24 Februari, Juz 24.
Bismillah.
Melanjutkan renungan kemarin yang baru saja membahas ketundukan lewat ruku dan sujud. Tujuan utama dan fokus dari ruku dan sujud pertama adalah memohon ampunan. Hari ini, seolah gayung bersambut, di Juz 24 langsung dipertemukan dengan Surat Al-Ghafir.
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu diketahui Juz 24 ini terdiri dari tiga bagian: lanjutan sepertiga akhir Surat Az-Zumar, Surat Al-Ghafir secara utuh, dan sebagian besar Surat Fussilat.
Menariknya, Al-Ghafir ini juga dinamai Surat Al-Mu’min (Orang yang Beriman). Nama ini disematkan karena di dalamnya terdapat kisah epik tentang seorang laki-laki dari keluarga Firaun yang menyembunyikan keimanannya, namun dengan berani membela Nabi Musa dari rencana pembunuhan Firaun.
Tapi hari ini, pengin fokus ke Surat Al-Ghafir. Artinya Yang Maha Mengampuni. Sangat selaras dengan tujuan bersujud kemarin. Di awal surat ini, tepatnya di ayat ke-3, Allah langsung memperkenalkan diri-Nya dengan firman yang luar biasa: “Ghafiridz dzambi wa qaabilit taub”, Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat.
Ayat ini seolah menjadi jaminan untuk hamba yang mau memohon ampun dan bertaubat. Dalam Tafsir Al-Jalalain dijelaskan, “Ghafiridz dzambi” berarti Dia yang mengampuni dosa orang-orang mukmin, dan “Qaabilit taub” berarti Dia yang menerima taubat mereka. Sifat Allah ini ditegaskan pula dalam firman-Nya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-Hijr: 49)
Tadi pagi aku dengar di youtube Tafsir Surat Al-Ghafir oleh Ustadz Firanda Andireja, beliau menyampaikan kata ghafir serumpun dengan kata mighfar, yang berarti tameng atau pelindung kepala (helm besi) yang dipakai pasukan perang. Artinya, ampunan Allah (maghfirah) itu sifatnya menutupi dan melindungi. Saat Allah mengampuni, Dia bukan sekadar memaafkan, tapi Dia memberikan perisai yang melindungi diriku dari dampak buruk dan azab akibat dosa-dosa yang kulakukan.
Lalu, muncul pertanyaan di kepalaku: kenapa aku harus terus-menerus minta ampun?
Pertama, karena Rasulullah mengingatkan bahwa setiap kali manusia berbuat satu kesalahan, maka akan ditorehkan satu noda hitam (nukthah sauda’) di dalam hatinya. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Seorang hamba apabila melakukan suatu dosa maka akan ada titik hitam di hatinya. Apabila ia meninggalkannya, meminta ampun dan bertobat kepada Allah, hatinya bersih kembali. Apabila ia kembali berdosa, titik hitam itu akan kembali lagi hingga menutupi hatinya. Itulah yang disebut ar-ran.”
Jika dibiarkan, noda itu akan menumpuk hingga hati menjadi gelap, keras, dan mati rasa terhadap kebaikan. Inilah yang disebut Allah dalam Surah Al-Muthaffifin ayat 14 sebagai ar-ran (penutup hati akibat dosa yang menumpuk).
Kedua, aku teringat penjelasan Ustadz Adi Hidayat. Beliau menganalogikan dosa itu seperti tabir atau hijab pembatas. Doa, rezeki, dan rahmat Allah itu sebenarnya selalu turun, tapi karena diriku penuh dosa, rahmat itu tertahan oleh tabir tersebut. Ini selaras dengan kaidah yang dijelaskan ulama: “at-takhliyyah muqaddamatun ‘alat-tahliyyah”, membersihkan diri itu lebih utama daripada menghiasi diri. Doa dan rahmat Allah tidak akan bisa tembus kepada orang yang terhalang dosa. Maka, sebelum meminta hajat apapun dalam shalat, menyingkirkan tabir adalah prioritas. Caranya? Dengan istighfar. Pantas saja sujud pertama harus fokus minta ampun sebelum duduk di antara dua sujud untuk meminta rezeki dan kesehatan.
Lalu apa bedanya istighfar (minta ampun) dengan taubat?
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Jika istighfar disebutkan bersamaan dengan taubat, maka yang dimaksud adalah meminta perlindungan dari kejelekan (dosa) yang telah terjadi. Sedangkan taubat adalah kembali dan meminta perlindungan dari kejelekan yang dia takutkan terjadi di masa yang akan datang. Maka istighfar adalah menghilangkan kejelekan, sedangkan taubat adalah meminta adanya manfaat (kebaikan).”
Secara sederhana, istighfar adalah permohonan dengan lisan: “Ya Allah, ampuni aku, tutupi aibku”. Sedangkan taubat adalah tindakan nyata untuk kembali. Lima syarat taubat yang harus dipenuhi: (1) ikhlas karena Allah, (2) melepaskan diri dari dosa, (3) menyesali perbuatan, (4) bertekad tidak mengulangi, dan (5) dilakukan sebelum sakaratul maut.
Minta ampun pasti diampuni, taubat pasti diterima, asalkan syarat-syaratnya terpenuhi. Istighfar adalah doanya, taubat adalah pembuktiannya. Itulah indahnya Allah memisahkan kata “mengampuni dosa” dan “menerima taubat” di ayat ke-3 tadi. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Huud ayat 3: “Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya”, jadi ada urutan yang jelas: istighfar dulu, baru taubat.
Tapi, sebagai manusia biasa yang sering jatuh di lubang yang sama, aku sering merasa ragu. Aku sering minta ampun, tapi bagaimana aku tahu apakah benar aku sudah diampuni? Bagaimana tanda taubatku diterima?
Para ulama menenangkan hati yang gelisah ini dengan memberikan indikator yang sangat logis. Di antara tanda-tanda yang mengisyaratkan kesungguhan tobat seorang hamba adalah: si hamba merasakan hatinya sangat sedih karena dosa yang ia lakukan. Ia melihat dirinya selalu lalai dalam menunaikan hak Allah. Ia semakin menjauhi perbuatan dosa dan semua faktor yang menggiring kepadanya, serta semakin bersemangat dalam mendekatkan diri kepada Tuhannya.
Ya Allah, mumpung hari ini masih bulan Ramadhan, jadikanlah sujud-sujudku sebagai pelebur noda hitam di hatiku. Singkirkanlah tabir dosaku, dan turunkanlah pelindung mighfar-Mu untukku.
Wallahu a’lam.
