Tanggal 13, Juz 13
Kemarin sudah disampaikan bahwa Surat Yusuf adalah kisah terbaik yang Allah SWT hadirkan untuk menghibur Nabi Muhammad di masa paling berat dalam hidupnya. Kisah panjang tentang bagaimana Allah membentuk pribadi seorang manusia sedikit demi sedikit.
Di Juz 13, kita melihat bahwa keindahan kisah Nabi Yusuf bukan hanya pada alurnya, tapi pada akhlaknya.
Berikut sembilan akhlak Nabi Yusuf yang terasa sangat manusiawi dan relevan untuk ditiru.
1. Jujur apa adanya.
Sejak kecil Nabi Yusuf adalah anak yang jujur dan apa adanya. Kejujuran itu justru memicu kecemburuan saudara-saudaranya.
2. Sabar saat dizalimi, bukan reaktif
Dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara. Tidak ada satu pun adegan Yusuf membalas atau meluapkan dendam.
3. Menjaga diri saat godaan datang
Godaan terbesar datang saat Yusuf muda, sendirian, dan punya peluang karena pesonanya. Tapi kalimat yang keluar justru, “aku berlindung kepada Allah.”
4. Memilih penjara daripada mengkhianati nurani
Yusuf lebih memilih dipenjara daripada menuruti ajakan dosa. Ia tidak mencari pembenaran.
5. Tetap berbuat baik dimana pun.
Di penjara, Yusuf tidak tenggelam dalam keluhan. Ia membantu orang lain, menafsirkan mimpi, dan berdakwah dengan tenang.
6. Menjaga integritas sebelum menerima jabatan
Saat raja ingin membebaskannya, Yusuf tidak langsung keluar. Ia meminta kebenaran dibuka terlebih dahulu agar nama baik dan integritas dibuka apa adanya.
7. Mengambil amanah untuk menjaga, bukan berkuasa
Ketika Yusuf menawarkan diri, ia tidak bicara soal kuasa, tapi soal kemampuan menjaga umat dan menggunakan ilmunya untuk kebaikan umat.
8. Memaafkan saat berkuasa
Saat saudara-saudaranya berdiri lemah di hadapannya, Yusuf memilih memaafkan tanpa mencela.
9. Rendah hati di akhir perjalanan hidup
Di akhir kisah, Yusuf tidak merayakan keberhasilannya. Ia justru berdoa agar diwafatkan dalam keadaan muslim dan digabungkan dengan orang-orang shalih.
Itulah mengapa kisah Nabi Yusuf disebut ahsanul qashash, karena kisah tersebut menunjukkan bagaimana Allah membentuk manusia yang utuh, bermula dari luka, godaan, kesabaran, sampai akhirnya mendapat kemuliaan.
Wallahu a’lam.
