23 Juli, Juz 23
Bismillahirrahmanirrahim.
Ayat 29
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah membuat perumpamaan, (yaitu) seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat, yang dalam perselisihan, dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang saja. Adakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
Tafsir Kemenag menjelaskan, budak yang dimiliki beberapa tuan berselisih itu bingung menentukan siapa yang harus diikuti perintahnya, sementara budak dengan satu tuan tahu pasti arah yang harus ditempuh. Ayat ini perumpamaan tentang menyekutukan Allah dibanding mengesakan-Nya, tapi struktur logikanya bisa dibawa ke urusan yang lebih duniawi.
Ada pola yang sering muncul dalam diriku sendiri kalau dibaca lewat ayat ini. Aku sering tergerak ingin punya kesibukan sambilan, entah berharap bisa menghasilkan, jadi pegangan kelak saat pensiun, tambahan uang jajan, atau kadang cuma sekadar ingin, tanpa alasan yang benar-benar jelas.
The John Whitmore Model dalam The Decision Book, dari bab How to Improve Yourself, punya metodologi konkret untuk mengecek ini.
Pertama, bedakan final goal dan performance goal. Contoh dari buku, final goal itu “aku ingin lari maraton”, performance goal itu langkah hariannya, “aku jogging 30 menit setiap pagi”.
Kedua, tuliskan tujuan itu di kertas, cek apakah cukup menantang tapi tetap mungkin dicapai, karena tujuan mustahil bikin putus asa, tujuan terlalu mudah tidak memotivasi. Model ini diambil dari kerangka GROW milik Whitmore sendiri, Goal (tujuan akhir), Reality (kondisi sekarang), Options (pilihan yang tersedia), Will (komitmen bertindak).
Kalau dipetakan ke ayat 29, sambilan yang aku maksud itu berpotensi jadi “tuan-tuan” baru yang berserikat, kadang niatnya menghasilkan uang, kadang jaga-jaga masa depan, kadang cuma memuaskan keinginan sesaat. Ketiga alasan itu wajar sendiri-sendiri, tapi begitu digabung tanpa kejelasan mana yang jadi final goal sebenarnya, hasilnya mirip budak yang dimiliki banyak tuan berselisih, energi terbagi, arah tidak jelas. Pekerjaan utama jadi tidak fokus, pekerjaan sambilan juga tidak tergarap dengan baik.
Seringkali istilah multi tasking juga menggoda. Masa gak bisa sih multi-tasking, windows aja bisa. Tapi sekali lagi, kita lah yang bisa mengukurnya sendiri.
Wallahu a’lam.



