Hari ketujuh, 21 September, Juz 21

Bismillah

Ada satu ayat di juz ini yang hampir pasti pernah kita dengar dilantunkan di acara walimah. Biasanya dibacakan sebelum akad, atau tertulis di undangan pernikahan.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

Karena terlalu sering didengar di pesta pernikahan, ayat ini kadang terasa seperti hiasan. Padahal di dalamnya ada tiga kata yang, kalau dipahami, bisa jadi bekal seumur hidup. Termasuk bekal perjalanan ke tanah suci.

Labbaik, berdua

Kalau perjalanan ke Haramain adalah untuk kerinduan, untuk menjawab panggilan, untuk diperjalankan, maka ada satu kalimat yang diucapkan berulang-ulang sejak dari miqat:

لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ لَبَّيْكَ

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku datang.”

Alangkah indahnya kalau kalimat itu diucapkan sambil ditemani sang terkasih.

Berdiri di miqat bersama, berniat bersama, berjalan menuju Baitullah bersama. Dua orang yang sama-sama menjawab panggilan yang sama.

Membayangkan sebuah keluarga

Sambil bermanasik, sulit untuk tidak membayangkan satu keluarga yang menjadi asal-usul ibadah ini: Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail.

Seorang ayah yang meninggalkan istri dan bayinya di lembah tanpa tanaman. Seorang ibu yang bertanya kepada suaminya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu?” Ketika Ibrahim menjawab ya, Hajar berkata, “Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.” Lalu seorang anak yang tumbuh menjadi anak saleh, yang kelak ikut membangun Ka’bah bersama ayahnya.

Di Arafah juga ada Jabal Rahmah, bukit kasih sayang, yang oleh banyak jamaah dikunjungi dan sering dikaitkan dengan kisah pertemuan kembali Adam dan Hawa. Riwayatnya populer, meski tidak semuanya kuat. Tapi namanya sendiri sudah cukup jadi pengingat: kasih sayang adalah bagian dari perjalanan ini.

Tiga kata yang sering disatukan

Ustadz Adi Hidayat pernah menjelaskan tiga kata di ayat tadi dengan cara yang membuat aku berhenti lama.

Sakinah adalah ketenangan yang didapatkan setelah badai berlalu.

Bukan ketenangan karena tidak pernah ada masalah. Tapi ketenangan yang datang sesudah melewati masalah. Seperti laut yang tenang setelah ombak besar. Artinya keluarga sakinah bukan keluarga tanpa badai, tapi keluarga yang sudah melewati badai dan tetap bersama.

Dan Hajar adalah contohnya. Ditinggal di lembah kosong, kehabisan air, bayinya menangis kehausan. Badainya nyata. Tapi yang keluar dari mulutnya justru kalimat paling tenang: Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.

Mawaddah adalah kasih sayang yang tumbuh karena ada tanggung jawab yang dijalankan. Ustadz Adi Hidayat mengaitkannya dengan ayat ini:

اَلرِّجَالُ قَوّٰمُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.” (An-Nisa: 34)

Kasih sayang yang tumbuh bukan cuma dari rasa, tapi dari peran yang ditunaikan. Suami yang melindungi, yang menafkahi, yang memikul tanggung jawab. Dari situ mawaddah tumbuh.

Rahmah adalah kasih sayang yang abadi. Yang tetap ada ketika gejolak masa muda sudah reda, ketika tubuh mulai lemah, ketika satu sama lain lebih banyak saling membutuhkan daripada saling mengagumi.

Dilatih di tanah air

Di hari keempat aku menulis tentang gesekan kecil di umrah kedua. Soal rute ke masjid, soal pilihan tempat. Aku terlalu memaksakan caraku kepada istriku.

Juz 21 ini memuat nasihat Luqman kepada anaknya, dan salah satunya terasa seperti ditujukan kepadaku waktu itu:

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ

“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 19)

Sederhanakan langkah. Lunakkan suara.

Kalimat itu nasihat seorang ayah kepada anaknya. Tapi di tanah suci, dengan badan lelah, cuaca panas, jarak yang jauh, dan jadwal yang padat, nasihat itu justru paling dibutuhkan di antara suami dan istri.

Dan itu tidak bisa dipelajari mendadak di sana. Kalau di rumah sudah terbiasa mendengar, mengalah, dan melunakkan suara, maka di tanah suci kebiasaan itu yang akan keluar. Kalau di rumah terbiasa memaksakan cara, di sana pun sama.

Diuji di tanah suci

Juz ini juga memuat ayat tentang Makkah sebagai tanah yang aman:

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا اٰمِنًا وَّيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ

“Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia di sekitarnya saling merampok?” (Al-Ankabut: 67)

Tanah suci itu aman. Tapi ketenangan di dalam rumah tangga tidak otomatis ikut terbawa hanya karena kita berada di tanah yang aman.

Justru di sana ujiannya terasa. Karena di sana tidak ada rutinitas yang biasanya memisahkan kita. Tidak ada kantor, tidak ada urusan masing-masing. Berdua terus, dua puluh empat jam, di tempat asing, dalam keadaan lelah. Semua yang selama ini tertutup oleh kesibukan akan kelihatan.

Maka sakinah yang sesungguhnya diuji di sana. Apakah ketenangan kita cukup kuat untuk melewati badai-badai kecil: tersesat, kelelahan, beda pendapat soal jadwal, antrean panjang, suara yang meninggi karena capek.

Dan dipraktikkan sepulang kembali

Yang paling penting justru setelah pulang.

Dilatih di tanah air. Diuji di tanah suci. Dan dipraktikkan yang terbaik sepulang kembali.

Karena madrasah haji dan umrah bukan cuma untuk pribadi. Keluarga Ibrahim sendiri adalah keluarga. Yang diabadikan dalam ibadah ini bukan seorang nabi yang berjalan sendiri, tapi seorang ayah, seorang ibu, dan seorang anak, yang masing-masing menjalankan perannya dengan taat.

Kalau pulang dari tanah suci rumah tangga kita tidak berubah menjadi lebih tenang, lebih lembut, dan lebih saling mengerti, mungkin yang kita bawa pulang baru foto dan oleh-oleh.

Sebagai penutup

Ayat yang dilantunkan di walimah itu ternyata bukan penutup cerita pernikahan, tapi pembukanya.

Sakinah itu tenang setelah badai. Mawaddah tumbuh dari tanggung jawab yang ditunaikan. Rahmah adalah yang tersisa ketika segalanya sudah lewat.

Dan semoga suatu saat kami bisa mengucapkan labbaik lagi, berdua. Dengan langkah yang lebih sederhana, dan suara yang lebih lunak dari sebelumnya.

Apakah kamu juga punya cerita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News