Doaku Selama Ini Cuma Jadi Emergency Call, Bukan Daily Connection

17 Maret, Juz 17

Bismillah.

Semua orang tahu doa itu penting. Tapi tidak semua orang mau sungguh-sungguh berdoa, kecuali kalau sudah merasa “harus”. Entah karena sedang terjepit masalah, sedang butuh hajat besar, atau karena sudah tidak punya pilihan lain.

Seringkali, sehabis shalat berjamaah di rumah, si krucil langsung bubar jalan. Kembali ke mainannya, kembali ke dunianya. Kalau dipanggil, “Tunggu, doa dulu,” selalu saja ada alasannya untuk menghindar.

Mungkin karena mereka masih kecil dan belum punya beban hidup. Atau jangan-jangan memang seperti itulah tabiat manusia pada umumnya, doa itu baru terasa perlu dipanjatkan kalau hidup mulai terasa berat atau kalau butuh saja.

Kalau mau jujur mengkritisi diri sendiri, mungkin aku, sebagai orang dewasa, tidak jauh berbeda. Saat keuangan aman, badan sehat, dan karir lancar, koneksi dengan Allah sering turun jadi prioritas sekian. Doa seusai shalat terasa basa-basi, tidak mendesak. Tapi begitu hidup mulai sempit, barulah tangan terangkat tinggi, tangis pecah mencari-cari Tuhan, dan durasi doa mendadak jadi sangat panjang.

Selama ini, mungkin aku memperlakukan doa seperti emergency call (panggilan darurat 112 atau 911), hanya dipakai saat hidup mulai berantakan dan butuh pertolongan segera. Padahal seharusnya, doa itu daily connection, rutinitas yang tetap terjaga hangat bahkan saat semuanya sedang baik-baik saja.

Biar aku ingat, kalau bicara doa, kita juga bicara shalat khusyu, karena di dalam sholat khusyu ada berlimpah doa yang kita panjatkan, yang mungkin seringnya dengan tidak khusyu.

Di Juz 17 hari ini, tepatnya di Surah Al-Anbiya’ (Surahnya Para Nabi), aku menemukan kisah doa yang luar biasa. Menariknya, sebagian besar doa di surah ini memang lahir dari titik terpojok yang sangat ekstrem.

Nabi Ayyub berdoa saat tubuhnya digerogoti sakit belasan tahun dan ditinggalkan semua orang (ayat 83). Nabi Yunus berdoa saat terjebak dalam gelap dan pengapnya perut ikan (ayat 87).

Itu seperti mengonfirmasi realitas, manusia memang butuh ruang putus asa untuk benar-benar kembali kepada Allah.

Tapi kenapa saat para nabi itu menekan tombol emergency call, Allah langsung merespons dengan kalimat sakti “Fastajabna lahu” (Maka Kami kabulkan doanya)? Apa “cheat code” atau rahasianya sehingga panggilan darurat mereka langsung tembus ke langit tanpa delay?

Jawabannya dibongkar Allah di akhir rentetan kisah tersebut, tepatnya di ayat 90:

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

Rupanya di sinilah kuncinya. Doa para nabi saat krisis itu langsung diangkat oleh Allah karena jauh sebelum krisis itu datang, saat mereka masih sehat, lapang, dan berkuasa, mereka rajin membangun daily connection. Mereka selalu bersegera berbuat baik di waktu lapang. Itulah “investasi” kedekatan mereka. Mereka tidak tiba-tiba datang hanya saat butuh.

Anak-anak mungkin belum betah berdoa karena mereka belum merasa butuh. Dan aku? Mungkin sudah merasa butuh, tapi belum terbiasa berinvestasi menjadikan doa dan amal saleh sebagai kebutuhan harian di waktu senggang.

Tidak salah menekan emergency call dan merintih saat hidup terpojok. Allah Maha Pendengar. Tapi kisah Juz 17 ini mengajarkan bahwa hubungan terbaik dengan Allah tidak dibangun mendadak saat krisis terjadi, melainkan dijaga setiap hari lewat amal dan doa di waktu lapang.

Dan mungkin itulah poin utama yang ingin pelan-pelan kuajarkan ke anak-anak. Bukan sekadar menyuruh mereka berdoa saat ada maunya, tapi melatih mereka berdoa karena sadar betapa dekatnya mereka dengan Penciptanya.

Bulan Ramadhan ini, ketika kita lebih bersemangat karena berharap mendapat imbalan-imbalan istimewa seperti lailatul qadar, semoga jadi penentu standar baru. Apa yang bisa kumaksimalkan di bulan ini, semoga tidak mengendor atau berhenti di bulan-bulan berikutnya, termasuk investasi yang kutanam bulan ini, semoga terus diikuti investasi-investasi berikutnya secara konsisten. Agar semua itu jadi daily connection, mempermudahku ketika suatu saat membutuhkan emergency call dengan cheat code ijabah.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News