1 April, Juz 1
Bismillah.
Sudah dua tahun lebih kita menonton genosida ini. Bukan lewat rumor, bukan lewat laporan yang masih perlu diverifikasi, tapi lewat video yang diunggah sendiri oleh korbannya sebelum mereka mati. Dan dunia tetap diam. Bukan diam karena tidak tahu, tapi diam karena memilih. Negara-negara yang paling lantang bicara soal hak asasi justru yang paling rajin mengirim senjatanya.
Hari ini duka itu sampai ke rumah sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Tiga putra terbaik bangsa kita yang bertugas di pasukan penjaga perdamaian UNIFIL gugur oleh kebrutalan Israel. Pasukan perdamaian, di bawah bendera PBB, dan tetap saja ditembaki. Di panggung dunia, di hari yang sama, kebohongan dan arogansi dipertontonkan tanpa malu sedikit pun.
Dari situ aku jadi kepikiran terus. Bangsa ini unik sekali, dan ceritanya penuh belokan yang sulit dipercaya. Mereka pernah menjadi bangsa yang dimuliakan, diselamatkan dari Firaun dengan cara yang sampai hari ini masih diceritakan orang, laut dibelah, makanan diturunkan dari langit, air keluar dari batu. Nabi-nabi diutus kepada mereka bergantian, tidak ada bangsa lain yang sebanyak itu dikirimi utusan. Tapi di halaman berikutnya, mereka juga yang membangkang, menawar perintah, bahkan membunuhi nabinya sendiri. Naik turunnya ekstrem sekali. Dan yang bikin merinding, pola itu berulang, bukan sekali dua kali.
Waktu aku coba cari penjelasan tentang mereka, ternyata bahan paling lengkapnya sudah ada sejak dulu. Al-Qur’an membahas Bani Israel jauh lebih detail daripada bangsa mana pun. Kisah mereka, watak mereka, cara mereka bereaksi ketika diberi perintah, cara mereka memutar kata, semuanya direkam. Musa disebut paling sering dibanding nabi mana pun. Bahkan surat terpanjang dalam Al-Qur’an dinamai dari salah satu episode paling aneh dalam sejarah mereka, urusan seekor sapi betina.
Dan itu jelas bukan supaya kita punya bahan bergunjing. Allah tidak sedang menyusun daftar aib satu bangsa. Semua itu dibuka supaya bisa dibaca sebagai pelajaran, karena penyakit yang menjangkiti mereka bukan penyakit khusus bangsa tertentu. Itu penyakit manusia. Siapa saja bisa kena, termasuk aku.
Jadi bulan ini aku niatkan baca satu juz sehari sambil memegang benang merah itu. Bukan untuk menghakimi masa lalu orang lain, tapi untuk melihat bagian mana dari pola panjang itu yang ternyata sedang bicara soal diriku sendiri.
Dan Juz 1 langsung mengurut semuanya sampai ke akar. Akarnya sepele kedengarannya: merasa paling benar.
Mereka pikir surga itu milik golongan mereka saja (ayat 111). Kalaupun kena neraka, katanya cuma sebentar (ayat 80). Sekarang kita menyebutnya superiority complex, yang ujungnya melahirkan sense of entitlement. Merasa unggul bukan karena ketaatannya bagus, tapi karena merasa punya label yang benar. Dari situ semuanya bercabang, dan Allah membongkar cabangnya satu-satu.
Yang paling dasar ya rasa unggul tadi. Kalau identitasku sudah benar, keselamatanku aman. Kalimat itu terdengar menenangkan, padahal mematikan. Orang berhenti tumbuh karena merasa sudah cukup baik.
Lalu integritas yang bocor. Ayat 44 menegur orang yang rajin menyuruh orang lain berbuat baik tapi lupa dirinya sendiri. Nilai bilang A, kelakuan jalan ke B. Di kantor itu namanya gagal integritas. Di rumah, itu namanya kehilangan wibawa di mata anak.
