Dua Kaki Ujian Manusia — Kesulitan dan Kemudahan

22 Januari, Juz 22

Di juz ini ada akhir Surat Al-Ahzab, Surat As-Saba’, dan awal Surat Fathir.

Ada tiga pesan yang disampaikan.

Pertama, walau sedikit kembali ke awal Surat Al-Ahzab di Juz 21, sisa-sisa Perang Khandaq masih memberikan banyak pelajaran.
Pasukan sekutu berjumlah besar mengepung Madinah. Parit digali atas ide Salman al-Farisi. Ketakutan menyelimuti warga Madinah melihat besarnya pengepungan. Tapi orang-orang beriman tetap tegar.
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami.”
Mereka tidak hanya bertahan, tapi menemukan ketenangan di tengah kepungan.

Surat berikutnya, As-Saba’.
Sebuah negeri yang digambarkan seperti surga. Kebun-kebun hijau, air mengalir di antara dua taman. Negeri yang terasa seperti mimpi.
Tapi di sini juga ada ujian yang berbeda. Bukan soal bertahan dari musuh, tapi soal mengingat Allah saat hidup terasa mudah dan nikmat.

Dikisahkan penduduk Saba’ yang tidak lolos ujian itu. Mereka tidak bersyukur.
Akhirnya, surga yang dibangun dengan kenikmatan runtuh oleh kelalaian mereka sendiri.

Di antara dua potret ekstrem itu, hadir Surat Fathir, yang dibuka dengan kalimat:
“Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi…”
Sebuah pengingat bahwa semua keadaan, sesulit atau semudah apa pun, berasal dari sumber yang sama.

Hari ini, mungkin kita sedang berada di salah satu kondisi itu.

Ada yang merasa dikepung oleh deadline, oleh masalah keluarga, oleh ketidakpastian yang membuat napas terasa sesak. Di saat seperti itu, mungkin kita bisa mengingat bisikan orang-orang di parit Madinah:
bahwa ketenangan bisa tumbuh justru di tengah kepungan.

Ada juga yang sedang menikmati “kebun Saba’”-nya sendiri, karier yang naik, usaha yang lancar, hidup yang terasa aman dan manis.
Di sini ujiannya diam-diam. Apakah kita masih ingat untuk bersyukur?
Atau jangan-jangan mulai merasa semua ini murni hasil tangan kita sendiri?
Hati-hati, jangan sampai jatuh pada istidraj, nikmat yang justru menjerumuskan.

Kedua keadaan itu sama-sama ujian.
Kesulitan menguji ketahanan.
Kemudahan menguji ingatan.

Mungkin itulah pelajaran tersembunyi dari Juz 22 ini.
Bahwa menjadi manusia beriman itu seperti belajar berdiri di atas dua kaki yang berbeda.
Satu kaki belajar teguh saat dihantam badai.
Satu kaki lagi belajar rendah hati saat menikmati hasil.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News