Negeri Tanpa Tanaman yang Rezekinya Datang dari Segala Penjuru, dan Rumah yang Dijaga Sendiri oleh Pemiliknya

Hari ke-enam belas, 30 September, Juz 30

Bismillah

Hari ini genap enam belas hari, dan separuh siklus pertama selesai. Juz 30 menutupnya dengan dua surat pendek yang isinya justru paling dekat dengan madrasah ini.

Kala itu, pandangan pertama

Badan penat. Turun dari pesawat, antre imigrasi yang panjang, menunggu koper, lalu menunggu lagi transportasi ke hotel.

Sampai di hotel, masih menunggu proses check in. Akhirnya masuk kamar.

Belum sempat benar-benar istirahat, biasanya mutawif sudah mengarahkan untuk segera menunaikan umrah pertama.

Berjalan cepat ke arah Masjidil Haram. Masuk gerbang dengan berbagai arahan dan instruksi. Naik eskalator, turun ke mataf.

Dan akhirnya bangunan hitam besar itu terlihat.

Bermandikan cahaya. Dikelilingi orang-orang yang sedang bertawaf, padat merayap. Hati selalu tertegun di momen itu.

Lalu mutawif buru-buru mengingatkan pelajaran manasik. Labbaikallahumma labbaik, dan seterusnya.

Dan kami pun bergerak.

Siapa yang dulu mengurus rumah itu

Juz 30 menyimpan dua surat pendek tentang negeri itu dan penduduknya.

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍ ۙ اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِ ۚ فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِ ۙ الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini, yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (Quraisy: 1–4)

Quraisy adalah suku yang menguasai Makkah dan mengurus Ka’bah. Mereka pedagang. Dua kali setahun kafilah mereka berangkat: ke Yaman di musim dingin, ke Syam di musim panas.

Dan mereka bisa berdagang dengan aman justru karena posisi mereka sebagai pengurus Baitullah. Kafilah mereka dihormati di sepanjang jalur. Tidak ada yang berani mengganggu.

Manasik pun mereka warisi turun-temurun dari Ibrahim dan Ismail. Tawaf, sa’i, dan kurban sudah ada sebelum Muhammad dijadikan Rasulullah. 

Tapi dalam perjalanan ribuan tahun itu banyak yang melenceng. Ka’bah dikelilingi berhala. Tawaf dilakukan dengan cara yang tidak semestinya. Nama Ibrahim tetap disebut, tapi arahnya sudah berubah.

Lalu Allah meluruskannya kembali lewat Nabi Muhammad ﷺ. Berhala dibersihkan, dan arah ibadah dikembalikan kepada Pemilik rumah.

Dan sampai hari ini negeri itu tetap mengurus kedua tanah haram, melayani jamaah dari seluruh dunia.

Kalimat kunci di surat pendek itu

Perhatikan perintahnya: falya’budu rabba hadzal bait. Hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini.

Bukan menyembah rumahnya. Bukan mengagungkan batunya.

Ini koreksi yang sangat halus tapi menentukan. Mereka sudah mengurus rumah itu turun-temurun, sudah mendapat kehormatan karenanya, sudah makmur karenanya. Yang kurang cuma satu: mereka lupa kepada Pemiliknya.

Dan nikmat yang disebut cuma dua: diberi makan saat lapar, diamankan saat takut.

Urutannya menarik. Kenyang dulu, baru aman. Padahal biasanya kita menyangka aman dulu baru bisa cari makan. Mungkin karena di lembah tanpa tanaman itu, makanan justru lebih mustahil daripada keamanan.

Dan rumah itu dijaga sendiri oleh Pemiliknya

Surat sebelumnya menceritakan apa yang terjadi ketika rumah itu hendak dihancurkan.

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِ

“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?” (Al-Fil: 1)

Ada riwayat yang terkenal tentang peristiwa ini. Ketika pasukan itu merampas unta-unta milik Abdul Muthalib, beliau datang menemui panglimanya. Yang beliau minta bukan pembatalan penyerangan, melainkan untanya dikembalikan.

Panglima itu heran. Kenapa yang diurus cuma unta, padahal rumah yang jadi kebanggaan kaumnya hendak dihancurkan?

Jawaban Abdul Muthalib kira-kira begini: aku pemilik unta ini, dan rumah itu punya Pemiliknya sendiri yang akan menjaganya.

Dan memang begitu kejadiannya.

Penjagaan yang tidak pernah berhenti

Peristiwa pasukan gajah bukan kejadian terakhir.

Tahun 1979, bertepatan dengan awal tahun 1400 Hijriah, sekelompok bersenjata menguasai Masjidil Haram dan menyandera jamaah di dalamnya. Dua pekan lamanya. Darah tumpah di tempat yang paling diharamkan untuk itu.

Dan sampai hari ini pengamanan kawasan haram bukan perkara sepele. Pertahanan udara disiagakan. Ruang udara di atas Makkah ditutup ketat selama musim haji. Ancaman drone ditangani serius, sistem penangkal dipasang mengelilingi kawasan.

O ternyata begitu. Kita yang datang sebagai jamaah cuma melihat pagar, petugas, dan antrean pemeriksaan. Padahal di atas kepala kita ada lapisan penjagaan yang tidak kelihatan sama sekali.

Kita tidak tahu persis apa yang pernah atau sedang direncanakan siapa pun terhadap tanah suci. Tapi kenyataan bahwa penjagaan sekelas itu diperlukan sudah cukup memberi tahu bahwa niat jahat terhadap tempat itu tidak pernah benar-benar hilang dari muka bumi.

