Istana Megah Dan Skincare Mahal, Tapi Yang Awet Cuma Yang Dijaga Dari Hati

25 Maret, Juz 25

Bismillah.

Di Juz 25 ada pesan yang sangat kuat tentang hakikat kehidupan dunia.

Salah satunya dalam Surah Az Zukhruf, yang secara bahasa bermakna perhiasan dunia. Allah berfirman, “Apakah mereka membagi bagi rahmat Tuhanmu. Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat…” (QS Az Zukhruf ayat 32).

Dan dalam ayat lain, “Dan sekiranya bukan karena Kami khawatir bahwa manusia menjadi satu umat dalam kekafiran, niscaya Kami jadikan bagi orang orang yang ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, atap atap rumah mereka dari perak…” (QS Az Zukhruf ayat 33).

Ayat ini seakan menegaskan kemegahan dunia bisa saja Allah limpahkan, tapi bukan karena itu tanda kemuliaan. Semua itu hanyalah perhiasan yang fana.

Lebih tajam lagi, dalam Surah Al Jathiyah ayat 23, Allah menggambarkan manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan.

Dua pesan di atas terasa sejalan, dunia itu indah tapi bisa menipu, nafsu itu perlu tapi bisa menjerumuskan kalau kita kehilangan arah.

Dengan kacamata itu, aku mencoba membaca perjalanan hari ini tentang pengalaman melihat perhiasan dunia.

Aku berjalan di pelataran istana raja, lengkap dengan pakaian tradisionalnya. Pakaiannya nyaman, halus, dan longgar. Memandang sekeliling, mereka yang menggunakan pakaian serupa juga tampil sopan dan bersahaja. Yang aku rasakan, inilah hakikat pakaian yang sebenarnya. Ia bukan untuk menonjolkan tubuh, tapi untuk menghadirkan ketenangan. Keanggunan justru muncul saat sesuatu tidak dipamerkan.

Istana megah ini pun berbicara. Ia pernah dibangun, dihancurkan, dibangun kembali, lalu dihancurkan lagi. Kini berdiri lagi sebagai rekonstruksi. Bukan hanya cerita bangunan, tapi juga drama manusia di dalamnya, tentang kekuasaan, ambisi, kehancuran, lalu dilupakan. Pengingat nyata bahwa kemegahan peradaban hanyalah titipan sementara.

Hari ini aku juga belajar dari dua orang ahli, satu dari dunia perawatan kulit dan satu lagi dari pengolah ginseng. Dari ahli perawatan kulit, aku dapat pelajaran bahwa yang paling penting dalam merawat kulit adalah menjaga dari dalam lewat nutrisi dan hidrasi, lalu menjaga dari luar dengan perlindungan dasar seperti tabir surya. Produk lainnya hanyalah pelengkap. Perawatan terbaik ternyata bukan dari lapisan luar, tapi dari fondasi dalam.

Di negara dengan empat musim, merawat kulit memang berawal dari kebutuhan. Tapi dari kebutuhan, berkembang jadi industri, dan sangat mudah bergeser jadi obsesi. Jangan sampai kebutuhan berubah jadi ketergantungan. Jangan sampai perawatan berubah jadi penghambaan pada standar fisik. Karena sehebat apa pun krim anti penuaan, ia tidak akan pernah mengalahkan waktu.

Pelajaran kedua datang dari ginseng. Tanaman ini tumbuh perlahan, menyerap sari pati tanah selama bertahun-tahun dan ditempa oleh alam. Tidak instan, tidak cepat. Tapi justru dari proses panjang itu ia jadi bernilai, seolah mengingatkan bahwa kekuatan sejati tumbuh dari dalam, dan butuh kesabaran.

Dua pelajaran ini terasa menyatu, menjaga dari dalam, sabar dalam proses.

Lalu aku berjalan di pasar tradisional. Suasananya sederhana, fungsional, dan membumi. Orang datang untuk kebutuhan, bukan untuk pengakuan.

Tapi malam menghadirkan wajah yang berbeda. Langkahku masuk ke pusat perbelanjaan yang gemerlap. Cahaya lampu, lautan manusia, papan iklan, dan etalase barang mewah seolah berkata bahwa inilah pusat kehidupan. Bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi dorongan untuk memiliki, untuk tampil, dan untuk diakui.

Sampai di sini ayat tentang zukhruf, perhiasan, terasa begitu nyata. Semua ini indah, semua ini menarik, tapi semuanya hanyalah perhiasan. Dan perhiasan, seindah apa pun, tidak pernah jadi inti atau utama.

Safar hari ini jadi pengingat yang sangat halus. Merawat fisik secukupnya, menikmati dunia seperlunya, boleh saja. Tapi jangan sampai hati ikut terikat.

Karena sebaik-baiknya pencerah wajah adalah air wudhu, dan sebaik-baiknya pakaian anti penuaan adalah ketakwaan.

Pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang nanti bukan apa yang kita beli, tapi apa yang berhasil kita jaga di dalam hati.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News