Semalam ada kumpul-kumpul mitra bisnis. Dulu posisiku paling dekat dengan mereka. Sekarang amanahku di bidang lain, lebih jarang berinteraksi langsung, dan tidak banyak yang perlu diobrolkan. Malam itu mereka juga fokus ke bahasan utama sesuai tema acara.

Alhamdulillah masih akrab. Ada canda ringan, sesekali obrolan yang lebih serius. Tapi aku lebih banyak mengamati. Melihat kawan-kawan yang sekarang in charge berinteraksi akrab dengan mereka, aku teringat masa dulu. Mungkin dulu kami dekat karena jabatan, jadi kalau sekarang tidak sedekat itu ya wajar.

Kajian pagi ini

Pagi ini aku ikut kajian Ustadz Hari Susanto di Masjid Al-Akhbar. Temanya syahwat yang tersembunyi. Catatanku:

  • Yang paling halus adalah syahwat kedudukan, karena tujuannya tersembunyi, bahkan dari diri sendiri.
  • Masalahnya bukan jabatan. Nabi punya kedudukan dan terkenal, Imam Syafii juga. Yang salah adalah merekayasa supaya kita ditokohkan, lalu riya.
  • Kata ustadz, Imam Zuhri berkata zuhud yang paling berat bukan pada makanan atau uang, tapi menolak ketika ditawari jabatan. Kalau kedudukan seorang tokoh disinggung, ia langsung melawan.
  • Jabatan yang datang tanpa diminta pun ujian. Imam Ghazali memberi perumpamaan orang tenggelam: kalau tidak pandai berenang, jangan menolong orang tenggelam, nanti yang tenggelam jadi dua.
  • Umar tidak suka diarak. Katanya itu kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diarak.

Ada jamaah yang sempat bertanya apakah ada ayatnya. Kata ustadz, kuatnya di hadis dan atsar. Hadis yang paling dekat: dua serigala lapar di tengah kawanan kambing tidak lebih merusak daripada ambisi pada harta dan kedudukan terhadap agama seseorang (Tirmidzi).

Pertanyaan untuk diri sendiri

Dalam Ihya Ulumuddin, di bab tentang tercelanya gila kedudukan dan riya:

  • Ghazali menyebut riya itu mencari tempat di hati orang.
  • Ia menyuruh bertanya ke diri sendiri: apakah yang dipuji dari kita memang ada pada kita dan pantas dipuji?
  • Kalau yang dipuji harta, kuasa, atau pengaruh, senangnya seperti rumput yang tertiup angin. Tapi kembali lagi, harus kuat menahan ego.

Pertanyaan ini pas untuk keakraban yang mungkin dulu karena kursi.

Latihan kecil

Jadi semalam itu latihan. Niatnya harus selalu untuk menjalankan amanah dan tugas, bukan supaya dilihat. Egoku perlu dilatih. Ada istilah post power syndrome. Jangan sampai kaget ketika mengalaminya, toh sedikit demi sedikit kita memang akan melemah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *