Hari kesembilan, 23 September, Juz 23
Bismillah
Kalau ada satu juz yang paling dekat dengan madrasah ini, inilah juz itu. Di sini letak kisah yang menjadi asal-usul hampir seluruh rangkaian ibadah haji dan umrah.
Bapak para nabi
Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail diceritakan di banyak kitab. Beliau bapak para nabi, disebut juga dalam Taurat dan dalam berbagai riwayat israiliyat.
Dan manasiknya di tanah suci ditiru ribuan tahun oleh orang-orang Arab, keturunan Ismail. Turun-temurun, dari generasi ke generasi.
Tapi dalam perjalanan waktu yang sepanjang itu, banyak yang melenceng. Muncul bidah dan khurafat. Ka’bah yang dibangun untuk mengesakan Allah justru dikelilingi ratusan berhala. Tawaf pernah dilakukan dengan cara yang tidak semestinya. Nama Ibrahim tetap disebut, tapi maknanya sudah berubah.
Lalu Allah meluruskannya kembali melalui firman-firman-Nya.
Yang diluruskan bukan bangunannya. Bukan pula gerakannya. Yang diluruskan arahnya: kepada siapa semua ini sebenarnya ditujukan.
Aku pergi menghadap Tuhanku
Surat Ash-Shaffat di juz ini menceritakan perjalanan Ibrahim setelah beliau ditolak kaumnya sendiri, bahkan oleh ayahnya.
وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
“Dan dia berkata, ‘Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'” (Ash-Shaffat: 99)
Inni dzahibun ila rabbi sayahdin.
Perhatikan susunannya. Beliau tidak berkata “aku pergi ke suatu negeri”. Beliau berkata “aku pergi menghadap Tuhanku”. Tujuannya bukan tempat, tapi Dzat.
Dan kalimat keduanya: Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Bukan “aku tahu jalannya”, tapi “aku akan ditunjukkan”.
Ini kalimat orang yang berangkat tanpa peta, tapi yakin akan diantar. Dan ini pula kalimat yang pas untuk siapa pun yang sedang bersiap menuju Baitullah.
Dialog seorang ayah dengan anaknya
Lalu datang bagian yang paling berat dalam seluruh kisah para nabi.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى ۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, dia berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Dia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (Ash-Shaffat: 102)
Ada beberapa hal di ayat ini yang membuat aku terdiam.
Ibrahim bertanya pendapat anaknya. Fanzhur madza tara. Padahal itu perintah dari Allah, dan beliau nabi. Tapi beliau tidak memaksakan. Beliau menyampaikan, lalu bertanya.
Anaknya menjawab tanpa menawar. Tidak bertanya kenapa, tidak minta penjelasan, tidak minta ditunda. Cuma satu kalimat: kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.
Dan Ismail mengucapkan insyaAllah. Di saat sesulit itu, dia tetap tidak memastikan kesabarannya sendiri. Satajiduni insya Allah minash shabirin, engkau akan mendapatiku sabar, insyaAllah.
Aku pernah menulis tentang kalimat insyaAllah di hari pertama, dari Surat Al-Kahf. Ternyata contohnya paling jelas ada di sini, dari mulut seorang anak yang sedang menghadapi kematiannya sendiri.
Lalu penggantinya datang:
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash-Shaffat: 107)
Dan dari peristiwa inilah kurban ada sampai hari ini.
Berjalan menuju mataf
Aku teringat rasanya berjalan dari pintu masjid menuju mataf/tempat tawaf.
Selalu berdebar. Ramai, sesak. Kadang hilang arah, bingung ini pintu yang mana, harus belok ke mana. Orang bergerak dari segala arah.
Lalu sampai di lantai mataf. Dan melihat Ka’bah.
Sungguh perasaan yang luar biasa. Sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata. Semua kebingungan tadi hilang seketika.
Setelah itu turun melantai dan memulai tawaf. Berputar, satu demi satu, sampai berakhir di putaran ketujuh. Lalu menuju sudut dekat Hijr Ismail untuk shalat sunnah. Lalu lanjut menuju Sa’i.
Di zaman ini, bukit tidak terasa bukit. Semuanya sudah datar, berlantai marmer, berpendingin udara. Yang tersisa hanya ujung puncak bukit Safa dan Marwah, berupa batu yang dibiarkan terbuka.
Batu itu yang mengingatkan.
Karena di sanalah dulu seorang ibu berdiri. Mendaki, menatap ke kejauhan mencari tanda kehidupan, lalu turun dan berlari di lembah, lalu mendaki lagi di seberang. Tujuh kali. Sendirian. Dengan bayi yang menangis kehausan di bawah sana.
Kita sekarang menempuh jalur yang sama dengan lantai yang rata dan udara yang sejuk. Tapi yang kita ulangi tetap langkah kaki perempuan itu.
Yang membuat semuanya berarti
Di surat yang sama, setelah rangkaian kisah kurban, ada satu ayat yang meluruskan segalanya. Meskipun letaknya di juz lain, maknanya persis di sini: yang sampai kepada Allah bukan daging dan darahnya, tapi ketakwaan.
Dan di juz ini, Surat Az-Zumar dibuka dengan penegasan yang sejenis:
فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ
“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (Az-Zumar: 2)
Itulah yang dulu hilang dari orang-orang yang mewarisi manasik Ibrahim. Gerakannya masih ada, tempatnya masih sama, tapi keikhlasannya sudah tidak ada.
Dan itu pula yang bisa hilang dari kita, kalau kita datang ke sana hanya untuk menyelesaikan rangkaian.
Apakah sama yang tahu dan yang tidak tahu
Surat Az-Zumar juga memuat pertanyaan yang kemarin sudah muncul di Surat Fathir, kali ini dengan kalimat yang lebih langsung:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'” (Az-Zumar: 9)
Dua hari berturut-turut pertanyaan yang sama datang dari dua surat berbeda. Tahu ilmu dan hikmahnya dan tidak tahu itu beda. Aku yakin ini penegasan.
Tawaf tetap tujuh putaran, baik bagi yang tahu maupun yang tidak. Sa’i tetap tujuh lintasan. Tapi yang dibawa pulang tidak akan pernah sama.
Orang yang tahu, ketika kakinya menginjak lantai antara Safa dan Marwah, sedang berjalan di tempat seorang ibu pernah putus asa lalu diselamatkan. Orang yang tidak tahu, sedang berjalan di koridor ber-AC.
Tempatnya sama. Isi dadanya berbeda.
Yang harus aku pahami
Seluruh rangkaian ibadah ini adalah jejak satu keluarga. Seorang ayah yang berangkat tanpa tahu jalannya, seorang ibu yang berlari tujuh kali tanpa menyerah, seorang anak yang menjawab perintah tanpa menawar.
Ribuan tahun jejak itu diikuti orang. Pernah melenceng, lalu diluruskan kembali.
Dan tugas kita bukan sekadar mengulangi langkahnya, tapi memahami kenapa langkah itu diabadikan.
Inni dzahibun ila rabbi sayahdin. Aku pergi menghadap Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.





