Malam Tarawih Pertama & Definisi Sukses Sejati: Membedah Khusyuk di Surat Al-Mu’minun

18 Februari, Juz 18.

Malam ini, insyaAllah kita memasuki gerbang Ramadhan. Malam pertama tarawih. Dan masyaAllah, Juz 18 menyambut kita dengan sebuah seruan besar di Surat Al-Mu’minun: “Qad aflaha al-mu’minun…” (Sungguh beruntung/sukseslah orang-orang yang beriman).

Di saat kesuksesan diukur dengan angka di rekening, jabatan, atau popularitas, Al-Qur’an mengingatkan kembali, ceklis pertama dan utama orang sukses menurut Allah SWT ternyata: “Al-ladzina hum fi shalaatihim khaasyi’uun.” (Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya).

Sesuai rencana kegiatan Ramadhan yang sudah kususun, fokus utamaku adalah memaksimalkan kualitas shalat (tanpa meninggalkan kuantitas).

Tapi, apa sebenarnya definisi khusyuk itu? Selama ini, dalam pemahamanku, khusyuk adalah pekerjaan hati. Yaitu ketika kita mengerti apa yang kita ucapkan. Saat lisan berucap Alhamdulillah, hati sadar sedang memuji. Saat lisan berucap Iyyaka na’budu, batin berteriak mengakui kelemahan. Khusyuk adalah sadar sedang berdialog (seperti bahasan Juz 16 kemarin).

Khusyuk bukan satu-satunya syarat sukses, tapi ia adalah gerbangnya. Setelah itu Al-Qur’an melanjutkan ciri orang beruntung: mereka menjauhi hal sia-sia, menjaga amanah, dan terus memelihara shalatnya.

Namun, tadi sore saya menyimak tafsir Ustadz Firanda tentang ayat ini, ada dimensi lain yang tak kalah penting: Khusyuk adalah Pekerjaan fisik/gerakan. Beliau merujuk pada hadits terkenal tentang seorang laki-laki yang shalatnya “ngebut”. Sampai tiga kali Nabi Muhammad SAW menyuruhnya mengulang dengan kalimat yang menohok: “Irji’ fa-shalli, fa-innaka lam tushalli.” (Kembalilah dan shalatlah lagi, karena sesungguhnya engkau belum shalat).

Ternyata, “nyawa” shalat itu bernama tuma’ninah (tenang/berhenti sejenak). Khusyuk dalam gerakan artinya tidak terburu-buru. Punggung harus lurus saat ruku’, berhenti sejenak saat i’tidal, dan diam tenang saat sujud.

Jadi, untuk tarawih malam ini, strategiku adalah menggabungkan keduanya, jurus jiwa dan raga:

  • Jiwanya: Sadar makna dan dialognya.

  • Raganya: Tenang dan tuma’ninah gerakannya.

Sering kali di malam tarawih, kita terjebak “balapan” ingin cepat selesai. Imam baca cepat, kita ikut ngebut. Gerakan jadi berantakan, pikiran melayang entah ke mana. Kalau begitu, khawatirnya kita kena teguran Nabi: “Kamu belum shalat.”

Jadi malam ini, mari kita niatkan: Bukan sekadar mengejar rakaat, tapi mengejar nikmat. Biarkan tubuh bergerak tenang (tuma’ninah) agar sesuai sunnah Nabi, dan badan pun berkesempatan relaksasi. Biarkan hati meresapi bacaan agar batin tersambung dengan Rabb Semesta Alam.

Jika jiwa (paham arti) dan raga (tenang gerakan) ini bersatu, itulah khusyuk. Dan itulah jalan menuju Al-Falah (kemenangan) yang sejati.

Bismillah, mari kita jemput malam pertama.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News