24 April, Juz 24

Bismillah.

Juz 24 membentang dari Az-Zumar ayat 32 sampai Fussilat ayat 46, dan intinya satu, bahwa tirani yang terlihat solid selalu punya retakan di dalam.

Hari ini retakan itu muncul di Eropa, dan menariknya datang dari dua arah yang berbeda. Spanyol bergerak lewat jalur resmi, memutus kerja sama Uni Eropa dengan Israel dan mengakui negara Palestina. Sementara di Italia, karena pemerintahnya masih bergeming, yang bergerak justru mahasiswa dan serikat buruh pelabuhan Genoa yang turun ke jalan memblokade pengiriman senjata.

Satu dari ruang rapat, satu dari dermaga. Dan Al-Qur’an ternyata punya contoh untuk keduanya.

Wa qāla rajulum mu’minum min āli fir’auna yaktumu īmānahū a taqtulūna rajulan ay yaqūla rabbiyallāhu wa qad jā’akum bil-bayyināti mir rabbikum…

“Dan berkatalah seorang laki-laki yang beriman dari keluarga (pengikut) Firaun yang menyembunyikan imannya, ‘Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, Tuhanku adalah Allah, padahal sungguh dia telah datang kepadamu membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu?’…” (QS 40:28)

Firaun punya kekuasaan mutlak, menteri-menteri yang patuh, dan militer yang ganas. Semua terlihat bulat tanpa celah. Lalu Allah menghadirkan satu orang dari lingkaran dalam istana, seorang pejabat yang selama ini menyembunyikan imannya, dan orang itu yang memecah kebulatan suara ketika rencana pembunuhan sudah hampir diketok.

Peran itu hari ini dimainkan Spanyol di dalam Uni Eropa, institusi yang selama ini didominasi sekutu kuat Israel seperti Jerman dan Republik Ceko. Langkah menembus dinding veto, mengembargo senjata, dan menuntut pembatalan Perjanjian Asosiasi itu pukulan yang telak justru karena datang dari dalam. Serapat apa pun lobi Zionis mengunci institusi global, selalu ada satu suara di ruangan yang menolak ikut mengangguk.

Cuma tidak semua orang punya kursi di dalam ruangan itu. Italia menunjukkan wajah perlawanan yang berbeda. Ketika pemerintahnya memilih diam, mahasiswa menduduki kampus-kampus di Roma dan Milan, dan para buruh pelabuhan memblokade kapal-kapal yang menyuplai mesin perang penjajah.

Innalladzīna qālū rabbunallāhu tsummastaqāmū tatanazzalu ‘alaihimul-malā’ikatu allā takhāfū wa lā taḥzanū wa absyirū bil-jannatillatī kuntum tū’adūn.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS 41:30)

Kata kuncinya tsummastaqāmū, kemudian mereka teguh. Menyatakan sikap itu mudah, bertahan pada sikap itu yang berat. Buruh dan mahasiswa itu diancam, dikriminalisasi, dan berhadapan dengan aparat negaranya sendiri, dan mereka tetap datang lagi keesokan harinya. Dua hal yang dijanjikan malaikat dalam ayat ini pas sekali dengan kebutuhan orang yang sedang berdiri di posisi seperti itu, yaitu jangan takut menghadapi yang di depan, dan jangan bersedih memikirkan yang sudah telanjur hilang.

Lalu kenapa Uni Eropa secara keseluruhan begitu lambat? Alasannya pragmatis, yaitu takut kehilangan sekutu militer dan tergantung pada pasokan energi.

Wa qāla fir’aunu yā hāmānubni lī ṣarḥal la’allī ablughul-asbāb. Asbābas-samāwāti fa aṭṭali’a ilā ilāhi mūsā…

“Dan Firaun berkata, ‘Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa…'” (QS 40:36-37)

Firaun menjawab persoalan keimanan dengan proyek konstruksi. Solusinya selalu bersifat material, karena cuma itu yang ia percayai. Negara-negara Eropa pendukung penjajah sedang membangun menara yang sama, cuma bahannya berupa kontrak senjata dan jaminan pasokan energi. Mereka mengira bangunan itu cukup untuk mengamankan masa depan. Menara Haman tidak pernah sampai ke langit, dan tidak pernah menyelamatkan siapa pun yang memerintahkan pembangunannya.

Jadi hukumnya jelas, kebenaran tidak bisa dikurung. Begitu sistem internasional lumpuh karena veto dan kepentingan sesaat, Allah membangkitkan keberanian dari dua tempat sekaligus, dari dalam istana mereka sendiri dan dari jalanan serta pelabuhan.

Hegemoni narasi yang selama ini melindungi kezaliman sudah retak dari dalam. Dan seperti akhir kisah Firaun, tirani yang sudah retak seperti itu tinggal menunggu gilirannya.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News