Tanggal 8 Januari, di Juz 8 ada firman Allah:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
(QS Al-An‘am: 116)

Artinya,
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan mereka hanya berdusta.”

Ayat ini terasa biasa saja, tapi sebenarnya menampar cara berpikir kita sehari-hari. Kita sering menganggap, apa yang sering kita lihat, dibenarkan, atau dilakukan banyak orang, maka otomatis benar.

Ada ungkapan satire lama di Eropa,
“If Paris says yes, it must be true.”
Kalau orang Paris bilang iya, pasti benar.

Hari ini versinya berubah.
Kalau ramai dianggap baik.
Kalau viral dianggap benar.
Kalau mayoritas setuju, dianggap paling masuk akal.

Contohnya sangat dekat dengan hidup kita.
Kalau semua datang telat, telat jadi normal.
Kalau semua menunda, menunda jadi wajar.
Kalau semua mengambil celah kecil, celah itu dianggap bukan dosa.
Kalau semua diam, diam dianggap baik-baik saja.

Padahal Allah sudah mengingatkan, bahwa
kebanyakan manusia berjalan bukan dengan ilmu dan kebenaran, tapi dengan prasangka dan kebiasaan.

Lalu muncul pertanyaan:
Kita ini makhluk sosial dan butuh kebersamaan. Kita ingin diterima dan tidak ingin sendirian.

Iya, itu benar.
Tapi orang beriman dituntut untuk punya satu keberanian tambahan, yaitu
berani tidak ikut arus ketika arus itu menjauh dari kebenaran. Ya paling tidak berani menggunakan keahlian kritis kita, dengan banyak bertanya “Why?”, dan selanjutkan kembalikan pada pedoman hudan kita.

Apakah kita siap?

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News