6 Februari, Juz 6
Juz 6 mencakup akhir-akhir Surat An-Nisa dan masuk ke awal Surat Al-Maidah.
Setelah kemarin kita memperkuat benteng keluarga dengan menunaikan Amanah (titipan Allah), maka hari ini di Juz 6, Allah mengajak kita memperkuat pondasi itu dengan satu kata kunci, yaitu komitmen (menepati janji).
Kenapa setelah bahas amanah kita bahas komitmen?
Karena Amanah (sifat dalam diri) harus dibuktikan lewat menepati Janji (tindakan nyata).
Di penghujung Surat An-Nisa, Allah menceritakan rekam jejak Bani Israil yang buruk dalam memegang janji.
Padahal, Allah telah mengangkat Gunung (Tursina) di atas mereka sebagai saksi perjanjian yang sangat sakral.
Allah berfirman: “Dan telah Kami angkat ke atas mereka bukit Tursina untuk (menerima) perjanjian… lalu mereka melanggarnya.” (QS. An-Nisa: 154-155)
Akibatnya fatal. Hati mereka menjadi keras dan mereka dijauhkan dari rahmat. Ini peringatan keras buat kita agar tidak meniru mereka. Jangan jadi kaum yang hobi ingkar janji, apalagi janji yang diambil dengan nama Allah.
Belajar dari kesalahan tersebut, kita masuk ke Surat Al-Maidah. Ayat pertamanya langsung ke jantung persoalan integritas:
“Yaa ayyuhalladzina aamanu, aufuu bil ‘uquud…” (Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji/akad-akad itu). (QS. Al-Maidah: 1)
Kata Al-Uquud di sini bermakna ikatan yang kuat. Hidup kita ini sejatinya adalah kumpulan kontrak perjanjian, termasuk yang kita buat ketika kita masih dalam kandungan.
Disebut sebagai janji fitrah, karena sejak dalam kandungan, ruh kita sudah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita (QS. Al-A’raf: 172).
Lalu kita juga membuat janji Syahadat: Saat kita bersaksi “Tiada Tuhan selain Allah”, itu adalah kontrak kepatuhan seumur hidup. Janji tersebut kita ucapkan berulang kali dalam shalat kita.
Di sepanjang hidup, kita terus berlanjut mengikat perjanjian, seperti janji pernikahan, janji utang piutang, kontrak kerja, kontrak proyek, kontrak jual beli dan banyak lagi.
Lalu, bagaimana jika kita sering melanggar janji-janji di atas? Di ayat 54, Allah memberikan peringatan keras bagi mereka yang hobi “Wanprestasi”:
“…Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…” (QS. Al-Maidah: 54)
Ternyata ancaman hukuman Allah untuk yang tidak menepati janji cukup simpel, yaitu posisi kita sebagai hamba pilihan itu bisa digantikan.
Jika kita berpaling dan tidak komitmen, Allah tidak rugi. Allah bisa “mem-PHK” kita dan mengganti kita dengan orang lain yang lebih mencintai-Nya.
Kita tidak tepati janji pernikahan, bisa jadi istri kita pisah dan digantikan suami untuknya. Kita tidak deliver contract, vendor lain akan menggantikan, dan seterusnya.
Pada akhirnya keluarga yang menjadi benteng akhir kita dan kehidupan kita hanya akan tenang jika kepastian pemenuhan janji itu terbukti dan konsisten.
Bayangkan jika suami sering ingkar janji pada istri, atau ayah sering membohongi anak. Maka runtuhlah wibawa dan kepercayaan di rumah itu.
Ramadhan nanti adalah “Kontrak Ibadah” selama 30 hari.
Jika urusan janji dengan manusia saja (utang, jam kerja, janji temu) kita sering ingkar/lalai, bagaimana kita punya muka untuk menyodorkan kontrak taubat atau kontrak untuk kenaikan level takwa kepada Allah di bulan suci nanti?
Jangan sampai kita termasuk orang yang “di-PHK” dari rahmat Allah karena sering melanggar janji kita sendiri.
Maka hari ini, mari cek daftar janji kita. Lunasi yang tertunggak, tepati yang terucap. Mari kita menjadi hamba yang gentleman, yang kata-kata bisa dipegang oleh penduduk bumi dan dipercaya oleh penduduk langit.
Wallahu a’lam.

