21 Juli, Juz 21
Bismillahirrahmanirrahim.
Ayat 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Ayat 19
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Dua ayat ini bagian dari rangkaian nasihat Luqman kepada anaknya. Bedanya dari nasihat sebelumnya yang soal tauhid, birrul walidain, dan shalat, di sini fokusnya justru hal yang sangat teknis, cara berjalan dan volume suara. Bukan soal apa yang disampaikan, tapi bagaimana cara menyampaikannya secara fisik.
Ada satu konsep di buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler) yang pas menjelaskan kenapa dua hal sekecil ini bisa dianggap penting, namanya The Fashion Model, dari bab How to Understand Yourself Better. Intinya, pilihan berpakaian selalu mengomunikasikan sesuatu ke orang lain, sadar atau tidak, sebelum kita sempat bicara sepatah kata pun. Kalau dipinjam membaca Luqman 18-19, Al-Qur’an sudah lebih dulu mengenali prinsip yang sama, tapi lewat medium berbeda, cara berjalan dan nada suara. Keduanya sama-sama “pakaian non-fisik” yang dikenakan seseorang setiap kali muncul di hadapan orang lain.
Yang menarik, ayat 18 dan 19 menyasar dua arah berlawanan yang sama-sama keliru. Ayat 18 soal berjalan angkuh, sinyal yang terlalu keras, seolah menegaskan diri lebih tinggi dari orang lain. Ayat 19 soal suara keledai, sinyal yang berlebihan di sisi lain, kasar dan tidak terkontrol volumenya. Titik tengah yang diminta bukan menjadi kaku atau menarik diri dari interaksi, tapi menemukan cara hadir yang wajar, tidak mendominasi ruang dengan gestur sombong, tapi juga tidak berlebihan dengan nada bicara yang tidak terkendali.
Juz 20 kemarin sempat menyinggung adab menjaga pandangan antara Musa dan calon istrinya, spesifik dalam interaksi lintas gender. Luqman 18-19 ini melangkah lebih luas, bicara soal cara membawa diri dalam pergaulan secara umum, dengan siapa pun, laki-laki atau perempuan, kenalan lama atau orang baru.
Back then kira-kira tahun 2002 lalu, ini adalah cerita istriku. Ketika kami berkenalan, istriku berinisiatif untuk mencari tahu tentang aku dari teman kantorku. Dia dapat kontaknya dari istrinya Deni, Alia. Waktu itu Alia juga kerja di kantor yang sama bareng aku. Deni Ridwan adalah sahabat yang mengenalkanku ke calon istriku waktu itu. Istriku bertanya ke atasanku dan juga dosenku, Pak Marmahadi. Pesan yang didapat istriku tentang aku adalah, aku terlalu mudah bergaul, termasuk dengan lawan jenis.
Ini jadi bahan koreksi juga buat aku. Ya memang begitu, aku biasanya mudah membuka percakapan dengan siapa saja, termasuk perempuan, dan itu sebenarnya bukan hal buruk, keterbukaan itu modal sosial yang berguna. Aku belajar itu dari buku terkenal “How to Win Friends and Influence People”-nya Dale Carnegie. Dari waktu kuliah dulu sampai dengan saat ini, saya sering promosikan pesan baik dari buku itu, termasuk ke anak-anakku.
Tapi ayat ini juga mengingatkan, keterbukaan perlu dibarengi kesadaran soal bagaimana caranya disampaikan, nada suara yang terjaga, cara membawa diri yang tidak berlebihan, supaya keterbukaan itu tidak berubah jadi sinyal yang salah ditangkap orang lain, entah dibaca sebagai sombong kalau terlalu percaya diri berlebihan, atau justru sebagai sesuatu yang tidak pantas kalau terlalu santai tanpa batas, terutama dalam interaksi dengan lawan jenis.
Presentasi diri selalu berbicara duluan sebelum kata-kata sempat keluar. Luqman 18-19 menambahkan, presentasi itu bukan cuma soal penampilan fisik, tapi juga soal ritme berjalan dan volume suara, dua hal kecil yang sering luput dari perhatian, padahal itu yang pertama kali dibaca orang lain tentang siapa kita.
Wallahu a’lam.


