Ternyata Cara Nabi Ya’qub dan Nabi Ibrahim Mendekati Anaknya Sangat Berbeda

13 Maret, Juz 13

Bismillah.

Pagi tadi begitu tiba di lobi gedung kantor, aku lihat rekan kantor baru didrop di lobi. “Diantar siapa?” tanyaku. “Istri,” jawabnya. Aku spontan bertanya, “Bukannya rumah lumayan jauh dari kantor?”

Ia tersenyum lalu menjawab ringan, “Justru di perjalanan itu kami bisa ngobrol panjang. Itu jadi momen komunikasi dengan istri. Jadi apalah arti jauh.” (Sapaan singkat dengan rekanku Agam)

Bener juga ya.

Aku jadi teringat momen sahur tadi pagi di rumah. Kami dan anak-anak sempat ngobrol cukup panjang di meja makan. Obrolannya sederhana: tentang ayah yang bikin protein shake yang terlalu kental, tentang target hafalan Al-Qur’an si Kakak, sampai beberapa target kecil lainnya.

Jam 6 pagi lanjut antar Nomor Dua ke sekolah. Sementara si Bungsu yang biasanya ikut ayah juga diantar Bunda, karena ayah hari ini harus sampai kantor lebih awal.

Perjalanan singkat di dalam mobil itu sering jadi golden moment untuk membangun hubungan dengan anak-anak. Di mobil biasanya mereka lebih santai bercerita, tentang teman, tentang sekolah, atau keluh kesah kecil yang mungkin tidak muncul di rumah. Termasuk tentang musik kesukaan. Aku yang dulu penggemar Guns ‘n Roses dan Metallica, sekarang harus belajar menikmati K-pop, ya supaya tetap nyambung dengan anak.

Momen-momen di atas bikin aku pengin angkat kisah di Juz 13. Kisah dua orang ayah yang hebat, Nabi Ya’qub di Surat Yusuf dan Nabi Ibrahim di Surat Ibrahim. Sosok ayah-ayah yang sangat keren dan mulia, karena akhlak dan cara parentingnya dikisahkan di dalam Al-Quran.

Kisah pertama, kedekatan tanpa sekat, Nabi Ya’qub di Surah Yusuf.

Ingat kan, ahsanul qosos, kisah ini disebut sebagai kisah terbaik oleh Allah SWT. Jauh sebelum ujian perpisahan dengan Yusuf datang, Ya’qub sudah membangun ruang aman bagi anaknya untuk bercerita. Di awal kisah Yusuf (Juz 12), Yusuf kecil berlari kepada ayahnya untuk menceritakan mimpinya melihat bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Yusuf tahu, ayahnya adalah pendengar terbaik yang tidak akan menghakiminya.

Fondasi komunikasi dan kedekatan dengan Yusuf itu yang membuat Ya’qub, sebagaimana dikisahkan di Juz 13, tetap bertahan. Saat ia sudah tua renta, buta karena menangis, dan dikhianati oleh anak-anaknya yang lain karena membuang Yusuf dan berbohong, Ya’qub tidak lantas memutus komunikasi. Ia tetap memberikan proteksi dengan menasihati anak-anaknya saat hendak ke Mesir:

“Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda…” (QS. Yusuf: 67).

Di hadapan anak-anaknya, ia menancapkan harapan, “Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf: 87). Tapi saat sendirian, ia mengajarkan ke mana seharusnya kesedihan itu dialamatkan:

“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesedihan dan dukaku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86).

Ketegaran Nabi Ya’qub berbuah happy ending, dipertemukan lagi dengan anak kesayangannya, Yusuf.

Kisah kedua, keterikatan jarak jauh, Nabi Ibrahim di Surah Ibrahim.

Kalau Ya’qub berkomunikasi secara fisik, Ibrahim mengajarkan bentuk kedekatan level berikutnya. Beliau harus meninggalkan istri dan anak bayinya di lembah tandus Makkah demi ketaatan.

Dalam Shahih Bukhari dicatat, Hajar sempat mengejar dan bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu meninggalkan kami di sini?” Ketika Ibrahim mengiyakan, Hajar menjawab tenang, “Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami.” Kepercayaan Hajar yang luar biasa itu pasti lahir dari sosok suami yang selalu berkomunikasi dengan baik sebelumnya.

Ibrahim juga tidak lepas tangan setelah menjauh. Di Juz 13 ini, terekam doa Ibrahim yang sangat panjang, ia menyambung “komunikasi jalur langit” untuk anak dan istrinya:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati… maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka…” (QS. Ibrahim: 37).

Bahkan ia mendoakan visi jangka panjang untuk keluarganya:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Secara fisik pun, Ibrahim tetap mengusahakan hadir. Shahih Bukhari juga mencatat momen indah bertahun-tahun kemudian, ketika Ibrahim jauh-jauh datang dari Syam ke Makkah hanya untuk menengok kondisi rumah tangga Ismail, sampai memberikan pesan kiasan agar Ismail “mengganti palang pintu rumahnya” demi kebaikan pernikahan sang anak.

Hasil dari komunikasi vertikal (doa) dan horizontal (perhatian) ini sungguh dahsyat. Ketika di kemudian hari turun ujian terberat untuk menyembelih Ismail, sang anak tanpa ragu menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (QS. As-Saffat: 102). Ketaatan super itu tidak lahir tiba-tiba, ia lahir dari trust yang dibangun sang ayah bertahun-tahun meski terpisah jarak.

Dari dua kisah ini, aku belajar satu hal penting. Menjadi ayah bukan sekadar urusan mentransfer uang belanja atau membayar uang sekolah, tapi seni menjaga keterhubungan dengan anak-anak.

Kadang wujudnya lewat obrolan ringan dan menjadi pendengar yang baik di mobil atau meja makan, seperti Ya’qub. Dan ketika jarak atau kesibukan memisahkan fisik kita, keterhubungan itu dijaga lewat panjatan doa yang spesifik menyebut nama mereka, seperti Ibrahim.

Mungkin benar kata temanku pagi tadi. Kadang jarak bukan masalah. Yang penting, apakah kita menyediakan ruang untuk berbicara dengan mereka, dan mau mendengarkan ketika mereka berbicara kepada kita.

Semoga Ramadhan ini melatihku jadi ayah yang bisa selalu hadir untuk anak dan istriku, dan tak pernah putus mendoakan mereka kepada Yang Maha Mendengar.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News