25 Februari, Juz 25.
Bismillah.
Dalam Juz 25 Allah menyatakan, musibah itu karena ulahmu sendiri. Selengkapnya di Surat Asy-Syura ayat ke-30, Allah berfirman: “Wa maa asaabakum mim musiibatin fabimaa kasabat aidiikum wa ya’fuu ‘an katsiir”. Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).
Sebelum lebih jauh, Juz 25 ini terdiri dari lanjutan Surat Fussilat (Yang Dijelaskan) mulai ayat 47 hingga selesai, lalu secara utuh memuat Surat Asy-Syura (Musyawarah), Az-Zukhruf (Perhiasan), Ad-Dukhan (Kabut), dan ditutup dengan Surat Al-Jasiyah (Yang Berlutut).
Secara singkat, masing-masing surat di juz ini memiliki benang merah teguran yang kuat. Fussilat menjelaskan betapa rincinya petunjuk Al-Quran bagi orang yang mau berpikir. Asy-Syura mengingatkan pentingnya bersandar pada ketentuan Allah dan musyawarah, serta bagaimana menyikapi ujian. Az-Zukhruf menyentil manusia yang sering tertipu oleh gemerlap perhiasan dunia. Ad-Dukhan memperingatkan tentang azab akhir zaman sekaligus turunnya rahmat di Lailatul Qadar. Terakhir, Al-Jasiyah menggambarkan dahsyatnya Mahsyar ketika kelak semua manusia dipaksa berlutut menanti hisab.
Kembali ke Asy-Syura ayat ke-30, seringkali kalau mendapatkan musibah, ada saja yang kita tunjuk sebagai penyebabnya. Padahal, banyak musibah itu datang karena dosa kita. Maksiat yang tersembunyi dan kesombongan yang tak disadari adalah magnet pemanggil musibah. Kalau kemarin aku menulis bahwa dosa menghalangi rahmat, sekarang di surat ini ditegaskan bahwa dosa juga menarik datangnya kesulitan. Kalau mau diulang dan dikaitkan dengan Juz 24 lalu, kita sangat butuh pelindung kepala (mighfar) dari Allah. Maghfirah atau ampunan-Nya adalah perisai agar kita terhindar dari benturan musibah tersebut.
Lanjut ke Surat Ad-Dukhan. Allah memberikan gambaran tentang dua fenomena besar yang bertolak belakang, namun sama-sama diturunkan dari langit sebagai respons atas keimanan dan keingkaran manusia.
Fenomena pertama hadir tepat di awal surat. Pada ayat ke-3, Allah berfirman: “Innaa anzalnaahu fii lailatim mubaarakatin innaa kunnaa mundziriin”. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.
Mayoritas mufassir sepakat bahwa malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah Lailatul Qadar, malam puncak kemuliaan di bulan Ramadhan tempat Al-Quran pertama kali diturunkan sekaligus malam ditetapkannya takdir manusia. Ini adalah fenomena langit yang membawa cahaya, rahmat, dan kedamaian mutlak hingga terbit fajar.
Namun, beberapa ayat setelahnya, Allah mengabarkan fenomena kedua. Di ayat ke-10, Allah berfirman: “Fartaqib yauma ta’tis samaa’u bidukhaanim mubiin”. Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas.
Dukhan berarti kabut atau asap pekat. Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang menafsirkan Dukhan sebagai asap kelaparan yang menimpa Quraisy, atau debu saat Fathu Makkah. Namun pendapat yang paling kuat (rajih) —dan ini yang kita imani— adalah bahwa Dukhan adalah salah satu tanda besar hari kiamat yang belum terjadi. Ditemukan juga dalam berbagai riwayat hadis shahih dan penjelasan para ulama, turunnya Dukhan adalah salah satu dari tanda-tanda besar hari kiamat. Asap ini kelak akan menyelimuti bumi. Bagi orang mukmin, efeknya hanya seperti flu ringan karena iman di dada mereka menjadi pelindung. Namun bagi mereka yang hatinya berkarat oleh dosa pemanggil musibah tadi, asap ini akan masuk ke rongga tubuh, membuat napas sesak hebat, dan menjadi siksaan yang pedih.
Kabar tentang Dukhan ini kita imani sebagai bagian dari rukun iman kita kepada hari akhir. Justru kabar ini membuat kita lebih waspada dan memberikan motivasi.
Mari kita ambil langkah nyata di Ramadhan ini. Info tentang Lailatul Qadar telah lebih awal diingatkan hari ini. Mungkin sebagian orang berpikir, pencariannya nanti saja di 10 hari terakhir Ramadhan. Tapi, kenapa tidak dari sekarang saja ya membiasakan perburuan itu? Apalagi di pembahasan juz sebelumnya sudah berkali-kali ditekankan pesan pentingnya qiyamul lail, bersujud, dan bermunajat di tengah kesunyian sepertiga malam terakhir. Apalagi malam-malam Ramadhan.
Aku ingin mendawamkan qiyamul lail, berharap kapan pun Lailatul Qadar turun, Allah mengizinkanku sedang beristighfar di dalamnya. Apalagi jika dikaitkan dengan janji Allah, ampunan Allah dapat melindungi dari musibah.
Wallahu a’lam.
