19 Maret, Juz 19
Bismillah.
Sore ini, suasana terasa sedikit berbeda. Di banyak grup obrolan, ramai diskusi seputar siapa yang hari ini lebaran, siapa yang pasti besok, dan siapa yang masih galau menunggu hasil sidang isbat malam ini. Kegalauan tahunan yang terus berulang. Kebetulan, aku masuk tim galau.
Tapi sejujurnya, di rumah aku juga punya kegalauan lain. Aku merasa di satu sisi bersemangat mengejar keutamaan Ramadhan, tapi saat melihat anak-anak, respons mereka ternyata “B aja”.
Ketika tiba waktu shalat, anak-anak belum tergerak, kecuali adzan maghrib, semua lari ke meja makan. Ketika diminta ikut berdoa di waktu-waktu mustajab, kayaknya juga belum paham sehingga belum tergerak. Sepertinya aku belum berhasil mengajak mereka dan belum bisa memberikan pemahaman ilmunya. Jadi seperti tidak berada di frekuensi yang sama.
Jangan-jangan, apa karena ekspektasiku yang berlebihan? Mungkin aku salah karena menyamakan staminaku dengan anak-anak.
Hari ini, di Juz 19, khususnya di Surat Asy-Syu’ara, Allah menceritakan kisah para nabi yang datang membawa kebenaran, mengajak kaumnya dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan ghirah yang menyala-nyala.
Nabi Nuh berkata: Inni lakum rasulun amin. Fattaqullaha wa athi’un. (Aku adalah rasul yang terpercaya bagi kalian. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku. QS. Asy-Syu’ara: 107-108).
Ajakan itu sangat jelas dan lembut, tanpa paksaan.
Tapi jawabannya? Kaumnya merespons dengan dingin dan mengejek: Qalu anu’minu laka wattaba’akal ardzalun. (Masa kami harus beriman dan mengikuti kamu, sementara yang ikut kamu cuma orang-orang rendahan? QS. Asy-Syu’ara: 111).
Penolakan mentah-mentah. Hal yang sama berulang pada Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, hingga Nabi Syu’aib. Semuanya membawa kalimat ajakan yang hampir sama, tidakkah kalian bertakwa, aku ini hanyalah penyampai yang amanah.
Kalimat mereka sederhana, ghirah mereka luar biasa, tapi perjuangannya sungguh berdarah-darah. Dan yang paling menggetarkan, di setiap akhir kisah para nabi itu, Allah selalu mengulang satu kalimat penutup yang sama persis hingga delapan kali dalam satu surat: Inna fi dzalika la ayah, wa ma kana aktsaruhum mu’minin. (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. QS. Asy-Syu’ara: 8 dan seterusnya).
Kisah di Juz 19 ini rasanya jadi jawaban buatku. Jangankan diriku yang hanya ayah biasa, bahkan para nabi utusan Allah pun merasakan ghirah yang tidak sama dengan kaumnya.
Ini bukan sekadar cerita sejarah masa lalu. Ini cara Allah meluruskan ekspektasiku sebagai orang tua. Bahwa mengajak kepada kebaikan itu tidak ada jaminan langsung disambut dengan antusiasme yang sama.
Yang bisa jadi keliru adalah kalau aku terlalu memaksakan frekuensi. Aku menginginkan hasil instan dan menuntut anak-anakku punya ghirah yang menyala-nyala saat ini juga. Padahal para nabi tidak pernah ditugaskan memaksakan hidayah ke dalam hati kaumnya. Yang mereka tegaskan berkali-kali hanyalah, aku adalah penyampai yang amanah.
Sambil menunggu bedug maghrib dan keputusan isbat hari ini, aku harus bisa menyesuaikan. Tugasku membimbing, mengajak, memberi ilmu, dan mendampingi anak-anakku.
Apakah kalau ghirah mereka tidak sama denganku hari ini aku kecewa? Tidak. Aku akan selalu mengulang lagi. Memberi ilmu, mengajak, repeat.
Pengumuman maghrib nanti, apa pun hasilnya, jadi penanda bahwa Ramadhan akan segera pergi. Tantangan mempertahankan kebiasaan baik justru baru akan benar-benar datang saat gema takbir kemenangan berkumandang.
Wallahu a’lam.

