itu bukan “Bos yang minta dilayani”, tapi “Pengayom atau pemimpin yang melayani”.

Nah inspirasi lain dari Juz 5 ini adalah ada di ayat 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58).

Ayat ini seperti memberikan kesimpulan. Istri kita, anak perempuan kita, adalah Amanah dari Allah. Mereka punya “hak” untuk didengar (An-Nisa) dan “hak” untuk dijaga perasaannya (Mar’ah/Cermin). Jika kita mengaku Qawwam (Pemimpin) tapi abai terhadap perasaan mereka, kasar lisannya, atau pelit hartanya, berarti kita sedang mengkhianati amanah Allah.

Kembali ke persiapan kita menyambut Ramadhan. Persiapan itu bukan cuma stok sirup di dapur ya. Tapi stok kesabaran dan kasih sayang di hati.

Sebelum masuk Ramadhan, mari kita tengok kembali “Cermin” di rumah kita.

  • Tatap cermin kita atau istri kita dan anak kita. Senyumlah dengan senyum terbaik.

  • Pulang lebih awal atau sisakan akhir pekan, dengarkan cerita remeh-temeh mereka.

  • Yuk menjadi Qawwam yang sesungguhnya: yaitu suami siaga yang hadir, menopang, dan melindungi.

Karena ketika kita sudah memberikan ikhtiar terbaik untuk keluarga kita, rumah kita akan berasa surga yang sebenar-benarnya surga dunia. Dan yang merasakan bukan cuma kita, mereka pun akan merasakan yang sama. Pada akhirnya doa-doa mereka yang tulus dari hati yang bahagia, adalah bahan bakar terbaik untuk ibadah kita saat ini, di bulan Ramadhan nanti, dan seterusnya, insyaAllah.

Oiya, ada satu lagi cara untuk mengecek apakah ikhtiar kita untuk keluarga berhasil guna. Coba cari tahu apakah merasa nyaman curhat ke kita? Kalau mereka hobi curhat, cerita pengalaman seharian mereka, cerita hobi mereka, insyaAllah kita on track. Kalau belum, yuk kita tadabburi lagi Surat An-Nisa.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News