Perpustakaan Megah Dan Taman Hiburan Raksasa, Tapi Hati Baru Tenang Setelah Sujud

24 Maret, Juz 24

Bismillah.

Istiqamah, atau konsisten, selalu jadi salah satu pekerjaan rumah (PR) terbesar setelah berlalunya bulan suci Ramadhan. Dapatkah pelajaran menahan hawa nafsu di bulan itu kita lanjutkan di bulan-bulan setelahnya?

Tepat di awal bulan Syawal, ujian itu langsung dimulai. Dan Allah menakdirkan zona latihannya adalah safar.

Di Juz 24 hari ini, ada satu ayat yang bisa jadi acuan untuk mempertahankan konsistensi, yakni Surat Fussilat ayat 30:

Innalladzina qaalu rabbunallah thummastaqaamuu…
(Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka…)

Bagi seorang musafir di negeri yang muslimnya minoritas, ujian istiqamah itu sering hadir dalam bentuk hal-hal yang sangat mendasar, seperti menjaga isi perut dan menjaga waktu sujud.

Hati tentu terasa begitu tenang kalau kita sudah memegang “peta” di mana bisa mendapatkan makanan halal dan tempat shalat. Di pusat kota besar, akses ini relatif mudah. Tapi begitu rute perjalanan membawa kami melangkah jauh ke pinggiran kota, ujian istiqamah yang sesungguhnya baru dimulai.

Dalam hal mencari makanan halal, strategi yang aku lakukan adalah kalau memang tidak ada klaim halal yang jelas, tidak perlu memaksakan hawa nafsu menuruti keinginan makan daging-dagingan atau ayam. Cukuplah menikmati makanan laut (seafood), hidangan yang tidak digoreng dengan minyak yang meragukan, atau mencari restoran dari saudara komunitas Muslim seperti Turki, Uzbek, atau India, yang belum tentu ada atau dekat.

Menahan selera di saat safar adalah bentuk nyata menjaga ketaatan purna-Ramadhan. Dengan hati dan perut yang terjaga, mau diajak ke mana pun hari ini, entah menyusuri gua, mendaki benteng bersejarah, masuk ke mal, melihat perpustakaan megah, sampai ke taman hiburan (theme park) raksasa, langkah terasa ringan.

Hari ini, perjalanan membawa kami menelusuri jejak orang-orang terdahulu. Kami melihat megahnya sebuah benteng yang dibangun oleh seorang raja yang begitu menyayangi mendiang ayahnya, hingga ia hampir-hampir memindahkan ibu kota kerajaannya ke tempat sang ayah dimakamkan. Sebuah monumen peradaban tentang bakti seorang anak kepada orang tua.

Lalu kami juga masuk ke dalam gua bekas tambang, saksi bisu jejak penjajah yang mengeksploitasi keringat dan darah penduduk lokal di masa lampau. Tragedi eksploitasi ini sering diperingati dan dijadikan monumen agar umat manusia belajar dan tidak mengulanginya.

Tapi mencoba mencari hikmah di tempat ini justru menyisakan kegetiran. Pembelajaran sejarah umat manusia sepertinya banyak yang gagal. Di belahan bumi lain hari ini, penjajahan, penindasan, dan nafsu ekspansi teritorial, seperti yang dilakukan penjajah Israel terhadap saudara kita di Palestina, masih saja terus terjadi. Tragisnya lagi, kebrutalan itu masih punya banyak pendukung di dunia modern. Monumen sejarah nyatanya belum mampu mematikan nafsu menjajah manusia.

Hikmah lain kutemukan saat mengunjungi sebuah perpustakaan raksasa yang sangat estetik di tengah pusat perbelanjaan. Kemajuan sebuah peradaban pastilah dibangun di atas ilmu pengetahuan, yang identik dengan tumpukan buku. Memang, di era digital ini, perpustakaan megah sering kali lebih banyak didatangi sebagai objek foto, atau konten media sosial.

Tapi melihat ribuan buku ditempatkan di posisi paling terhormat di tengah mal raksasa ini tetaplah pemandangan yang menakjubkan. Ia jadi inspirasi yang mampu mengimbangi hiruk-pikuk gaya hidup dan konsumerisme di sekelilingnya.

Sambil mengagumi kemegahan ilmu pengetahuan manusia ini, aku teringat firman Allah dalam Surat Ghafir ayat 83: “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (membawa) keterangan-keterangan, mereka merasa bangga dengan pengetahuan yang ada pada mereka…”

Ayat ini hadir bukan untuk melarang kita mencintai ilmu, melainkan pengingat jangan sampai kemegahan peradaban dan pengetahuan yang kita bangun justru membuat kita merasa cukup dan luput menemukan Sang Maha Mengetahui.

Teringat ucapan UAH, ahli astronomi, kalau dikehendaki Allah SWT, akan sadar kebesaran ciptaan-Nya dan mendekatkannya kepada tauhid. Begitu juga ahli biologi, dokter, bahkan para ahli matematika. Termasuk untuk para ahli buku di perpustakaan besar ini, semoga mendapat anugerah hidayah dari-Nya.

Hari yang panjang ini akhirnya ditutup di sebuah taman hiburan raksasa. Setelah seharian berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dan sempat kesulitan mencari tempat yang pas untuk mendirikan shalat, akhirnya di sini menemukan tempat shalat. Ayem rasane atiku.

Safar hari ini mengajarkanku kesimpulan sederhana. Sehebat apa pun jejak masa lalu, secanggih apa pun perpustakaan modern, dan seseru apa pun taman hiburan dunia, hati seorang hamba hanya akan menemukan ketenangan (sakinah) sejati ketika ia masih bisa menyentuhkan keningnya ke lantai, bersujud menghadap Sang Pencipta.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News