Berikutnya, yang benar dan yang salah sengaja diaduk. Kebenaran disembunyikan padahal mereka tahu persis (ayat 41 sampai 42). Lebih parah lagi, sambil merusak mereka mengaku sedang memperbaiki (ayat 11). Kita punya nama untuk itu sekarang, gaslighting.
Ada juga penyakit tidak bisa menikmati apa yang sudah ada. Manna dan salwa turun dari langit, gratis, tanpa capek. Yang diminta malah yang lebih rendah (ayat 61). Mata terus tertuju ke yang belum dimiliki, jadi yang di tangan tidak pernah terasa cukup.
Dan yang terakhir, drama sapi betina. Perintahnya satu kalimat, sembelih seekor sapi betina. Yang keluar bukan pisau, tapi pertanyaan. Sapinya yang mana, warnanya apa, umurnya berapa (ayat 67 sampai 71). Bertanya begitu bukan supaya paham. Bertanya begitu supaya bisa mengulur.
Masalahnya, bertanya supaya paham dan bertanya supaya bisa mengulur itu bentuk luarnya nyaris sama.
Bedanya baru kelihatan kalau kita jujur. Critical thinking itu akal dipakai buat mencari terang, memahami masalah, mencari jalan keluar. Sifatnya membangun, dan biasanya malah bikin eksekusi lebih cepat. Sedangkan weaponized questioning itu akal dipakai buat bertahan. Pertanyaannya dilempar supaya urusan jadi rumit, bukan supaya jadi jelas.
Kalau mau lebih tajam lagi, lihat tiga hal. Niatnya, yang satu cari solusi, yang satu cari jalan keluar dari tanggung jawab. Konteksnya, yang satu muncul waktu masalah memang belum jelas, yang satu muncul justru waktu perintahnya sudah terang benderang. Hasilnya, yang satu berujung tindakan, yang satu berujung penundaan dan orang-orang yang makin bingung.
Untungnya Al-Qur’an tidak berhenti di daftar penyakit. Obatnya juga sudah lengkap di juz yang sama.
Rasa unggul itu obatnya kesadaran bahwa kita belum selesai dan memang tidak akan pernah selesai. Ayat 82 dan 177 menegaskan, yang menyelamatkan bukan label, tapi iman yang kelihatan wujudnya dalam amal. Integritas yang bocor obatnya keberanian menagih diri sendiri lebih dulu sebelum menagih orang lain, dan ayat 44 sudah cukup keras menamparnya.
Untuk gaslighting, obatnya jujur secara intelektual. Berani berpihak pada yang benar walaupun ego yang jadi korban, seperti larangan mengaduk yang hak dengan yang batil di ayat 42. Untuk hati yang tidak pernah puas, obatnya syukur yang dilatih dengan sengaja, sebagaimana ayat 40 menyuruh kita mengingat nikmat Allah dan menepati janji kepada-Nya.
Sisanya, drama sapi betina, obatnya kedewasaan memakai akal. Tahu kapan harus berpikir, tahu kapan harus tunduk saja. Ayat 112 bicara soal menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
Pakai akal untuk memperjelas yang belum jelas. Pakai hati untuk tunduk pada yang sudah jelas.
Yang tidak enak, contoh pertama yang muncul di kepalaku ternyata bukan Bani Israel. Aku ingat beberapa meeting yang pertanyaanku panjang, terdengar cerdas, dan sebenarnya isinya cuma satu, aku belum mau mengerjakannya. Aku juga hafal rasanya merasa lebih baik dari orang lain gara-gara ibadahku kebetulan lebih kelihatan. Dan aku masih lancar menasihati sambil menunda memperbaiki diri.
Al-Qur’an tidak membuka aib masa lalu supaya kita ikut menghakimi. Ia membukanya supaya rasa paling benar yang bersarang di dada kita ini rontok. Yang memuliakan bukan identitas, tapi ketaatan yang jujur.
Jadi hari ini satu saja. Berhenti merasa paling benar, lalu belajar membedakan kapan akal harus bekerja dan kapan hati harus tunduk.
Wallahu a’lam.

