5 Juli · Juz 5
Bismillah. Juz 5 hari ini melanjutkan Surah An-Nisa. Dari sekian banyak tema yang dibahas, perhatianku tertuju pada ayat 36–38. Menariknya, ada dua model dalam The Decision Book yang jika dipadukan terasa sangat membantu untuk melihat rangkaian ayat ini dari dua sisi yang saling melengkapi.
The Family Tree Model digunakan untuk memetakan lingkaran relasi seseorang, siapa saja yang perlu dijaga hubungannya, dan bagaimana lingkaran kepedulian itu meluas di luar keluarga inti. Sementara The Esquire Gift Model menggambarkan skala pemberian, dari sikap kikir di satu ujung hingga berlebihan di ujung lainnya, dengan titik keseimbangan sebagai bentuk memberi yang paling tepat.
Menariknya, An-Nisa ayat 36–38 justru membahas dua hal itu sekaligus: kepada siapa kebaikan diberikan, dan bagaimana cara memberikannya.
Pembuka — Lingkaran Kebaikan (An-Nisa 36–38)
Sebagai fokus tadabbur hari ini, aku memilih tiga ayat yang mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari kualitas hubungan kita dengan sesama manusia.
Ayat 36
Allah memerintahkan agar hanya menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Setelah itu, Allah langsung memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, musafir, dan hamba sahaya.
Jika dipetakan melalui The Family Tree Model, ayat ini seperti sebuah peta lingkaran sosial yang lengkap. Dimulai dari hubungan yang paling dekat, lalu terus meluas kepada orang-orang yang mungkin tidak memiliki hubungan darah dengan kita.
Yang menarik untuk diperhatikan adalah penyebutan karib kerabat dan teman sejawat (shahib bil-janb). Sebagian ulama menafsirkan istilah ini bukan hanya teman biasa, tetapi juga orang-orang yang pernah berjalan bersama dalam perjalanan hidup kita, termasuk sahabat dekat orang tua.
Ada sebuah riwayat dalam Shahih Muslim yang menggambarkan makna ini dengan sangat indah. Suatu hari Ibnu Umar bertemu seorang badui di perjalanan menuju Makkah. Ia menyapanya dengan hangat, mempersilakan orang itu menaiki keledainya, bahkan memberikan sorban yang sedang dipakainya.
Orang-orang yang melihat peristiwa itu merasa heran. Mereka berkata bahwa orang badui tersebut tentu sudah sangat senang meskipun hanya diberi sedikit. Namun Ibnu Umar menjelaskan bahwa ayah orang itu dahulu adalah sahabat dekat ayahnya, Umar bin Khattab. Lalu beliau mengingat sabda Rasulullah ﷺ bahwa sebaik-baik bentuk bakti seorang anak adalah menyambung hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintai oleh ayahnya.
Riwayat ini memperlihatkan bagaimana ayat 36 dipraktikkan secara sangat personal. Lingkaran kebaikan ternyata tidak berhenti pada keluarga sedarah, tetapi juga mencakup orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan orang tua kita.
Ayat 37
Allah mencela orang-orang yang bersikap kikir, mendorong orang lain untuk ikut kikir, dan menyembunyikan nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka.
Ayat 38
Allah juga mengingatkan tentang orang-orang yang menginfakkan hartanya hanya agar dipuji manusia, bukan karena iman kepada Allah dan keyakinan kepada hari akhir.
Menariknya, apa yang dilakukan Ibnu Umar berada jauh dari sikap riya. Riwayat tersebut tidak muncul karena beliau menceritakan amalnya sendiri, melainkan karena ada orang lain yang bertanya mengapa beliau memberi begitu banyak kepada seorang yang tampaknya tidak dikenal.
Hikmah Keseluruhan
Ketiga ayat ini membentuk sebuah urutan yang sangat indah. Ayat 36 menjelaskan kepada siapa kebaikan diarahkan. Ayat 37 mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam kekikiran. Ayat 38 mengingatkan agar pemberian tidak berubah menjadi sarana mencari pujian.
Dengan kata lain, Al-Qur’an bukan hanya mengajarkan pentingnya memberi, tetapi juga mengajarkan sasaran dan cara memberi yang benar.
Refleksi dengan The Family Tree Model dan The Esquire Gift Model (The Decision Book)
The Family Tree Model membantu melihat bahwa hubungan sosial tidak berhenti pada keluarga inti. Ada lingkaran-lingkaran lain yang tetap layak dipelihara, termasuk orang-orang yang pernah memiliki hubungan baik dengan orang tua kita. Riwayat Ibnu Umar menjadi contoh bahwa menjaga hubungan itu adalah bentuk bakti yang tetap hidup bahkan setelah orang tua telah tiada.
Sementara The Esquire Gift Model mengingatkan bahwa memberi tidak boleh jatuh pada dua ekstrem, terlalu pelit ataupun berlebihan demi pencitraan. Namun kisah Ibnu Umar memberikan satu pelajaran tambahan yang menarik. Ada keadaan ketika pemberian yang tampak besar justru merupakan bentuk penghormatan yang sangat pantas. Nilainya tidak diukur dari nominalnya, melainkan dari penghargaan terhadap hubungan yang telah dibangun oleh orang tua semasa hidup mereka.
Di sinilah Al-Qur’an memperlihatkan bahwa kebijaksanaan tidak selalu berarti memberi dalam jumlah sedang, tetapi memberi dengan ukuran yang sesuai dengan nilai hubungan dan dengan niat yang tetap lurus karena Allah.
Aplikasi Praktis
Ayat-ayat ini mengajakku untuk bertanya bukan hanya, “Sudahkah aku memberi?” tetapi juga, “Siapa saja yang mungkin selama ini terlupakan dalam lingkaran kebaikanku?”
Mungkin masih ada sahabat lama orang tua, guru, tetangga, atau orang-orang yang pernah berjasa dalam kehidupan keluarga yang bisa kita sapa kembali, sekadar menanyakan kabar atau memberikan perhatian sebagai bentuk menyambung silaturahmi.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengetahui kepada siapa kebaikan diberikan, mampu memberi dengan porsi yang tepat, terhindar dari sifat kikir maupun riya, serta dimudahkan untuk terus menyambung kasih sayang kepada orang-orang yang dahulu dicintai oleh kedua orang tua kita.
Ya Allah, jadikan kami termasuk yang pas dalam memberi, kepada orang yang tepat, dengan niat yang tidak kikir maupun riya, termasuk kepada orang-orang yang dulu dicintai orang tua kami. Aamiin.