Yang perlu diingat cuma satu. Abrahah datang dengan kekuatan terbesar pada zamannya. Gajah, pasukan, perlengkapan perang. Yang menghentikannya burung-burung kecil yang membawa batu dari tanah terbakar.

Ukuran kekuatan manusia tidak berlaku di hadapan Pemilik rumah itu.

Siapa pun yang merancang makar terhadap tanah suci, dengan cara apa pun dan bersama siapa pun, sebenarnya sedang berhadapan bukan dengan penjaganya, melainkan dengan Yang memiliki rumah itu. Dan janji penjagaan itu sudah dibuktikan sekali, di hadapan seluruh bangsa Arab, bertahun-tahun sebelum Nabi lahir.

Tugas kita bukan menebak siapa dan kapan. Tugas kita memastikan berdiri di sisi yang benar.

Pedagang di sekeliling masjid

Selesai umrah, kita akan didatangi orang-orang dari Pakistan atau India. Cukur-cukur, sekian riyal. Kalau setuju, mereka akan membawa kita ke tempatnya.

Sambil berjalan kita melihat para pedagang kecil menawarkan dagangan. Dan favorit mereka jelas: jamaah Indonesia.

Teriakan mereka lucu-lucu. Gus Dur, Jokowi, Prabowo, Anies. Murah murah. Oleh-oleh. Berbagai kata lain yang menarik perhatian, dilafalkan dengan logat yang bikin kita menoleh.

Mereka memang pedagang ulung sejak dahulu.

Belum lagi pedagang kaki lima di jalanan. Yang menjual siwak di pintu gerbang mal, yang menggelar oleh-oleh di trotoar, dan harus siap siaga kabur kalau petugas datang.

Sungguh negeri yang makmur dan sejahtera.

Dan itu baru lapisan paling bawah. Di atasnya ada bisnis perhotelan, restoran, minyak wangi, kedai kopi, pusat perbelanjaan, dan entah berapa lapis lagi.

Ini bukan hanya karunia minyak bumi. Ini karunia kunjungan ziarah yang nilainya miliaran dolar setiap tahun.

Tapi ada satu hal yang bikin aku takjub

Dengan semua kesibukan dagang itu, ada satu pemandangan yang tidak akan kita temukan di tempat lain.

Begitu azan berkumandang, perdagangan berhenti.

Toko-toko di dalam mal menurunkan pintunya. Restoran berhenti melayani. Pedagang kaki lima merapikan dagangannya. Lalu mereka shalat berjamaah, sebagian di depan toko masing-masing, sebagian berjalan menuju masjid.

Aku punya pengalaman yang masih nempel sampai sekarang.

Waktu itu di Madinah, kami masuk ke sebuah restoran kambing guling, selepas Maghrib menjelang Isya. Kami sudah telanjur duduk.

Pelayannya terlihat gelisah. Rupanya mereka tidak mau menerima pelanggan karena sebentar lagi Isya. Kami baru dilayani setelah shalat selesai.

Mereka pedagang. Mereka hidup dari pelanggan. Di depan mata mereka sudah ada pelanggan yang duduk, siap memesan. Tapi yang mereka pikirkan justru bagaimana caranya tidak melewatkan jamaah.

Lalu aku ingat ayat tentang orang-orang yang meninggalkan khutbah ketika melihat rombongan dagang datang. O ternyata ayat itu ada kebalikannya, dan aku sedang melihatnya langsung.

Mereka meninggalkan dagangan ketika mendengar seruan.Dan bukan karena mereka tidak butuh uang. Jelas butuh. Saingan mereka banyak sekali, dan semuanya mengincar jamaah yang sama. Melepas satu meja pelanggan itu berarti melepas rezeki hari itu.

Hanya saja urutannya tidak terbalik. Mereka mengutamakan panggilan adzan dahulu, urusan dunia belakangan.

Dan itu persis isi surat tadi

Yang aku lihat di sepanjang jalan itu sebenarnya kelanjutan dari ayat yang sudah turun ribuan tahun lalu. Negeri di lembah tanpa tanaman, yang tidak menghasilkan apa-apa dari tanahnya sendiri, tapi rezekinya datang dari segala penjuru.

Doa Ibrahim dulu persis meminta itu: jadikan negeri ini aman, dan berilah penduduknya rezeki dari buah-buahan.

Dan dikabulkan dengan cara yang tidak pernah berhenti. Dari kafilah dagang Quraisy sampai pedagang siwak di depan mal, dari unta sampai hotel bertingkat. Semuanya berputar di sekitar satu bangunan di tengah.

Pedagang yang berteriak “Jokowi, murah murah” itu sedang menerima bagiannya dari doa seorang nabi.

Perhatian dan peringatan buat aku

Tapi juz ini juga memberi peringatannya.

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُ ۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (At-Takatsur: 1–2)

Kemakmuran itu nikmat. Tapi yang paling mudah melalaikan juga kemakmuran.

Dan aku menulis ini bukan untuk pedagangnya. Aku menulis untuk diriku sendiri, yang datang ke sana sebagai tamu, lalu ikut sibuk memilih oleh-oleh, menawar harga, dan menghitung sisa riyal.

Semuanya halal. Tidak ada yang salah. Yang perlu dijaga cuma urutannya.

Quraisy diberi perjalanan dagang yang aman, lalu diperintahkan menyembah Pemilik rumah. Bukan sebaliknya.

Ingin kembali

Semoga ketika nanti kembali ke sana, aku masih bisa tertegun seperti dulu. Dan semoga yang membuat aku tertegun bukan bangunannya, tapi Pemiliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *