Fenomena Tarawih Sepi dan 3 Kriteria “Ibadurrahman” yang Bertahan Hingga Akhir

19 Februari, Juz 19.
Di awal Ramadhan, sambil bergembira melihat membludaknya jamaah shalat di masjid, sering kali muncul celetukan: “Nanti biasanya juga shaf makin maju, alias jamaahnya berguguran.”

Terkait hal ini, seorang sahabat melontarkan pertanyaan, “Apakah fenomena di atas ada dalam bahasan Juz 19 hari ini?”

Aku dari awal sangat yakin akan keluasan hikmah Al-Qur’an. Bahkan ketika dibaca dengan metode One Day One Juz menyesuaikan tanggal masehi (yang sebenarnya tidak ada tuntunan khususnya, hanya sekadar untuk mempermudah target), jawabannya selalu ada. Kusampaikan ke sahabatku, sesedikit pengetahuanku, tidak ada cucokologi dalam belajar Al-Qur’an. InsyaAllah semua ini adalah jawaban dan bimbingan-Nya kepada siapa pun yang mau belajar.

Yuk bareng-bareng kita bahas. Juz 19 terdiri dari akhir Surat Al-Furqan, Surat Asy-Syu’ara’, dan awal Surat An-Naml.

Juz 19 ini ternyata seolah memang disiapkan untuk menjawab fenomena “Saf Maju” (safnya maju ke depan, jamaahnya mundur alias hilang). Kok ya timing-nya tepat ya.

Surat Asy-Syu’ara’ ini bercerita tentang kisah perjuangan 7 Nabi besar (Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Shaleh, Luth, Syu’aib). Dan di dalam surat tersebut Allah mengulang satu ayat yang sama persis sebagai “gong penutup” di setiap akhir kisah para Nabi tersebut.

Ayat ini diulang hingga 8 kali! Posisi pengulangannya ada di hampir semua tanda huruf “‘Ain” yang diperuntukkan sebagai tanda perubahan bahasan/ruku’. Melihat ayat tersebut dan posisinya pun bikin geleng-geleng kepala. MasyaAllah. Begitu rapi Al-Qur’an diturunkan dan disusun sebagai mushaf.

Lanjut ke ayat dimaksud di atas, kalimat itu berbunyi: “Inna fi zalika la aayah, wa maa kaana aktsaruhum mu’minin.” (Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman).

Jika dibedah siyaqul ayat (konteks penempatannya), seolah Allah berpesan: “Lihatlah, di masa lalu laut sudah Kubelah, banjir besar Kudatangkan, mukjizat diperlihatkan, tapi ujungnya tetap saja kebanyakan mereka berguguran dari barisan ketaatan.”

Lalu, tepat setelah ayat penutup itu, Allah selalu menyambungnya dengan sifat-Nya: “Wa inna Rabbaka lahuwal ‘Aziizur-Rahiim” (Dan sungguh Tuhanmu Maha Perkasa, Maha Penyayang).

Artinya apa? Allah itu Maha Perkasa (Al-‘Aziz). Ketaatan manusia tidak menambah kemuliaan-Nya, dan kelalaian manusia tidak mengurangi keagungan-Nya.” Jadi, keagungan Allah tidak berkurang sedikit pun meski jamaah masjid di akhir Ramadhan habis tak bersisa.

Tapi, Allah juga Maha Penyayang (Ar-Rahiim). Dia menyiapkan pelukan kasih sayang dan pahala berlipat bagi segelintir hamba minoritas yang tetap setia mengisi saf depan hingga malam takbiran tiba.

Jadi, fenomena bergugurannya jamaah tarawih bukanlah anomali, melainkan sunnatullah. Bukan fenomena baru, tapi ujian konsistensi. Banyak yang kuat di awal, sedikit yang bertahan sampai akhir.

Pertanyaannya: Bagaimana agar kita lolos saringan tersebut dan bertahan sampai akhir?

Nah, di sinilah kaitannya dengan salah satu tarhib (persiapan) yang kita bahas sebelumnya, yaitu Shalat. Masih di Juz 19, tepatnya di akhir Surat Al-Furqan (ayat 63-74), Allah memberikan “bocoran” profil lulusan Ramadhan yang tahan banting. Mereka diberi gelar kehormatan: Ibadurrahman (Hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang).

Secara total, ada 11 kriteria Ibadurrahman di rangkaian ayat tersebut yang mencakup tauhid, adab sosial, hingga manajemen harta. Namun, selaras dengan resolusi tarhib Shalat kita, mari kita ambil 3 ciri utamanya yang merupakan output (hasil nyata) dari shalat yang benar, untuk dijadikan checklist bertahan sebulan ke depan:

  1. Konsisten Menghidupkan Malam (Ayat 64) “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” Inilah alasan mengapa Ibadurrahman tidak akan hilang dari saf tarawih. Bagi mereka, shalat malam (qiyamullail), termasuk tarawih, bukan sekadar euforia awal bulan, melainkan private call (kebutuhan batin) untuk check-in kepada Allah saat dunia tertidur atau sibuk dengan hal lain.

  2. Low Profile & Anti nge-Gas (Ayat 63) “…dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan ‘salam’ (kata-kata damai).” Karena malamnya mereka sudah “menunduk” (sujud) di hadapan Allah, maka siangnya mereka tidak mungkin “mendongak” (sombong) di hadapan manusia. Shalat yang khusyuk otomatis menjadi rem emosi. Kalau siang hari di bulan puasa ada yang memancing amarah, nyinyir, atau mengajak debat kusir, mereka tidak nge-gas balik. Mereka memilih damai.

  3. Visi Keluarga Sakinah (Ayat 74) “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati (qurrata a’yun)…” Seorang Ibadurrahman tidak egois ingin masuk surga sendirian. Kesalehan mereka (termasuk semangat ibadahnya) harus menular dan menjadi cahaya bagi rumah tangganya. Inilah tugasku sebagai kepala keluarga yang tidak mudah. Namun aku selalu bermohon kepada-Mu Ya Allah, masukkanlah kami sekeluarga sebagai hamba yang memenuhi kriteria Ibadurrahman.

Finally, Ramadhan bukanlah sprint 100 meter, melainkan lari maraton 30 hari. Euforia di hari pertama itu wajar, tapi daya tahan sampai hari terakhirlah yang menentukan kelulusan.

Semoga Allah menguatkan langkah kita, menjaga kita dari fenomena “Muntaber” (Mundur Tanpa Berita) di masjid maupun shalat qiyamullail, dan meluluskan kita dengan gelar Ibadurrahman.

Bismillah. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News