19 April, Juz 19

Bismillah.

Juz 19 mengambil Al-Furqan ayat 21 sampai An-Naml ayat 55, dan namanya sendiri sudah jadi kuncinya. Al-Furqan berarti sang pembeda, yang memisahkan mana yang benar dan mana yang batil.

Yang menarik, pemisahan itu ternyata tidak selalu bekerja lewat argumen atau pembuktian di pengadilan. Kadang caranya jauh lebih sederhana, yaitu dengan membiarkan pelakunya sendiri yang membuka kedoknya.

Kemarin aku menulis soal sampul L’Espresso, tentara yang menyeringai sambil memvideokan seorang perempuan Palestina yang ketakutan. Hari ini muncul lagi satu peristiwa yang polanya sama. Foto dan laporan yang sudah dikonfirmasi dari Dibil, sebuah desa di Lebanon Selatan, memperlihatkan seorang tentara Israel menghancurkan patung Yesus Kristus dengan palu.

Keduanya bukan ulah oknum yang khilaf. Keduanya dikerjakan sadar, dengan santai, dan yang paling penting, dengan sengaja direkam.

Laqadistakbarū fī anfusihim wa ‘atau ‘utuwwan kabīrā.

“…Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka sendiri dan mereka telah melampaui batas dalam kezaliman.” (QS 25:21)

Frasa ‘utuwwan kabīrā menggambarkan kesombongan yang sudah lewat batas. Dan puncak dari kesombongan semacam itu bukan ketika kejahatan dilakukan diam-diam, melainkan ketika kejahatan itu sudah tidak perlu disembunyikan lagi. Difoto, divideokan, kadang diunggah sendiri.

Justru kesombongan itulah yang jadi alat Allah untuk menelanjangi mereka. Orang yang masih punya rasa takut akan berusaha menutupi jejaknya. Yang merasa tak tersentuh tidak lagi merasa perlu.

Menghancurkan patung yang disucikan umat lain, atau menjadikan ketakutan seorang perempuan sebagai bahan tontonan, itu bukan sekadar pelanggaran aturan perang. Itu tanda ada yang mati di dalam dada.

In hum illā kal-an’āmi bal hum aḍallu sabīlā.

“…Mereka itu tidak lain hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.” (QS 25:44)

Perbandingannya keras, dan bagian terakhirnya yang paling menohok. Bahkan lebih sesat. Hewan ternak setidaknya bergerak sesuai fitrahnya dan tidak pernah menikmati penderitaan makhluk lain. Manusia yang hatinya sudah tertutup kesombongan dan kebencian bisa turun lebih rendah dari itu. Jadi ini bukan sekadar konflik politik yang bisa diselesaikan di meja perundingan, melainkan krisis cara memandang sesama manusia.

Dan semua pameran itu pada akhirnya menghancurkan bangunan yang mereka rawat bertahun-tahun.

Unẓur kaifa ḍarabū lakal-amṡāla fa ḍallū fa lā yastaṭī’ūna sabīlā.

“Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan, lalu mereka tersesat dan tidak mampu menemukan jalan.” (QS 25:9)

Bertahun-tahun mereka menyusun narasi untuk mengatur cara dunia memandang mereka. Setiap tuduhan punya bantahan yang sudah disiapkan, setiap kritik punya label balasannya. Tapi narasi hanya sanggup bekerja selama realitasnya tidak bisa dilihat langsung. Begitu orang bisa menyaksikan sendiri, seluruh susunan kata itu kehilangan daya.

Reaksi mereka yang berlebihan terhadap satu sampul majalah atau satu foto dari desa kecil di Lebanon justru menunjukkan kegelisahan itu. Citra yang dijaga puluhan tahun mulai retak, dan mereka tahu persis retakannya ada di mana.

Begitulah Al-Furqan bekerja. Ia memisahkan tanpa perlu berdebat, cukup dengan membiarkan segalanya terlihat apa adanya.

Ketika kesombongan sampai di puncaknya, ia berhenti menutupi dan mulai memamerkan. Dan pada saat itulah kebenaran menjadi terang benderang bagi siapa pun yang nuraninya masih hidup.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News