16 Maret, Juz 16
Bismillah.
Belakangan ini aku sering mengamati dan mendengarkan mimpi dan cita-cita anak-anakku.
Anak sulungku (si mbarep) punya misi yang cukup ambisius: 30 under 30, jadi salah satu yang terbaik dan paling bersinar di usianya sebelum menginjak 30 tahun. Anak gadisku sedang berjuang keras mewujudkan impiannya untuk bisa masuk dan lulus dari fakultas dan universitas favoritnya. Sementara si bungsu punya mimpi yang lebih santai tapi tetap butuh rencana dan biaya, ia ingin jalan-jalan melihat dunia.
Aku melihat sendiri bagaimana mereka bersungguh-sungguh berikhtiar. Belajarnya, lesnya, mengerjakan pr-nya, usahanya terasa bersemangat. Tapi sebagai orang tua, aku tahu betul satu hal, ikhtiar bumi saja tidak cukup.
Maka aku selalu menyampaikan nasihat yang sama kepada mereka bertiga: “Nak, pakai jalur langit, ya.”
Ketuklah pintu langit sebagai penyempurna segala lelah di bumi. Nasihat ini kusampaikan bukan sekadar teori kosong, tapi sesuatu yang selama ini juga kucoba praktikkan dalam hidupku sendiri, sesuai petunjuk Rab yang Maha Mendengar maupun sunnah Nabi-Nya.
Menariknya, tepat di Juz 16 hari ini ada Surah Maryam. Surah ini dibuka dengan kisah yang sangat menggetarkan tentang seorang ayah yang menempuh “jalur langit” tingkat tinggi dan tidak pernah lelah berdoa, Nabi Zakariya.
Dari kisah beliau, ada beberapa pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya kita mengetuk pintu langit.
Pertama, doa yang lahir dari hati yang tulus. Dalam Surah Maryam ayat 3 disebutkan bahwa Zakariya berdoa kepada Allah SWT dengan suara yang lembut. Doa itu tidak demonstratif, tidak keras, tapi lahir dari keheningan hati yang sangat dalam. Ia bahkan mengakui kelemahannya, tulangnya telah rapuh dan rambutnya dipenuhi uban. Namun di tengah pengakuan itu ia menyampaikan keyakinan yang sangat kuat bahwa ia tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah. Menurut Ustadz Firanda Andirja, ini dalil dan tuntunan ketika berdoa, kita bisa menyebutkan kelemahan-kelemahan kita sebagai hujjah untuk meminta dengan sangat sekaligus rendah hati di hadapan Allah SWT.
Ayo Nak, pun kamu masih merasa ragu apakah bisa atau tidak, sebutkan keraguanmu, Allah akan memberi jalan.
Kedua, doa tidak tunduk pada logika manusia. Zakariya memanjatkan doa di saat kondisi yang secara manusia sangat tidak mungkin. Ia sudah sangat tua, dan istrinya dikenal mandul. Tapi ia tetap meminta seorang penerus. Jawaban Allah sangat singkat namun penuh makna, hal itu mudah bagi-Ku. Di sinilah pelajaran besar buat kita. Mimpi besar seperti 30 under 30, masuk FKUI, atau melihat dunia mungkin terasa berat kalau dihitung dengan logika manusia, tapi bagi Allah mengabulkan semua itu sangatlah mudah.
Ketiga, rahasia besar doa Zakariya ada di tempat ia memanjatkannya. Detail ini dijelaskan dalam Surah Ali Imran ayat 39. Di sana disebutkan malaikat memanggil Zakariya ketika ia sedang berdiri melakukan shalat di mihrab. Artinya kabar gembira tentang dikabulkannya doa itu datang justru ketika ia sedang khusyuk berdiri dalam shalatnya.
Ayat ini memberi pelajaran yang sangat dalam. Kadang kita sibuk meminta banyak hal kepada Allah di luar shalat. Kita berdoa setelah aktivitas selesai, setelah masalah datang, atau ketika sedang terdesak. Tapi Zakariya justru mendapat jawabannya ketika ia sedang berdiri di dalam shalatnya, di tempat paling sunyi antara seorang hamba dan Tuhannya. Waktu shalat, seperti disampaikan Ustadz Firanda Andirja, adalah waktu di mana kita masih terhubung dengan Allah SWT. Istilahnya UAH, sinyal sedang konek, jadi apa pun yang diminta akan terjawab. Masih menurut Ustadz Firanda, bahkan banyak ulama menyampaikan doa di waktu shalat lebih afdhal dibanding waktu yang lain.
Kisah Zakariya di Juz 16 ini terasa seperti pengingat yang sangat lembut untukku dan anak-anakku. Kadang kita merasa doa kita terlalu besar, terlalu mustahil, atau mungkin terlalu terlambat untuk dikabulkan. Kisah ini membantah semuanya.
Apalagi sekarang masih di penghujung bulan Ramadhan dengan segala keistimewaannya, ibaratnya sinyal koneksi dengan Allah seakan mendapat booster, baik uplink maupun downlink-nya, insyaAllah.
Untuk anak-anakku: sempurnakan ikhtiarmu di bumi, lalu bentangkan sajadahmu. Menangislah di dalam shalatmu. Karena doa yang lahir dari hati yang khusyuk dalam shalat bisa membuka jalur langit yang tidak pernah bisa dibuka oleh usaha manusia semata.
Wallahu a’lam.

