22 Maret, Juz 22
Bismillah.
Lebaran sering identik dengan mudik, silaturahmi, atau liburan. Perjalanan menyambut lebaran yang lebih dari 80 kilometer sudah masuk kategori safar. Orangnya disebut musafir.
Tapi kali ini aku ingin memaknainya sedikit lebih dalam. Safar bukan sekadar berpindah tempat. Safar bagian dari proses belajar, untukku dan juga untuk keluargaku.
Kenapa harus safar? Karena dengan safar, aku dan anak-anak tidak hanya melihat dunia dari buku atau layar. Kami bisa melihat langsung keanekaragaman alam, manusia, budaya, cara hidup, bahkan bagaimana sebuah negara diatur. Kami belajar bahwa dunia ini luas, kualitas manusia itu beragam, dan ada banyak hal yang bisa jadi cermin untuk memperbaiki diri.
Semua itu, kalau disadari, bagian dari tadabbur ayat-ayat Allah yang terhampar di muka bumi. Al-Qur’an sendiri mengarahkan kita untuk berjalan dan mengamati. Tepat di Juz 22 yang kubaca hari ini, Surah Fatir ayat 44 mengingatkan:
Awa lam yasiruu fil ardhi fayandhuruu kaifa kaana aaqibatulladzina min qablihim…
(Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka…)
Safar ternyata bukan sekadar “melihat”, tapi juga “belajar membaca”, membaca ayat-ayat Allah yang terhampar, membaca tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan membaca jejak sejarah umat terdahulu.
Tapi realitanya safar tidak selalu indah. Rasulullah bersabda, “As-safaru qit’atun min al-‘adzab”, safar itu bagian dari ujian (HR Bukhari), karena ia memisahkan seseorang dari kenyamanan makan, minum, dan istirahatnya. Maka wajar kalau dalam safar ada banyak kerepotan, dan kerepotan itu sudah terasa bahkan sejak awal.
Sejak perencanaan mau safar ke mana, kami sekeluarga sudah mulai repot. Menentukan tujuan, budget, waktu, perlengkapan, bawaan, dan banyak hal lainnya. Lalu masuk ke hal yang lebih teknis, Ayah mulai “nyerocos” soal strategi detail: kapan status shalat berubah dari mukim jadi musafir, bagaimana mengatur waktu shalat di perjalanan panjang, sampai praktik fiqih seperti mengusap sepatu saat wudhu di tempat yang sempit.
Bunda juga tidak kalah sibuk dengan persiapan yang sangat detail dan penting, seperti peralatan istinja di tempat yang mungkin tidak ada air, menjaga kebersihan, sampai memastikan semua tetap sesuai syariat.
Kok repot ya? Iya. Belum lagi ketidakpastian yang datang bertubi-tubi, seperti mengejar waktu transit, kurang tidur, antrean panjang, perbedaan bahasa, mencari makanan halal, dan berbagai hal kecil yang sebelumnya terasa sepele.
Di situlah safar mulai mendekati maknanya sebagai “ujian”, sebuah “kerempongan” yang ternyata mendidik. Dan dari semua kerepotan itu, ternyata ada satu hal yang paling sering diuji, yaitu ego.
Ada yang lebih cepat lelah, ada yang lebih cepat lapar. Ada yang ingin ke sini, ada yang ingin ke sana. Kadang aku merasa benar, kadang anak-anak merasa lebih tahu. Pengin foto dulu, pengin foto nanti.
Di rumah, masing-masing punya ruang sendiri. Di perjalanan, semuanya menyatu dalam satu ritme yang harus disepakati. Safar melatih kami untuk mengalah, untuk mendengarkan, dan untuk tidak memaksakan kehendak. Ini madrasah manajemen ego yang tidak terduga. Rasulullah mengajarkan bahwa orang yang paling kuat bukanlah yang pandai bergulat, tapi yang mampu menahan dirinya saat marah. Di perjalanan, ujian itu datang berulang kali.
Beda dengan di rumah, kita sering merasa mampu. Kita tahu arah, tahu sistem, tahu tempat ibadah, dan merasa memegang kendali. Tapi begitu keluar dari zona itu, rasa “mampu” itu pelan-pelan runtuh.
Aku jadi semakin memahami satu ayat di Juz 22 hari ini, juga dari Surah Fatir ayat 15:
Yaa ayyuhan naasu antumul fuqaraa’u ilallah, wallahu huwal ghaniyyul hamid.
(Wahai manusia, kamulah yang sangat membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji).
Di perjalanan ini, kata fuqara itu terasa sangat nyata, bukan sekadar konsep. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kefakiran manusia kepada Allah tidak hanya soal rezeki. Kita butuh Allah dalam segala hal, untuk ada, untuk dijaga, untuk diberi petunjuk, bahkan untuk memahami apa yang benar.
Di perjalanan ini, semua kebutuhan itu terasa, dari sekadar mencari arah, sampai rasa aman di negeri orang. Aku butuh kemudahan untuk setiap langkah. Butuh perlindungan untuk keluarga. Butuh ketenangan di tengah ketidakpastian. Bahkan untuk hal-hal sederhana yang dulu terasa otomatis, kini semuanya terasa karunia.
Dengan kesadaran itu, semua “kerepotan” tadi jadi masuk akal. Perencanaan, kehati-hatian, dan perhatian pada fiqih bukan bentuk mempersulit diri. Itu bentuk kesadaran bahwa kita ini fakir, hamba yang sangat bergantung kepada Allah, sehingga kita berusaha menjaga diri tetap dalam aturan-Nya di mana pun berada.
Safar ini akhirnya bukan sekadar menikmati perjalanan, tapi menata hati sekaligus menjaga ketaatan. Bukan hanya taat pada aturan lokal di mana bumi dipijak, tapi juga pada syariat yang jadi kewajiban.
Menempuh jarak sejauh ini bukan untuk merasa hebat, tapi untuk menyadari betapa lemahnya diri ini tanpa penjagaan dan petunjuk dari Allah.
Semoga safar ini bukan hanya memindahkan kami dari satu tempat ke tempat lain, tapi juga memindahkan hati kami, dari merasa mampu, jadi hamba yang sadar akan kefakirannya. Hamba yang tidak lagi merasa kuat sendiri, tapi selalu bergantung, berharap, dan kembali kepada Allah dalam setiap langkahnya.
Wallahu a’lam.
