Hari #33, 17 Oktober – Juz 17

Bismillah

Beberapa hari lalu ada postingan di IG tentang seorang jamaah yang sedang berusaha fokus dan khusyuk tawaf, lalu tiba-tiba muncul rombongan Indonesia yang ramai membaca doa bersama-sama dengan panduan pimpinannya. Buyar fokus dia, katanya.

Lalu di halaman bawahnya, komentarnya macam-macam.

Ada yang terus terang merasa terganggu. Ada yang menyampaikan sebaiknya bagaimana, dengan nada menasihati. Dan ada juga yang bercerita bahwa akhirnya dia justru mengikuti bacaan rombongan yang tadinya dianggap berisik itu.

Lalu muncul juga komentar dari pihak sebaliknya. Ada orang Indonesia yang meminta maaf dan meminta pengertian. Alasannya macam-macam. Jamaah dipandu karena memang membutuhkan bimbingan. Jamaah yang posturnya kecil gampang terdorong-dorong, jadi harus disatukan supaya tidak terpisah. Dan berbagai alasan lain yang semuanya masuk akal.

Dua-duanya punya titik benar, dan itu yang membuat pembahasannya menarik.

Belajar Manasik 07: Tawaf dan tata caranya

Supaya tidak cuma berdebat soal suara, lebih baik diurutkan dulu apa yang memang diajarkan.

Syarat sahnya. Suci dari hadas besar dan kecil, menutup aurat, dan tawafnya dilakukan di dalam Masjidil Haram.

Jumlahnya tujuh putaran, dimulai dan diakhiri di garis sejajar Hajar Aswad. Ka’bah selalu berada di sebelah kiri, jadi arah geraknya berlawanan dengan jarum jam. Dan Hijr Ismail harus berada di luar lintasan, karena bagian itu termasuk Ka’bah, sehingga tidak boleh dilewati dari dalam.

Sunnahnya untuk laki-laki pada tawaf umrah dan tawaf qudum ada dua. Idhtiba, yaitu membuka pundak kanan dengan menyelipkan kain ke bawah ketiak, dilakukan sepanjang tujuh putaran. Dan raml, yaitu berjalan cepat dengan langkah pendek, hanya pada tiga putaran pertama. Setelah tawaf selesai, pundak ditutup kembali.

Setiap kali sejajar dengan Hajar Aswad disunnahkan beristilam, yaitu mengusap atau cukup memberi isyarat dari jauh, sambil mengucapkan bismillah Allahu akbar. Kalau padat, cukup isyarat, dan tidak perlu memaksakan diri mencium.

Setelah selesai tujuh putaran, shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim kalau memungkinkan, atau di mana saja di dalam masjid kalau tidak.

Soal bacaannya, ini yang sering keliru dikira ada doa khusus

Ternyata tidak ada doa khusus yang ditetapkan untuk tawaf, apalagi doa khusus untuk tiap putaran.

Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar menyatakan bahwa tidak ada doa tertentu yang diharuskan di dalam tawaf. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa juga menyebut bahwa seluruh dzikir dalam tawaf itu tidak wajib menurut kesepakatan ulama.

Yang sahih riwayatnya cuma dua. Bacaan bismillah Allahu akbar ketika sejajar Hajar Aswad, dan doa sapu jagad antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, yaitu rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzaban nar.

Selebihnya bebas. Mau berdzikir, beristighfar, bershalawat, membaca Al-Qur’an, atau berdoa dengan bahasa sendiri, semuanya boleh.

Lalu kenapa ada buku doa per putaran? Itu susunan para ulama belakangan, untuk membantu jamaah yang belum tahu mau membaca apa. Niatnya baik, dan memakainya pun tidak salah. Yang keliru kalau dianggap wajib, atau dianggap tawafnya kurang sah kalau bacaannya tidak lengkap.

Jadi siapkan sendiri dari rumah

Dari situ justru terbuka peluang yang sering tidak dimanfaatkan.

Kalau bacaannya bebas, berarti kita bisa menyusun rencana sendiri sejak dari rumah. Misalnya dengan menentukan setiap putaran itu doanya untuk siapa.

Putaran pertama untuk diri sendiri. Putaran kedua untuk kedua orang tua. Berikutnya untuk pasangan, untuk masing-masing anak, untuk saudara dan kerabat, untuk guru dan orang-orang yang pernah menolong kita, lalu untuk kaum muslimin secara umum. Urutannya terserah, dan isinya bisa disiapkan jauh-jauh hari.

Manfaatnya beberapa.

Tidak bosan, karena tiap putaran punya isi yang berbeda. Tetap fokus, karena ada yang dituju dan bukan sekadar berputar sambil menghitung. Doanya pun lebih bersungguh-sungguh, karena memakai bahasa sendiri dan menyebut nama orang-orang yang kita kenal.

Dan satu lagi, kita jadi tidak gampang terbawa suara rombongan lain, karena sudah punya urusan sendiri yang jelas.

