14 April, Juz 14
Bismillah.
Juz 14 mengambil Al-Hijr ayat 1 sampai An-Nahl ayat 128, dan pembahasannya turun satu lapis lebih dalam dari kemarin. Juz 13 menjelaskan kenapa kezaliman terlihat dibiarkan. Hari ini yang dibongkar akar psikologisnya, yaitu apa yang membuat para penindas merasa aman-aman saja.
Kesimpulan awalnya sudah membuatku diam sebentar. Sebuah peradaban tidak mulai runtuh ketika diserang, melainkan ketika merasa mustahil dihancurkan.
Wa kānū yanḥitūna minal-jibāli buyūtan āminīn.
“Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (dengan harapan) untuk menjadi tempat tinggal yang aman.” (QS 15:82)
Ayatnya bicara tentang kaum Tsamud, tapi polanya berlaku untuk siapa saja. Bayangkan levelnya. Mereka tidak membangun rumah lalu memasang pagar, mereka memahat gunung batu dan tinggal di dalamnya. Untuk ukuran zaman itu, tidak ada sistem keamanan yang lebih meyakinkan. Dan ketika ketetapan Allah datang, gunung sekokoh itu pun tidak menolong siapa pun di dalamnya.
Pola yang sama berulang pada Bani Israel. Mereka merasa terlindungi oleh benteng, kekuatan ekonomi, dan posisi politik. Padahal rasa aman yang tidak berdiri di atas ketaatan sebenarnya cuma penundaan.
Tabiat kedua yang selalu muncul menjelang keruntuhan adalah kebiasaan mengolok-olok kebenaran.
Wa mā ya’tīhim mir rasūlin illā kānū bihī yastahzi’ūn.
“Dan tidak datang seorang rasul pun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS 15:11)
Innā kafaynākal-mustahzi’īn.
“Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan.” (QS 15:95)
Istihza’ itu bukan sekadar bercanda atau menyindir. Ini bentuk kesombongan intelektual, ketika kebenaran tidak lagi dilawan dengan argumen, melainkan dihina, dipelintir, dan dibuat terlihat tidak relevan. Cara ini lebih efektif daripada berdebat, karena orang tidak perlu berpikir untuk ikut menertawakan sesuatu. Dalam sejarah, tahap ini selalu jadi penanda akhir. Dan jaminannya jelas, Allah sendiri yang akan mengurus para pengolok itu.
Semuanya lalu dirangkum dalam satu perumpamaan yang menurutku paling keras di sepanjang juz ini.
Wa ḍaraballāhu maṡalan qaryatan kānat āminatam muṭma’innatan ya’tīhā rizquhā raghadam ming kulli makānin fa kafarat bi an’umillāhi fa adzāqahallāhu libāsal-jū’i wal-khaufi bimā kānū yaṣna’ūn.
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS 16:112)
Negeri itu tadinya lengkap, aman, tenteram, rezekinya datang dari segala penjuru. Begitu nikmat itu dipakai untuk kesombongan dan kezaliman, semuanya dicabut pelan-pelan. Yang aman berubah jadi ketakutan, yang lapang berubah jadi sempit.
Pilihan katanya yang membuatku merinding, yaitu libās, pakaian. Lapar dan takut itu tidak digambarkan sebagai musibah yang datang sesekali, tapi sebagai sesuatu yang melekat di badan dan membungkus hidup mereka dari segala arah. Ke mana pun pergi, tetap terbawa.
Juz ini ditutup dengan pengingat tentang hari Sabat di An-Nahl ayat 124, yang menegaskan lagi bahwa aturan-aturan berat yang menimpa Bani Israel bukan datang tiba-tiba, melainkan lahir dari pembangkangan dan perselisihan mereka sendiri.
Benang merahnya jelas. Masyarakat yang terus membangkang, mengolok kebenaran, dan menyalahgunakan nikmat sedang mengundang sendiri penyempitan hidup, ketakutan bersama, dan runtuhnya sistem mereka.
Dan retakan itu sekarang bukan lagi teori.
Inggris mulai menjaga jarak dan menolak terlibat dalam skenario blokade Hormuz bersama Amerika, tanda bahwa sekutu terdekat pun sudah menghitung ulang risikonya. Spanyol melangkah lebih jauh dengan mengusir perwakilan Israel dari forum koordinasi, jadi tekanannya sudah masuk ke ranah diplomatik terbuka. Di Italia yang berubah bukan cuma kebijakan, tapi juga bahasa publiknya. Media-media di sana makin vulgar mengkritik Israel, sesuatu yang dulu hampir tidak pernah terjadi.
Sementara itu kesombongannya justru makin telanjang. Presiden Amerika Donald Trump terang-terangan mengolok simbol agama, melempar kritik ke Paus, bahkan membuat karikatur dirinya sendiri sebagai Yesus. Istihza’ sudah naik pangkat, dari kelakuan orang per orang menjadi budaya di level kekuasaan, ketika hal-hal yang disakralkan orang banyak tidak lagi dianggap perlu dihormati.
Semuanya menunjuk ke arah yang sama, bahwa rasa aman itu mulai retak dari dalam. Dukungan yang dulu terlihat kokoh perlahan mengendur, dan sekutu tidak lagi sepenuhnya setia. Kalau ilusi kekuatan sudah pecah, sejarah menunjukkan yang tersisa cuma ketakutan yang membungkus mereka dari segala arah, persis seperti pakaian tadi.
Kekuasaan yang dibangun di atas rasa aman palsu tidak akan pernah benar-benar aman. Ia cuma sedang menunggu gilirannya.
Wallahu a’lam.
