9 April, Juz 9
Bismillah.
Juz 9 membentang dari Al-A’raf ayat 88 sampai Al-Anfal ayat 40, dan di dalamnya ada satu fragmen sejarah Bani Israel yang paling sering dikutip orang, sekaligus paling jarang dibaca sampai tuntas. Kisah kaum yang dikutuk menjadi kera yang hina.
Peristiwanya dibongkar di Al-A’raf ayat 163 sampai 166, dan yang dikenal sebagai Ashab as-Sabt, penduduk sebuah negeri di tepi laut. Di balik kisah yang terdengar seperti dongeng seram itu, ada anatomi yang sangat rapi tentang bagaimana kejahatan kerah putih dan sikap apatis masyarakat bisa mencabut kemanusiaan sebuah peradaban.
Was’alhum ‘anil qaryatil latī kānat ḥāḍiratal baḥr, idz ya’dūna fis sabti idz ta’tīhim ḥītānuhum yauma sabtihim syurra’an wa yauma lā yasbitūna lā ta’tīhim…
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat, (yaitu) ketika ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka datang terapung-apung di permukaan air pada hari Sabat itu, padahal pada hari-hari yang bukan Sabat ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka…” (QS 7:163)
Aturannya jelas, hari Sabtu dilarang menangkap ikan supaya mereka fokus beribadah. Dan Allah menguji tepat di titik terlemah mereka. Setiap Sabtu, ikan-ikan bermunculan di permukaan, banyak sekali. Di hari-hari lain, hilang entah ke mana.
Yang mereka lakukan bukan taat, bukan juga melanggar terang-terangan. Mereka mencari celah. Perangkap dipasang Jumat sore, ikannya masuk sendiri sepanjang Sabtu, lalu diambil hari Minggu. Kalau ada yang bertanya, jawabannya siap, kami tidak bekerja di hari Sabtu. Secara hukum tertulis mereka bersih. Secara substansi, aturan itu sudah mereka bunuh pelan-pelan.
Yang menarik justru reaksi masyarakatnya.
Wa idz qālat ummatum minhum lima ta’iẓūna qaumanillāhu muhlikuhum au mu’adzdzibuhum ‘adzāban syadīdā, qālū ma’dziratan ilā rabbikum wa la’allahum yattaqūn.
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras? Mereka (yang menasihati) menjawab, Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa.” (QS 7:164)
Masyarakatnya terbelah tiga. Ada pelakunya, yaitu mereka yang terang-terangan mengakali hukum Tuhan demi keuntungan ekonomi. Ada kelompok kecil yang tetap bersuara dan menegur, meski nasihatnya tidak digubris. Dan ada kelompok ketiga yang paling banyak jumlahnya, orang-orang yang tidak ikut melanggar tapi memilih diam. Kalimat mereka itu yang membuatku merinding. Buat apa menasihati orang yang sudah pasti dihukum Allah? Terdengar bijak, terdengar realistis, padahal isinya melemahkan orang-orang yang masih mau berjuang. Sekarang orang menyebutnya netralitas beracun, sikap yang kelihatannya aman padahal justru memperkuat kejahatannya.
Ujungnya sudah bisa ditebak, tapi pembagian nasibnya yang perlu dibaca pelan-pelan.
Falammā nasū mā dzukkirū bihī anjaynal ladzīna yanhauna ‘anis sū’i wa akhadznal ladzīna ẓalamū bi’adzābim ba’īsim bimā kānū yafsuqūn.
“Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang perbuatan jahat itu dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS 7:165)
Falammā ‘atau ‘ammā nuhū ‘anhu qulnā lahum kūnū qiradatan khāsi’īn.
“Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka, Jadilah kamu kera yang hina.” (QS 7:166)
Yang disebut selamat cuma satu golongan, yaitu mereka yang aktif mencegah kemungkaran. Kelompok netral tadi tidak disebut sebagai bagian dari yang diselamatkan. Diam ternyata tidak pernah dihitung sebagai posisi aman.
Soal kenapa hukumannya berwujud kera, para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan ini sebagai hukuman yang nyata sekaligus sarat makna. Bentuk mereka diubah sebagai akibat pelanggaran yang disengaja dan diulang-ulang. Maknanya juga tidak sulit ditangkap. Manusia turun kelas, dari makhluk berakal yang mestinya tunduk pada kebenaran, menjadi makhluk yang geraknya cuma mengikuti insting dan urusan perut. Akal yang seharusnya dipakai memahami perintah malah dipakai mengakalinya demi materi. Masyarakat yang seharusnya saling menjaga malah memilih diam demi kenyamanan. Dari khalifah di bumi, mereka mengecil jadi makhluk yang digerakkan kepentingan sesaat.
Pelajarannya keras. Kehancuran tidak hanya menimpa pelakunya, tapi juga orang-orang yang memilih tidak mengambil sikap.
Kalau ditarik ke hari ini, situasinya bahkan tidak samar sedikit pun. Pelaku kejahatannya jelas, yaitu Israel dan Amerika, dan korbannya juga jelas, yaitu Palestina, Lebanon, dan Iran yang terus ditekan dan diserang tanpa henti.
Dalam keadaan seterang itu, memilih netral dan diam bukan pilihan yang aman. Dalam kacamata Al-Qur’an, itu justru mendekatkan kita ke golongan ketiga yang dikecam, orang-orang yang membiarkan kemungkaran berjalan tanpa perlawanan.
Maka keberanian bersikap dan membela yang tertindas itu bagian dari tanggung jawab moral. Cuma tetap ada rambunya, karena sikap itu harus tetap berdiri di atas nilai Islam, yaitu adil, jujur, dan tidak melampaui batas sekalipun kepada lawan.
Wallahu a’lam.
