Pemuda Inggris di Doha yang Mau Menjemput Ibunya, dan Kenangan Melepas Bapak ke Tanah Suci

Hari #22, 6 Oktober – Juz 6

Bismillah

Perjalanan haji kami waktu itu transit di Doha.

Di sana kami sempat bertemu seorang pemuda dari Inggris. Melihat kami sudah berpakaian ihram, dia menyapa. Lalu bercerita bahwa dia justru sedang dalam perjalanan pulang ke Inggris, untuk menjemput ibunya. Setelah itu mereka berdua akan berangkat haji bersama.

MasyaAllah. Bahagia sekali bisa mengajak ibunda berhaji bersama.

Kenangan di Purwokerto

Obrolan singkat itu membawa ingatanku jauh ke belakang.

Sekitar tahun 80-an, waktu aku masih SD atau mungkin sebelum itu, bapak berangkat haji. Rombongannya dilepas di kediaman mbah di Purwokerto.

Pada foto yang aku lihat ketika sudah besar, aku tidak ada di situ. Kata bapak, aku sebenarnya ada, tapi di dalam mobil yang ikut difoto, mobil yang akan membawa rombongan. Aku ngotot tidak mau turun. Pokoke melu.

Zaman itu berhaji bisa memakan waktu sampai tiga bulan. Bapak lewat Eropa dulu, keliling beberapa kota naik kereta, baru ke tanah haram. Aku masih ingat foto-fotonya di Amsterdam, karena ada tulip dan taman berisi miniatur pesawat, gedung, dan mobil.

Aku sendiri belum pernah ke sana. InsyaAllah kapan-kapan.

Melihat pemuda tadi aku ikut senang, sekaligus sedikit iri. Bisa berangkat bersama orang tua itu bukan kesempatan yang datang ke semua orang.

Satu pesawat penuh orang berihram

Dari Doha kami berganti pesawat menuju Jeddah, dan suasananya berubah drastis.

Penerbangan itu hampir seluruhnya diisi jamaah haji, dan sebagian besar sudah berpakaian ihram. Dari ruang tunggu saja sudah sangat terasa.

Lalu sampai di titik miqat, pengumuman diberikan, dan kami berniat lalu bertalbiah.

Aku sempat melihat beberapa jamaah baru berihram setelah sampai di Jeddah. Aku tidak tahu persisnya bagaimana, mungkin pengaturan mereka memang berbeda.

Belajar Manasik 02: Miqat dan batas-batasnya

Miqat itu batas. Ada dua macam, miqat zamani yang berhubungan dengan waktu, dan miqat makani yang berhubungan dengan tempat. Untuk umrah, miqat zamaninya sepanjang tahun, jadi yang perlu diperhatikan miqat makani.

Rasulullah ﷺ menetapkan lima titik: Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, Al-Juhfah untuk penduduk Syam, Qarnul Manazil untuk penduduk Najd, Yalamlam untuk penduduk Yaman, dan Dzatu Irq untuk penduduk Irak. Hadisnya diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, dan ditutup dengan kalimat penting: titik-titik itu berlaku untuk penduduknya sendiri dan untuk siapa pun yang melewatinya.

Jadi miqat ditentukan oleh arah datang, bukan oleh kewarganegaraan.

Dua hal yang sering tertukar, dan ini yang aku alami sendiri.

Berpakaian ihram itu persiapan, boleh dilakukan jauh sebelum miqat. Berganti kain di Doha itu bukan karena Doha miqat, tapi karena di situ ada waktu dan tempatnya.

Berniat ihram itu yang terikat tempat. Niat dan talbiyah baru diucapkan ketika melintasi garis miqat, biasanya ditandai pengumuman dari awak pesawat.

Kalau ke Madinah lebih dulu, miqatnya di Dzul Hulaifah atau Bir Ali, dan bus biasanya berhenti di sana. Yang sudah berada di dalam tanah haram berihram dari tempat tinggalnya sendiri.

Tiga hal yang perlu dijaga. Jangan melewati miqat tanpa niat, karena kalau terlanjur harus kembali, dan kalau tidak kembali sebagian ulama mengenakan dam. Mandi dan memakai wangi-wangian dilakukan sebelum berniat, bukan sesudahnya. Dan niat itu letaknya di hati, lalu dikuatkan dengan talbiyah.

Soal pakaian ihram sendiri, bentuk dan hikmahnya, dibahas tersendiri di langkah berikutnya. Begitu juga larangan-larangan yang mulai berlaku sejak niat diucapkan.

Mandi sebelum berniat, dan alasannya

Juz ini memuat ayat wudu dan tayamum, dan penutupnya menjelaskan banyak hal.

مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ

“Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu.” (Al-Ma’idah: 6)

Itu kuncinya. Semua aturan bersuci, termasuk mandi sebelum ihram, tujuannya membersihkan, bukan merepotkan. Dan kalau nanti ada keringanan, seperti tayamum ketika tidak ada air, itu bukan berarti aturannya dilonggarkan, melainkan karena sejak awal memang tidak dimaksudkan untuk menyulitkan.

Aturan yang sudah selesai, dan tidak bisa kita atur sendiri

Masih di surat yang sama ada potongan ayat yang sering kita dengar.

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (Al-Ma’idah: 3)

Ayat ini turun di Arafah, pada haji wada, hari Jumat.

Kata kuncinya akmaltu, sudah Aku sempurnakan. Artinya bentuk ibadah ini sudah lengkap sejak hari itu. Tidak perlu ditambah, tidak boleh dikurangi.

Dan miqat adalah contoh yang paling jelas. Titiknya ditentukan oleh Nabi, bukan oleh kesepakatan jamaah. Kita tidak bisa memindahkannya supaya lebih dekat atau lebih nyaman. Kalau boleh diatur sendiri, pasti sudah lama digeser ke bandara, supaya tidak perlu repot berganti pakaian dan berniat di atas pesawat.

Jadi tugas kita mengikuti, bukan menyesuaikan.

Miqat sebagai titik mencari ketakwaan

Ada satu ayat lagi di juz ini yang isinya seperti ringkasan perjalanan.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (Al-Ma’idah: 35)

Tiga perintah berurutan. Bertakwa, mencari jalan mendekat, lalu bersungguh-sungguh.

Dan miqat itu titik di mana pencarian tadi resmi dimulai.

Garisnya ditaruh jauh dari Makkah, bukan di depan pintunya. Jadi ibadahnya tidak dimulai saat kita melihat Ka’bah, tapi berpuluh kilometer sebelum itu, kadang di atas awan, di tempat yang tidak ada pemandangan apa-apa.

Dan sejak garis itu dilewati, yang berubah bukan cuma pakaian. Ada janji yang mulai mengikat, dan juz ini membukanya dengan perintah memenuhi janji. Ada kehormatan yang tidak boleh dilanggar, dan juz ini mengingatkan supaya kebencian terhadap siapa pun tidak membuat kita melampaui batas, bahkan terhadap kaum yang pernah menghalangi dari Masjidil Haram.

Takwa itu memang begitu bentuknya. Menjaga garis, bukan mengejar jarak.

Pemuda Inggris tadi mungkin sudah berangkat bersama ibunya, mungkin juga belum. Aku tidak tahu namanya dan kemungkinan besar tidak akan bertemu lagi.

Yang jelas aku jadi ingat bapak, dan anak kecil yang dulu ngotot tidak mau turun dari mobil.

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *