Tanggal 24, Juz 24
Teringat banyak cerita kenapa seorang pendosa akhirnya tersimpuh di hadapan kebenaran ajaran Islam. Karena Allah mengajarkan bahwa semua dosa masih punya jalan taubatnya.
Awal juz ini adalah lanjutan Surat Az-Zumar, dimulai ayat ke 32.
Surat Az-Zumar (kelompok-kelompok) secara umum berbicara tentang tauhid dan bagaimana kita nanti akan dikumpulkan dalam rombongan-rombongan menuju either ke surga atau ke neraka. Di dalamnya ada dialog-dialog dengan malaikat penjaga, dan gambaran tentang akhir perjalanan manusia, dan beberapa pesan lain.
Di ayat ke 53, terselip ayat tentang titik harapan tertinggi. Harapan bagi orang yang merasa sudah terlalu banyak dosa, namun ingin kembali, yaitu taubat.
Ayat taubat ini diawali dengan panggilan yang sangat lembut.
Ya ‘ibadi.
Bunyi ayatnya begitu menenangkan.
“Katakanlah wahai Muhammad, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”.
Mengapa Allah menggunakan kata ibadi atau hamba-hamba-Ku.
Padahal yang dipanggil adalah mereka yang sudah melampaui batas, berlumuran dosa, bahkan menyakiti dirinya sendiri.
Allah tidak memanggil mereka dengan sebutan pendosa. Tidak juga dengan sebutan orang rusak. Allah tetap memanggil mereka sebagai hamba-Nya.
Kamu mungkin merasa rusak. Kamu mungkin merasa terlalu jauh. Kamu bahkan mungkin merasa Allah tidak lagi menerima. Tapi status itu tidak berubah. Kamu tetap hamba-Ku.
Ini adalah undangan pulang bagi jiwa yang merasa sudah tidak punya jalan kembali, yang artinya ampunan dan rahmat Allah tetap terbuka.
Jika taubat kita ibaratkan sebagai sebuah rumah tempat kita berlindung dan memulihkan diri, maka ayat Az-Zumar 53 ini adalah puncaknya, atap rumah taubat.
Lalu apa saja bagian di bawahnya.
Pertama, pondasi. Kerendahhatian Adam. Dalam QS Al-Baqarah ayat 37, Nabi Adam tidak menyalahkan takdir. Ia mengakui kesalahan dan menerima kalimat taubat dari Allah. Inilah pondasi taubat. Kejujuran pada kelemahan diri dan kesadaran bahwa kita butuh Allah untuk bangkit.
Kedua, pagar. Urgensi waktu. Dalam QS An-Nisa ayat 17 dan 18, Allah mengingatkan bahwa taubat memiliki batas waktu. Tidak bisa ditunda sampai ajal datang. Pagar ini menjaga kita agar segera kembali setiap kali tergelincir, sebelum pintu tertutup oleh waktu.
Ketiga, dinding. Komitmen nasuha. Dalam QS At-Tahrim ayat 8, taubat bukan hanya penyesalan, tapi keputusan untuk berubah. Dinding ini melindungi agar kita tidak mudah kembali ke kebiasaan lama yang merusak.
Keempat, jendela. Transformasi energi. Dalam QS Al-Furqan ayat 70, Allah menjanjikan bahwa dosa yang ditaubati akan diubah menjadi kebaikan. Cahaya ini membuat rumah taubat tidak gelap. Kita tidak hidup dihantui masa lalu, tapi bergerak menebusnya dengan amal saleh.
Kelima, atap. Rahmat tanpa batas. Kembali ke QS Az-Zumar ayat 53. Sebesar apa pun badai kesalahan di luar, selama kita berada di bawah atap rahmat Allah, kita aman. Pesannya satu. Jangan pernah berputus asa.
Sebagai penutup, mungkin kita merasa belum punya dosa sebesar gunung, sehingga merasa belum butuh rumah ini. Padahal taubat sejati bukan hanya untuk pelaku dosa besar. Buat kita-kita, taubat adalah mekanisme penjagaan diri. Kesadaran untuk selalu waspada dan kembali.
Kita belajar dari Nabi Adam bahwa jatuh itu manusiawi. Tapi tetap tersimpuh di depan pintu Allah adalah kemuliaan.
Dengan memahami struktur ini, kita tahu ke mana harus melangkah saat tersesat. Kita tidak lagi takut pada masa lalu, karena kita tahu, di atas kepala kita selalu ada atap rahmat Allah.
Wallahu a’lam.
