Strategi Shalat, Dialog Langit dan Hadiah Rezeki: Membedah Surat Taha

16 Februari, Juz 16.

​Hari ini aku pengin mendalamkan pemahaman shalatku dengan enrichment (pengayaan) dari Juz 16, tepatnya Surat Taha ayat 14 dan 132. Besok, insyaAllah, kita beralih membedah strategi Qur’an dan Infak, selagi sisa waktu menuju Ramadhan tinggal hitungan hari.

  1. ​WHAT: Apa yang Sebenarnya Ingin Kita Capai? Sering kali kita terjebak di bulan Ramadhan hanya pada urusan kuantitas: mau shalat tarawih 11 atau 23 rakaat? Sementara shalatnya sendiri berjalan business as usual. Tentu, tidak ada yang salah dengan kuantitas tarawih dan qiyamullail, tapi akan jauh lebih baik jika kita juga membidik kualitasnya. Target kita (What) di Ramadhan ini adalah: Memaksimalkan kualitas shalat agar benar-benar menjadi ruang dialog langsung dengan Allah. Sure, ini bukan robot job, ini adalah dialog, menyambungkan sinyal. Di Juz 16 (Surat Taha ayat 14), Allah menegaskan: “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (li-dzikri).” Kita tidak dituntut untuk hafal detail setiap kosakata bahasa Arabnya layaknya pakar tafsir, tapi kita harus paham apa maksud dari setiap ucapan kita di dalam shalat. Namanya juga dialog; pasti ada bagian yang ditekankan, ada yang digarisbawahi, ada intonasinya. Bukan komat-kamit datar yang dibaca buru-buru.

 

  1. ​HOW: Bagaimana Cara Praktis Membangun Dialog Itu? (Note: sebelum mulai shalat: Pondasi utamanya adalah wudhu yang harus sempurna. Kita akan bahas kekuatan wudhu ini nanti). Jika wudhu sudah benar, begini strategi batin saat kita mulai berdiri di atas sajadah:

 

  • ​Takbiratul Ihram: Saat mengangkat kedua tangan, visualisasikan kita sedang membuang seluruh urusan ke belakang punggung. Katakan dengan tegas di dalam hati: “Aku singkirkan semua tagihan, urusan kerjaan, dan masalah hidupku di luar sana. Hanya Engkau yang Maha Besar, Allahu Akbar.”

 

  • ​Doa Iftitah (Allahumma baa’id…): “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju, dan embun.” Kenapa kita meminta dibersihkan di awal shalat? Karena kita ingin berdialog. Batin kita seolah berkata: “Ya Allah, aku ingin berbincang intim dengan-Mu. Tolong bersihkan dulu aku dari dosa. Aku tahu Engkau Maha Pemaaf, dan kalau Engkau sudah memaafkanku, Engkau pasti akan menuruti doa dan permintaanku.” Secara harfiah, katakan itu di dalam hati, sambil mengingat satu per satu salah dan dosa kita yang lalu.

 

  • ​Al-Fatihah: Ini jantungnya shalat. Resapi artinya perlahan. Ingatlah Hadits Qudsi (HR. Muslim) di mana Allah menghentikan alam semesta sejenak untuk menjawab setiap ayat yang kita baca langsung dari atas ‘Arsy. Rasakan dialognya:
    • ​Saat kita berucap: “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin”, Allah menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”
    • ​Saat kita berucap: “Ar-Rahmaanir-Rahiim”, Allah menjawab: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.”
    • ​Saat kita berucap: “Maaliki yaumid-diin”, Allah menjawab: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”
    • ​Lalu, ketika lisan kita sampai pada ayat: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan); teriakkan ayat itu kuat-kuat di dalam batin kita! Hadirkan seluruh kepasrahan di titik itu. Allah pun menjawab: “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
    • ​Berlanjut ke: “Ihdinash-shiraathal mustaqiim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Wajarlah di titik ini kita merintih meminta petunjuk, karena dalam hidup ini kita memang banyak bimbang dan sering salah arah. See, literally Al-Fatihah itu dialog, saling berbalas. Bayangkan kalau selama ini kita nggak sadar kalau ini adalah berbalas. Mulai besok, yuk kita dialogkan, bukan lagi sekadar monolog.

monolog.

  • ​Membaca Surat: Setelah Al-Fatihah, kita mendengarkan atau membaca ayat Al-Qur’an. Sunnah Nabi di bulan puasa (seperti dalam Tarawih) adalah menargetkan bacaan, yang kalau dirutinkan mengalir satu juz per malam. Ini adalah kelanjutan dialog di mana kini giliran kita yang menyimak firman-Nya.

 

  1. ​WHY: Kenapa Kita Melakukan Ini Semua? (Hadiah Rezeki) Mungkin ada yang ragu: “Kalau malam kepanjangan tarawih, besok kerjanya lelah, produktivitas turun, rezeki gimana?” Di akhir Surat Taha (ayat 132), Allah mengunci alasannya (Why) sekaligus menjanjikan hadiahnya: “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat… Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” Rezeki bukanlah sesuatu yang harus kita khawatirkan akan hilang karena waktu kita tersita untuk shalat. Justru sebaliknya! Rezeki adalah “hadiah” yang akan Allah bukakan karena kualitas shalat kita benar. Jangan menukar Sang Pemberi Rezeki hanya demi mengejar rezekinya. Di awal surat (ayat 2), Allah berjanji: “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini agar kamu menjadi susah.” Shalat bukanlah beban yang menyusahkan. Ia adalah ruang untuk menumpahkan keluh kesah, dan hadiahnya adalah jaminan hidup yang diberkahi.

 

​Besok, di H-1, kita akan tuntaskan “How To” untuk dua amalan sisa: Al-Qur’an dan Infak. Bismillah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News