17 Februari, Juz 17.
Waktu persiapan teori telah habis. Besok atau lusa kita berdiri di garis start.
Sebagai penutup fase tarhib (penyambutan), di Juz 17 ada tiga pijakan utama yang menjadi fondasi eksekusi dua amalan yang tersisa: Al-Qur’an dan Infak, dan satu ayat peringatan.
Pijakan Pertama: Pengingat bahwa bertambah detik, berkurang pula umur kita.
Juz 17 dibuka dengan firman Allah dalam Surat Al-Anbiya ayat 1: “Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai.”
Ayat ini mengingatkan, setiap detik ke depan sejatinya bukan penambahan usia, melainkan berkurangnya jatah umur. Hisab semakin dekat, sementara kelalaian sering kali tetap berjalan.
Kesadaran ini harus aku jadikan motivasi tertinggi untuk memasuki Ramadhan dengan serius. Jangan sampai kita memasuki bulan mulia dalam keadaan “mode lalai”.
Setelah dicolek dengan alarm pengingat di atas mari bahas kembali cara-cara memaksimalkan tadabur Al-Quran dan Infak.
Amalan Kedua: AL-QUR’AN
WHAT — Apa targetnya? Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penyembuh hati, bukan sekadar mengejar jumlah bacaan. Targetnya bukan hanya khatam, tetapi mendapatkan bimbingan dan hikmah dari ayat-ayatnya.
WHY — Mengapa demikian? Al-Qur’an diturunkan sebagai hudan (petunjuk) dan syifa (penyembuh). Di sisi lain, setiap huruf yang dibaca bernilai pahala besar, terlebih di bulan Ramadhan. Dengan demikian, membaca Al-Qur’an berarti menggabungkan dua keuntungan sekaligus: bimbingan hidup dan pahala berlipat.
WHEN & HOW — Kapan dan bagaimana ritmenya? Agar tidak jenuh dan target tercapai, ritme bisa diatur sedemikian rupa. Tapi yang pasti harus menetapkan target. Tanpa target, baca Quran akan moody. Dan percaya saya, akan terlewat kesempatan emas mendulang pahala.
Sebagai contoh saja. Tadabur Al-Quran dibagi menjadi tiga fase:
10 Hari Pertama — Fase Fondasi Fokus tilawah bahasa Arab disertai membaca arti atau terjemah. Energi awal Ramadhan biasanya masih penuh, sehingga sangat tepat untuk menutrisi pemahaman dan kedekatan dengan makna ayat.
10 Hari Kedua — Fase Fleksibel Menyesuaikan dengan kondisi fisik dan kesibukan. Bisa tetap mempertahankan pola baca + arti, atau mulai beralih ke peningkatan kuantitas bacaan.
10 Hari Terakhir — Fase Sprint Fokus memperbanyak tilawah. Pada fase ini terdapat Lailatul Qadar, sehingga volume bacaan dan kedekatan dengan Al-Qur’an dimaksimalkan semampunya.
Sebisa mungkin, dalam 1 bulan khatam 30 juz. Kenapa dianjurkan menargetkan khatam selama Ramadhan? Karena Rasulullah setiap Ramadhan melakukan muraja’ah Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril hingga khatam.
Tradisi membaca sekitar satu juz per malam kemudian berkembang di kalangan para sahabat dan generasi setelahnya.
Perbedaan jumlah rakaat tarawih (11 atau 23 rakaat) bukan untuk dipertentangkan, melainkan merupakan keluasan syariat. Masing-masing memiliki landasan praktik dari generasi awal umat.
Secara historis, pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, shalat tarawih berjamaah dihidupkan kembali dan jumlah rakaatnya diperbanyak (20 rakaat ditambah witir menjadi 23). Salah satu hikmahnya adalah agar bacaan per rakaat lebih pendek sehingga jamaah tidak terlalu lama berdiri, namun tetap dapat menyelesaikan bacaan yang banyak selama malam-malam Ramadhan.
Dengan kata lain, semakin banyak rakaat, semakin ringan durasi berdiri di tiap rakaat; semakin sedikit rakaat, biasanya bacaan per rakaat menjadi lebih panjang. Keduanya sama-sama bertujuan menghidupkan malam Ramadhan dengan Al-Qur’an, bukan sekadar menghitung jumlah rakaat.
Semoga pemahaman ini dapat menenangkan perbedaan yang sering diperdebatkan, karena inti tarawih adalah qiyamullail di bulan Ramadhan, bukan angka rakaatnya.
Adapun istilah “tarawih” berasal dari kata tarwihah yang berarti “istirahat”, karena para sahabat dahulu duduk sejenak untuk beristirahat setelah beberapa rakaat. Jadi, maknanya bukan sekadar duduk santai, melainkan jeda untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan ibadah.
Amalan Ketiga: INFAK
WHAT — Apa targetnya? Membangun ketaatan melalui amal berbagi, bukan berfokus pada besar kecilnya nominal.
WHY — Mengapa esensinya ketaatan? Allah menegaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 37 saat menjelaskan tentang kurban: “Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Makna ini berlaku luas untuk seluruh amal pengorbanan harta. Infak bukan sekadar transaksi materi, melainkan bukti ketundukan hati kepada Allah dan latihan melawan rasa kepemilikan.
WHEN & HOW — Kapan dan bagaimana praktiknya? Amal kecil yang dilakukan secara konsisten sangat bernilai di sisi Allah. Karena itu, jangan menunggu mampu memberi besar baru mulai berbagi.
Praktiknya: lakukan setiap hari sebisa mungkin. Bisa berupa sedekah subuh, berbagi makanan berbuka, membantu orang lain, atau bentuk kebaikan lain sesuai kemampuan. Jangan lupa, utamakan keluarga terdekat yang membutuhkan. Nominal adalah nomor dua. Konsistensi ketaatan adalah nomor satu.
Akan lebih baik di awal bulan, tetapkan target rupiah, lalu bagi akan ditunaikan kapan saja dan berapa. InsyaAllah lebih mudah.
Alhamdulillah. Tiga amalan utama Ramadhan; Shalat (dibahas kemarin), Al-Qur’an, dan Infak, kini telah memiliki contoh strategi yang jelas: apa yang dituju, mengapa dilakukan, kapan, dan bagaimana menjalankannya.
Mari memasuki Ramadhan dengan bismillah, niat yang lurus, dan tekad yang kokoh. Marhaban ya Ramadhan.
Wallahu a’lam.
