Hari ini masuk Juz 8.
Setelah kemarin di Juz 7 memahami kenapa dan bagaimana mengurangi gangguan dari “mainan dunia” (gadget/distraksi), hari ini Allah mengajak kita membuang racun yang jauh lebih mematikan. Racun ini tidak ada di tangan, tapi di dalam hati.
Di Juz 8 (Surat Al-A’raf), ada drama kejatuhan Iblis.
Menurut para ahli tafsir, sebelum diusir, Iblis adalah golongan Jin yang level ibadahnya luar biasa. Dalam banyak riwayat tafsir disebut, saking taatnya, ia bisa bergaul di level para Malaikat. Ribuan tahun sujud, tidak ada sejengkal tanah pun di langit yang luput dari sujudnya.
Tapi, semua prestasi ribuan tahun itu hangus dalam sedetik hanya karena satu kalimat:
قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ “Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya (Adam), Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)
Penyakit “Ana Khairum Minhu” (Aku lebih baik) inilah yang sedang dibahas dan harus dihilangkan.
Sebagai buruh korporat, karakter Iblis ini bisa jadi ditiru tanpa sadar. Ada yang merasa paling senior, anti-kritik dari junior, “Kamu anak kemaren sore tahu apa?”, atau merasa kantor akan runtuh tanpa dirinya.
Banyak juga pengusaha atau politikus yang merasa paling hebat, meremehkan aturan, konsumen, regulator karena capaian nilai proyeknya dan betapa dia bisa mengatur berbagai pihak. Sampai-sampai meniru ucapan Karun, “Saya pintar atur sana-sini”, bukan karena “Allah mudahkan”.
Hati-hati. Itu adalah bibit kejatuhan. Kompetensi setinggi langit (seperti Iblis) akan hancur jika pondasinya adalah kesombongan.
Lalu, bagaimana dengan konsep berlomba dalam kebaikan? Bukankah kita disuruh Fastabiqul Khairat?. Betul, namun harus dipahami ada beda tipis tapi fatal.
Fastabiqul Khairat, fokusnya ke Allah. “Ya Allah, aku ingin amal ini lebih baik agar Engkau makin ridha.” Jadi sibuk memperbaiki diri sendiri.
Kalau ego/sombong, fokusnya ke orang lain. “Aku harus lebih hebat dari Si Fulan kan aku lulusan ini, dan kan cuma itu, pantaslah aku lebih wah.” Kita sibuk membandingkan dan merendahkan.
Persiapan Ramadhan yang sejati adalah Meng-nol-kan Diri.
Sama seperti gelas, jika isinya penuh dengan ego, air rahmat Allah tidak akan bisa masuk. Gelas itu harus kosong dulu.
Mari buang racun “Si Paling” ini.
Mari masuk ke Ramadhan nanti bukan dengan mental Hero (merasa jagoan ibadah), tapi dengan mental Zero (hamba pendosa yang butuh ampunan).
Hanya yang rendah hati yang akan ditinggikan.
Wallahu a’lam.
