Tanggal 29 Januari, Juz 29
Kalau sebelumnya dalam pembahasan juz 29 saya membahas Al-Mulk, tentang kekuasaan mutlak Allah, kali ini kita menyambungkannya dengan surat setelahnya di juz yang sama, yaitu Surat Nun (Al-Qalam). Kalau Al-Mulk bicara tentang Sang Raja, Nun adalah tentang keutamaan Sang Utusan, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Surat Al-Qalam (pena), diawali dengan huruf Nun. Ini adalah bagian dari ayat-ayat yang dibaca nama hurufnya saja, atau huruf muqatta’at. Seperti Alif Lam Mim, tidak dibaca “Alam”, tapi dieja hurufnya per satu. Juga ada Yasin, Alif Lam Raa, dll.
Ulama mengatakan, penggunaan huruf tunggal ini adalah bentuk kemukjizatan dan cara Allah mencari perhatian. Saat itu, orang Arab sangat menghargai karya sastra dan bahasa. Seakan-akan Allah berkata kepada orang Arab “Hai, Al-Qur’an ini disusun dari huruf-huruf yang kalian kenal, tapi bisakah kalian membuat yang serupa?” Seketika, mereka kaget dan pasang telinga untuk menyimak apa yang akan disampaikan selanjutnya.
Masuk ke ayat kedua, Allah langsung melemparkan pengingkaran tegas, menolak mentah-mentah apa yang disampaikan orang-orang Quraish tentang Nabi Muhammad. Mereka menuduh Nabi orang gila.
“Mā anta bini‘mati rabbika bimajnūn” – “Kamu (Muhammad) bukanlah, karena nikmat Tuhanmu, orang yang gila.”
Padahal, sebelumnya Muhammad sangat dikenal sebagai orang yang paling jujur. Namun, hanya karena Muhammad menyatakan beliau adalah utusan Allah dan membawa kebenaran yang mengusik kenyamanan mereka, mereka berbalik 180 derajat dan memfitnah beliau gila.
Pembelaan pun langsung datang dari Allah. Tidak tanggung-tanggung, Allah membela kekasih-Nya dengan bersumpah demi Nun, dan menyebutkan pena, serta apa-apa yang tergores setelahnya.
Artinya: “Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”
Coba perhatikan indahnya pembelaan ini.
Ketika Nabi dituduh gila (yang identik dengan kekacauan pikiran dan tidak logis), Allah justru bersumpah demi Pena. Pena adalah simbol ilmu, simbol keteraturan, simbol kecerdasan, dan dokumentasi yang rapi, dan termasuk simbol karya sastra dan ketinggian bahasa.
Allah seakan ingin menegaskan: Mana mungkin seorang yang gila membawa risalah yang begitu cerdas dan tertulis rapi seperti ini?
Dan puncaknya ada di ayat ke-4, Allah memberikan kebenaran mutlaknya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Jadi, jawaban Allah terhadap tuduhan gila itu bukan dengan membalas makian, tapi dengan menunjukkan akhlak.
Hikmah buat kita adalah bahwa hidup kita pun harus seimbang. Kita tunduk pada Kuasa Allah (Al-Mulk), tapi kita juga harus cerdas dan berliterasi (Al-Qalam).
Dan yang paling penting, saat kita dituduh yang tidak-tidak, jangan sibuk membela diri dengan emosi. Biarkan “Pena” (karya nyata) dan “Akhlak” kita yang menjawabnya. Tuduhan buruk akan hilang ditelan angin, tapi tulisan kebaikan dan akhlak mulia akan abadi dicatat oleh pena malaikat.
Wallahua’lam
