Bismillah
Seratus hari ke depan aku mau kembali belajar tentang hikmah haji dan umrah.
Kenapa seratus hari? Karena seratus itu banyak. Dan memang harus banyak. Ini perjalanan belajar, bukan sekali duduk lalu selesai.
Kenapa haji dan umrah
Aku yakin setiap muslim pernah terbersit ingin berhaji atau berumrah. Selain karena ini bagian dari rukun Islam, juga karena kita melihatnya di mana-mana. Saudara, tetangga, kawan dekat, kawan jauh, satu per satu berangkat. Masa sih tidak kepingin.
Sebagian sudah terlaksana, sebagian belum, dengan berbagai alasan. Karena ibadah yang satu ini bukan cuma soal biaya. Orang banyak menyebutnya panggilan. Berangkat kalau dipanggil, atas izin Allah.
Kenapa madrasah
Madrasah artinya sekolah.
Istilah ini aku dengar waktu alhamdulillah mendapat kesempatan berhaji tahun 2022. Intinya begini: dua puluh hari di Makkah dan Madinah itu bukan sekadar menjalankan manasik dan mengikuti rangkaian kegiatan. Proses haji itu sendiri harus menjadi madrasah, tempat belajar.
Maka pulang dari haji sama dengan pulang dari sekolah. Dan orang yang pulang dari sekolah semestinya membawa sesuatu. Ibadahnya lebih baik, akhlaknya lebih baik, dan ilmunya dipakai dalam kehidupan sehari-hari setelah itu. Yang berhasil disebut haji mabrur. Yang belum berubah, semoga pada akhirnya berubah.
Kenapa didalami lagi
Menurutku hikmah dari madrasah haji ini luas sekali. Jadi tidak ada salahnya aku mendalaminya lagi, sedalam-dalamnya. Dari situlah angka seratus itu muncul.
Mulai 15 September. Bismillah. Semoga kontinyu, dan semoga bermanfaat untukku, untuk keluargaku, dan untuk siapa pun yang berkenan mengambil hikmahnya.
Cara mengikuti catatan ini
Catatan ini ditulis setiap hari, satu tulisan untuk satu bagian bacaan.
Untuk membaca seluruh rangkaiannya dari awal, klik tag madrasah 100 hari di atas tulisan ini. Semua tulisan dalam seri ini akan muncul berurutan di sana.






