13 Juli · Juz 13
Hari ini tanggal 13, jadi bacaanku sampai di Juz 13. Ada satu bagian yang bikin aku tertarik, doa Nabi Ibrahim di Surah Ibrahim ayat 35 sampai 41. Sudah berkali-kali baca surah ini sebelumnya, tapi entah kenapa baru kali ini kerasa betapa padatnya doa ini.
Aku coba pinjam satu ide dari buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler) yang kebetulan lagi kubaca bulan ini, sekadar bantu melihat pola dalam doa ini dengan lebih jelas. Bukan berarti menyamakan teori manajemen dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an tetap yang utama, teori itu cuma alat bantu supaya lebih gampang dipraktikkan sehari-hari.
Ayat 35
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.'”
Yang menarik, permintaan pertama Ibrahim bukan kekayaan atau kejayaan, tapi keamanan. Dan begitu selesai minta itu, langsung disambung doa supaya dirinya dan anak cucunya dijauhkan dari syirik. Jadi baginya, keamanan yang paling penting itu bukan yang fisik, tapi keamanan akidah.
Ayat 36
“Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia. Maka barangsiapa mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ini yang bikin aku mikir cukup panjang. Ibrahim bilang, siapa yang ikut jalannya, dianggap bagian dari dirinya. Siapa yang menyimpang, diserahkan pada Allah. Bukan berarti dia cuek atau lepas tangan, tapi dia paham memang sampai di situ batas kemampuan manusia, mengajak iya, memaksakan hidayah tidak bisa.
Ayat 37
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Mungkin bagian yang paling menyentuh. Ibrahim cerita soal menempatkan Hajar dan Ismail di lembah yang tandus, dekat Baitullah. Alasannya sederhana saja, supaya mereka bisa mendirikan shalat. Baru setelah itu dia berdoa supaya hati orang-orang tertarik pada mereka, dan diberi rezeki dari buah-buahan. Jadi urutannya, ibadah dulu, baru rezeki menyusul. Bukan sebaliknya.
Ayat 38
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.”
Ada pengakuan kalau Allah tahu semua yang disembunyikan dan yang ditampakkan. Rasanya seperti pengingat, tidak ada gunanya berpura-pura di hadapan Allah, karena semuanya sudah diketahui.
Ayat 39
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.”
Kerasa seperti jeda. Setelah menunggu lama, Ibrahim memuji Allah karena diberi Ismail dan Ishaq di usia yang sudah senja. Dia tidak bilang itu hasil usahanya, tapi karunia semata.
Ayat 40
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
Doanya kembali lagi soal shalat, kali ini untuk keturunannya juga. Jadi yang diwariskan bukan cuma keluarga, tapi kebiasaan ibadah yang terus berjalan.
Ayat 41
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”
Menutup semuanya dengan permintaan ampun, untuk dirinya, orang tuanya, dan seluruh orang beriman. Doanya melebar terus sampai akhir, dari yang paling dekat sampai yang paling luas.
Kalau dipikir-pikir, susunan doa ini kayak versi lain dari Project Portfolio Matrix yang dibahas di buku tadi, cara mengelola beberapa hal penting sekaligus tanpa harus memberi bobot yang sama ke semuanya. Ayat 35 itu yang harus dijaga sekarang juga, paling prioritas dan penting.
Ayat 37 dan 40 itu yang ditanam untuk hasil jangka panjang, bahkan baru kelihatan jauh setelah dia sendiri sudah tiada.
Ayat 36 itu bagian yang memang bukan wewenangnya untuk dikontrol.
Ayat 39 itu jeda buat bersyukur dulu sebelum minta lagi. Dan semuanya berakhir bukan dengan laporan pencapaian, tapi permintaan ampun, seolah mengingatkan bahwa serapi apa pun rencana disusun, ujungnya tetap kembali pasrah pada Allah.
Baca ulang doa ini jadi bahan renungan buatku juga. Aku sedang menjalani beberapa hal sekaligus belakangan ini, pekerjaan utama, beberapa proyek tambahan, usaha yang sedang dirintis, dan kebiasaan menulis ini sendiri. Dari Ibrahim aku belajar, tidak semuanya perlu digenjot bersamaan dengan porsi yang sama. Ada yang memang harus jadi prioritas sekarang. Ada yang perlu ditanam sabar, asal jalan dulu walau pelan, hasilnya nanti saja. Ada yang cukup disyukuri dulu. Dan ada yang memang bukan untuk dikontrol, tinggal diserahkan kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam.
