11 April, Juz 11

Bismillah.

Juz 11 mengambil At-Taubah ayat 93 sampai Hud ayat 5, dan isinya menyodorkan ironi yang bikin dada sesak. Kemarin di Juz 10 aku membaca kebiasaan mereka mengkhianati perjanjian. Hari ini yang dibongkar lebih jauh lagi, yaitu bagaimana sebuah bangsa yang dulunya korban penindasan berubah menjadi penindas yang jauh lebih brutal.

Titik berangkatnya justru dari sesuatu yang enak.

Wa laqad bawwa’nā banī isrā’īla mubawwa’a shidqiw wa razaqnāhum minaṭ-ṭayyibāt, fa makhtalafū ḥattā jā’ahumul-‘ilm, inna rabbaka yaqḍī bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānū fīhi yakhtalifūn.

“Dan sungguh, Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rezeki yang baik. Maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS 10:93)

Yang menohok ada di potongan tengahnya, hattā jā’ahumul-‘ilm. Mereka mulai menyimpang bukan waktu masih bodoh dan serba kekurangan. Mereka menyimpang setelah tempatnya bagus, rezekinya melimpah, dan ilmunya datang.

Bandingkan dengan hari ini. Genosida di Gaza, pengeboman di Lebanon, dan pelanggaran hukum internasional itu bukan kejahatan orang yang tidak tahu. Semuanya dikerjakan dengan kesadaran penuh, disokong data intelijen mutakhir, teknologi paling canggih, dan ahli-ahli hukum yang pintar memelintir pasal-pasal PBB. Ilmu yang dilepas dari moral tidak melahirkan kebodohan, tapi melahirkan monster yang sangat efisien dalam membunuh.

Ironi berikutnya lebih tua umurnya.

Wa jāwaznā bibanī isrā’īlal-baḥra fa atba’ahum fir’aunu wa junūduhū baghyaw wa ‘adwā…

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, lalu Firaun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka)…” (QS 10:90)

Allah mengulang lagi kisah itu di juz ini. Bagaimana Firaun menindas mereka, menyembelih anak-anak mereka, dan mengejar sampai ke bibir laut. Dulu merekalah yang menangis kehilangan anak. Hari ini mereka yang menjatuhkan bom ke atas ribuan anak di Palestina dan Lebanon, dengan keangkuhan yang persis sama dengan keangkuhan Firaun dulu. Psikologi punya istilahnya, mengidentifikasi diri dengan sang penindas. Yang tersiksa tidak selalu belajar untuk tidak menyiksa. Kadang yang ia pelajari justru cara memegang cambuknya.

Ada satu lagi yang polanya berulang, kali ini soal agama yang dipakai sebagai tameng.

Walladzīnat-takhadzū masjidan ḍirāraw wa kufraw wa tafrīqam bainal-mu’minīna wa irṣādal liman ḥāraballāha wa rasūlahū min qabl…

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu…” (QS 9:107)

Ayat ini memang turun untuk kaum munafik Madinah yang membangun Masjid Dirar, tapi polanya berlaku umum. Bangunan suci didirikan bukan untuk beribadah, melainkan untuk memecah dan merusak dari dalam. Cara yang sama dipakai Zionisme hari ini, dengan memanfaatkan narasi Yudaisme dan klaim Tanah Perjanjian sebagai kedok untuk melegalkan perampasan tanah dan pembunuhan massal. Agama dibajak supaya ambisi geopolitik yang rakus terdengar seperti panggilan langit.

Pertanyaannya, kekuatan sebesar itu bertahan berapa lama?

…Ḥattā idzā akhadzatil-arḍu zukhrufahā wazzayyanat wa ẓanna ahluhā annahum qādirūna ‘alaihā atāhā amrunā lailan au nahāran fa ja’alnāhā ḥaṣīdan ka’al lam taghna bil-ams…

“…Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tumbuh-tumbuhannya) laksana tanaman yang telah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin…” (QS 10:24)

Frasa kuncinya ẓanna ahluhā annahum qādirūna ‘alaihā, mereka mengira sudah menguasainya. Persis perasaan mereka hari ini, dengan hak veto sekutu adidaya, Iron Dome, dan ekonomi yang kokoh. Padahal kekuasaan yang berdiri di atas kezaliman itu rapuh sekali. Begitu ketetapan Allah datang, entah malam entah siang, secanggih apa pun pertahanannya akan rata seperti ladang yang baru saja disabit, seolah kemarin tidak pernah ada apa-apa di sana.

Pelajaran terbesarnya buatku bukan soal mereka. Penderitaan masa lalu ternyata tidak otomatis melahirkan empati. Kalau tidak diolah dengan benar, yang lahir justru dendam dan kebrutalan model baru.

Dan bagian yang menampar, aku juga punya versi kecilnya. Ilmu, posisi, dan pemahaman terhadap aturan yang aku punya bisa dipakai untuk melayani orang, bisa juga dipakai untuk mencari celah agar orang lain terpojok. Aku tahu persis rasanya berada di posisi yang sedang di atas angin, entah di kantor atau di komunitas, dan betapa gampangnya berubah jadi Firaun kecil ketika merasa tidak ada yang bisa membantah.

Roda itu berputar. Setiap peradaban yang merasa sudah menguasai bumi sebenarnya sedang menghitung mundur hari kehancurannya sendiri, dan hukum yang sama berlaku untuk orang per orang.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News