Tanggal 28 Januari, Juz 28
Beberapa waktu lalu, saat membahas Surat Muhammad dijuz 26, saya sempat menyinggung bahwa nama Muhammad disebut empat kali di dalam Al-Qur’an, dan nama Ahmad hanya satu kali.
Dan di Juz 28 inilah, nama Ahmad itu muncul sebagai nubuat, kabar gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada kaumnya.
Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
(QS Ash-Shaff: 6)
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang Rasul yang akan datang setelahku, namanya Ahmad.'”
Lebih jauh lagi, nubuat Nabi Muhammad sudah dimulai berabad-abad sebelumnya, yaitu dari bapak para nabi: Ibrahim ‘alaihis salam.
Setelah meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah yang sunyi, Ibrahim berdoa:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
(QS Al-Baqarah: 129)
“Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka (penduduk lembah ini) seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, serta menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
Lembah sunyi itu adalah Bakkah, nama lain untuk Makkah. Ismail yang saat itu masih bayi, tumbuh di tanah yang kelak akan menjadi titik pusat ibadah umat manusia. Dan doa Ibrahim itu adalah blueprint ilahi untuk kelahiran seorang rasul penutup dari keturunan Ismail, yang akan membawa Kitab terakhir, mengajarkan Hikmah, dan menyucikan jiwa.
Maka, ketika Isa menyebut nama Ahmad, ia sedang menyambung doa yang dipanjatkan berabad-abad sebelumnya.
Kata Ahmad berasal dari akar kata yang sama dengan Muhammad, yaitu hamida (pujian).
Jika Muhammad bermakna “yang banyak dipuji”, maka Ahmad bermakna “yang paling terpuji”.
Para ulama menjelaskan, penyebutan nama Ahmad di lisan Nabi Isa adalah penekanan pada sifat Rasul terakhir itu, bukan sekadar nama formal. Seakan-akan Nabi Isa sedang berkata, “Akan datang seorang rasul setelahku, yang hakikatnya adalah manusia paling terpuji dalam akhlak, risalah, dan kedekatannya dengan Allah, rasul yang didoakan oleh Ibrahim dari tanah Bakkah.”
Dalam tradisi Islam, keyakinan akan kedatangan seorang nabi terakhir yang dinubuatkan dalam Taurat dan Injil merupakan bagian dari pengetahuan sebagian Ahli Kitab. Beberapa riwayat shahih menunjukkan bahwa sejumlah orang Yahudi di Madinah, yang telah lama bermukim di Jazirah Arab, sering menyebut-nyebut akan datangnya seorang nabi akhir zaman, bahkan menggunakannya sebagai “ancaman” dalam perseteruan dengan suku-suku Arab setempat.
Salah satu riwayat dari Ibnu Ishaq menceritakan, orang-orang Yahudi sering berkata kepada tetangga Arab mereka (suku Aus dan Khazraj): “Sebentar lagi akan diutus seorang nabi. Kami akan mengikutinya, lalu bersamanya kami akan memerangi kalian sebagaimana kaum ‘Ād dan Iram diperangi.”
Ironisnya, ketika nabi itu benar-benar datang, ternyata dari keturunan Ismail, bangsa Arab, bukan dari Bani Israil, sehingga banyak dari orang Yahudi mereka justru menolak.
Ya begitulah, seperti yang sering disampaikan dalam Al-Qur’an, berulang kali manusia mengenal kebenaran, menunggu kebenaran, tapi menolak kebenaran saat ia tidak datang sesuai ego dan ekspektasi.
فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ
“Maka setelah datang kepada mereka (Rasul itu) dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.'” (QS Ash-Shaff: 6)
Bisa dikatakan, kebenaran sering kali sudah diumumkan jauh hari, bahkan ditunggu dengan penuh harap, namun tetap ditolak karena kesombongan dan kepentingan.
Nama Ahmad di Juz ini bisa disimpulkan sebagai pengingat bahwa risalah Nabi Muhammad adalah jawaban dari doa Ibrahim dan kabar gembira Isa. Ia bukan muncul tiba-tiba, tapi dinanti, dikabarkan, dan disiapkan.
Buat kita, kita bisa konklusi, bahwa iman kita kepada Nabi Muhammad bukan hanya pengakuan atas seorang individu, tetapi pengakuan atas penyempurnaan sebuah proyek rahmat ilahi yang bergulir sejak Ibrahim meninggalkan keluarganya di lembah Bakkah, dan yang dikabarkan oleh Isa sebagai “Ahmad”.
Wallahu a’lam.


