10 April, Juz 10

Bismillah.

Ada satu keyakinan yang masih dipegang banyak orang, termasuk sebagian pemimpin dunia. Bahwa kalau perjanjiannya cukup rapi, resolusinya cukup tegas, dan pengawasnya cukup banyak, entitas penjajah itu pada akhirnya akan menepati janjinya. Realitas dua hari terakhir menjawab keyakinan itu dengan cara yang paling telanjang.

Iran dan Amerika sepakat gencatan senjata dua minggu, berlaku efektif hari itu juga, dengan detail yang rencananya dibahas Jumat ini di Pakistan. Hanya berselang beberapa jam dari kesepakatan itu, Israel menghantam 100 sasaran sipil di Lebanon, dari Beirut sampai kota-kota lain. Dua ratus warga sipil gugur, puluhan blok apartemen rata dengan tanah.

Menyerang permukiman, mengebom rumah sakit, membunuh anak-anak, semua itu sudah jadi rutinitas harian buat mereka. Lebih terencana lagi, sasarannya justru orang-orang yang seharusnya paling dilindungi, yaitu para perunding perdamaian, pemimpin perlawanan, jurnalis, pegawai PBB, sampai pasukan penjaga perdamaian UNIFIL.

Cara kerjanya pun dingin sekali. Mereka membangun basis data digital orang per orang, lalu memburu satu per satu tanpa peduli siapa yang ikut mati di sekitarnya. Meratakan satu blok apartemen berisi ratusan orang cuma dihitung sebagai kerusakan sampingan, asal satu target di dalamnya kena. Semua ini dilakukan dengan kekebalan hukum penuh, karena mereka merasa sudah lolos dari kejahatan genosida di Gaza. Dan dunia diam. Kebisuan yang lama-lama berfungsi seperti tanda persetujuan.

Rekam jejaknya kalau ditarik ke belakang juga panjang sekali. Pengeboman rutin di Gaza dan Lebanon, bahkan di tengah masa gencatan senjata. Bangsa mana pun yang punya harga diri pasti akan membalas kalau diperlakukan begitu. Dan di situlah liciknya, karena balasan itulah yang kemudian dipakai sebagai alasan untuk menyerang lebih membabi buta dan mencaplok lebih banyak wilayah.

Juz 10 mengambil Al-Anfal ayat 41 sampai At-Taubah ayat 92, dan sorotannya bergeser. Kalau juz-juz sebelumnya membedah penyakit di dalam sebuah peradaban, kali ini yang dibongkar adalah bagaimana mereka memperlakukan dunia luar.

Innā syarrad dawābbi ‘indallāhil ladzīna kafarū fahum lā yu’minūn. Alladzīna ‘āhadta minhum tsumma yanquḍūna ‘ahdahum fī kulli marratiw wa hum lā yattaqūn.

“Sesungguhnya makhluk bergerak yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang engkau telah mengambil perjanjian dari mereka, kemudian mereka merusak janjinya setiap kali (berjanji), dan mereka tidak bertakwa.” (QS 8:55-56)

Perhatikan kalimat “setiap kali berjanji”. Bukan sesekali, bukan karena situasi darurat, bukan karena ada provokasi. Setiap kali. Allah menyebut entitas semacam ini sebagai seburuk-buruk makhluk melata, dan menurutku itu diagnosis geopolitik paling tajam yang pernah aku baca. Buat mereka, perjanjian damai, resolusi internasional, perlindungan staf PBB, dan gencatan senjata bukan komitmen moral. Itu semua cuma taktik untuk mengulur waktu, menipu dunia, dan menyusun ulang kekuatan sebelum kembali membantai.

Pelanggaran gencatan senjata di Lebanon beberapa jam setelah kesepakatan kemarin adalah pengulangan persis dari bunyi ayat itu. Berkhianat bukan insiden sesekali buat mereka, melainkan pola yang bisa diprediksi.

Lalu muncul pertanyaan kedua yang sering membuat dada sesak. Kalau mereka sebusuk itu, kenapa justru terlihat kuat dan tidak tersentuh?

Falā tu’jibka amwāluhum wa lā aulāduhum, innamā yurīdullāhu liyu’adzdzibahum bihā fil ḥayātid dunyā wa tazhaqa anfusuhum wa hum kāfirūn.

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menakjubkanmu. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir.” (QS 9:55)

Cara pandangnya dibalik total. Basis data digital yang canggih, mesin pembunuh presisi, dukungan politik negara adidaya, kekuatan ekonomi yang mereka pamerkan, semua itu bukan tanda kemenangan dan bukan tanda kasih sayang Tuhan. Semua itu justru alat siksa.

Karena merasa kuat itulah mereka terus menumpahkan darah, dan darah itu pula yang mengundang kebencian seluruh umat manusia sekaligus menghancurkan legitimasi mereka sendiri sampai ke akar. Yang kelihatan seperti kekuatan, dalam kacamata wahyu justru percepatan menuju kehancuran.

Jadi jawabannya jelas. Berharap entitas Zionis penjajah akan patuh pada hukum internasional, menghargai hak asasi manusia, atau menepati kesepakatan damai adalah kesia-siaan. Mengingkari janji itu bawaan lahir mereka, bukan kecelakaan diplomatik.

Dan diamnya masyarakat internasional hari ini mengingatkanku pada pelajaran kemarin di Juz 9. Ketika kezaliman sudah terpampang jelas, diam bukan lagi netral. Diamnya dunia adalah bentuk ikut serta, cuma versi pasifnya.

Semoga Allah menguatkan saudara-saudara kita di Palestina, Lebanon, dan Iran yang sedang menghadapi kezaliman ini, dan menggolongkan kita ke dalam orang-orang yang tidak pernah diam melihat ketidakadilan, sebagaimana amar makruf nahi mungkar yang memang jadi pembeda antara umat yang hidup dan umat yang sudah mati secara moral.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News