Ini yang menurutku perlu disiapkan dari sekarang, bukan dipikirkan setelah sampai di sana.

Soal suara rombongan

Di sinilah jawaban untuk perdebatan di kolom komentar tadi.

Para ulama memberi catatan cukup keras tentang rombongan yang membaca doa dengan suara keras mengikuti pemandunya. Alasannya dua. Pertama, karena doa yang dibaca itu memang tidak ditetapkan khusus. Kedua, karena mengganggu kekhusyukan jamaah lain yang sedang tawaf.

Ada juga catatan yang mengena, bahwa doa yang dibaca tanpa dipahami artinya itu tidak banyak gunanya. Jadi lebih baik berdoa dengan kalimat sendiri yang dimengerti, daripada mengikuti bacaan panjang yang tidak dipahami.

Dasarnya ada di Al-A’raf, yang sudah pernah aku tulis di Juz 9, bahwa kita diperintahkan berdoa dengan rendah hati dan suara lembut, dan bahwa Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.

Saran yang disampaikan para ulama untuk muthawwif pun masuk akal. Tugas pemandu adalah memastikan jamaahnya tidak keliru dalam tata cara, lalu menunjukkan apa yang perlu dilakukan, setelah itu biarkan mereka berdoa dan berdzikir sendiri.

Tapi alasan rombongan itu juga tidak bisa diabaikan

Aku tidak mau menghakimi, karena alasan di balik rombongan yang menempel itu nyata.

Jamaah lansia yang mudah terdorong memang perlu dijaga dalam satu barisan. Jamaah yang baru pertama kali datang memang perlu dituntun. Dan kalau terpisah di tengah mataf yang padat, mencarinya tidak mudah.

Jadi masalahnya bukan pada rombongannya, melainkan pada volume suaranya.

Solusinya sebenarnya sudah ada

Teknologinya tersedia, dan tinggal dipakai.

Pemandu memakai mikrofon kecil, jamaah memakai earphone atau headset penerima. Suaranya terkendali, bimbingannya tetap sampai, dan jamaah lain di sekeliling tidak terganggu sama sekali.

Alat semacam ini sudah biasa dipakai untuk tur museum dan rombongan wisata, harganya tidak mahal, dan untuk rombongan umrah justru manfaatnya lebih besar. Selain untuk doa, bisa dipakai juga untuk mengarahkan jamaah yang mulai terpisah.

Masih ada cara lain yang lebih sederhana. Rombongan tetap bergerak bersama dan saling menjaga, tapi pemandu cukup memberi aba-aba seperlunya, dan sisanya masing-masing berdoa sendiri dengan suara lirih.

Intinya ada jalan keluarnya, dan tidak harus memilih antara menjaga jamaah atau menjaga ketenangan orang lain.

Yang perlu dihindari justru saling menyalahkan

Dari membaca kolom komentar itu, yang paling mengganggu buatku bukan soal suaranya, melainkan nada saling menyalahkan dan ego masing-masing pihak.

Yang satu merasa paling tahu adab dan menganggap yang lain kampungan. Yang lain merasa dihakimi lalu membalas dengan nada tersinggung.

Padahal dua-duanya sedang berada di tempat yang sama, dengan tujuan yang sama, dan sedang mengelilingi rumah yang sama.

Kalau masalahnya teknis, carikan solusi teknis. Kalau masalahnya ilmu, sampaikan ilmunya dengan baik. Yang tidak perlu justru merasa lebih benar dari orang yang sedang beribadah di sebelah kita.

Juz ini menyebut tawaf dua kali

Perintahnya diberikan sejak awal, kepada Ibrahim.

وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْقَاۤىِٕمِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

“Dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk serta sujud.” (Al-Hajj: 26)

Lalu perintah tawafnya sendiri.

وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan tawaf di Baitul Atiq.” (Al-Hajj: 29)

Dan di antara keduanya ada ayat yang sering terlewat.

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

“Demikianlah, dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

Ukurannya disebut dengan jelas, yaitu takwa hati. Bukan kerasnya suara, bukan lengkapnya bacaan, dan bukan juga berhasil tidaknya menyentuh Hajar Aswad.

Godaannya bukan cuma rombongan ramai

Yang aku pelajari dari perdebatan di kolom komentar itu, tantangan sebenarnya ada dua, yaitu tahu ilmunya dan mau berikhtiar menjalankannya.

Karena godaan di mataf bukan cuma suara rombongan. Ada hape yang dipakai merekam, ada orang yang berfoto, ada yang berhenti mendadak, ada yang menyerobot, ada panas, ada lelah, dan ada pikiran kita sendiri yang melayang ke urusan di rumah.

Kalau semua itu dijadikan alasan, tidak akan ada tawaf yang khusyuk.

Jadi yang bisa disiapkan dari sekarang cuma dua. Ilmunya dipelajari, dan rencana doanya disusun. Sisanya diserahkan.

Wallahu a’lam bi showab.

 
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *