Tanggal 25, Juz 25
Awal juz 25 masih di Surat Al-Fussilat. Fussilat artinya diperinci, dijelaskan dengan sangat jelas. Gamblang. Terang. Hitam putih.
“Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan secara terperinci, sebagai bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” (QS Al-Fussilat: 3)
Tapi masalahnya, yang sudah jelas malah sering diingkari dengan sengaja.
Allah berfirman:
“Kebanyakan mereka berpaling, maka mereka tidak mau mendengarkan.” (QS Al-Fussilat: 4)
Ini bukan fenomena baru. Ini pola sejarah. Di dalam Surat ini Allah memberikan contoh kaum Ad yang sombong, dan kaum Tsamud yang ingkar. Tapi sekali lagi ini bukan sejarah, tapi pola perilaku yang berulang.
“Adapun kaum ‘Ad, mereka berlaku sombong di bumi tanpa hak dan berkata: ‘Siapakah yang lebih kuat dari kami?’” (QS Al-Fussilat: 15)
Fenomena dana haji yang sudah bolak-balik di korupsi bisa jadi contoh. Sudah jelas masalah ibadah tapi tetap pakai mode maling.
Dulu ada laptop mas gojek, lalu ada IKN, sekarang ada MBG. Polanya sama. Sombong merasa kuasa jadi membabi buta.
Allah menggambarkan alasan klasik manusia:
“Mereka berkata: ‘Hati kami tertutup dari apa yang kamu serukan, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding.’” (QS Al-Fussilat: 5)
Bukan karena tidak paham tapi karena tidak mau tunduk, memilih untuk rakus.
Inilah yang kita lihat berulang dalam sejarah manusia.
Genosida contoh lainnya. Sudah berapa banyak deklarasi “tidak boleh terulang”. Tapi tetap terjadi.
Di Gaza. Di Libya. Di Afghanistan. Di Suriah. Di Irak. Di Eropa dengan nazinya. Di Amerika dengan Indiannya. Dan di banyak tempat lain.
Dulu anarkis gestapo Nazi, sekarang anarkis ICE US.
Al-Qur’an sudah menggambarkan pola ini jauh sebelumnya.
Kenapa mereka berani ingkar dengan sengaja. Seperti kaum Ad, mereka mengandalkan kekuatan, teknologi, jumlah, dan kuasa.
Tapi jangan salah, justru itu menjadi awal kehancuran mereka.
Tentang Tsamud, Allah berfirman:
“Dan adapun Tsamud, Kami telah memberi mereka petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk.” (QS Al-Fussilat: 17)
Ini kalimat yang sangat keras. Bukan tidak tahu jalan tapi memilih buta.
Kita sadari semua di atas terjadi di depan kita, lalu kita harus bagaimana?
Pertama, Al-Fussilat mengajarkan bahwa tugas orang beriman bukan memastikan dunia adil, tapi memastikan dirinya tidak ikut membenarkan kezaliman.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka…” (QS Al-Fussilat: 30)
Istiqamah di sini bukan main aman, tapi bagaimana tetap lurus saat kedzaliman datang.
Kedua, Al-Fussilat mengingatkan bahwa kezaliman mungkin tampak menang, tapi tidak pernah benar-benar selamat dari hukuman.
Allah berfirman:
“Maka Kami timpakan kepada mereka azab kehinaan dalam kehidupan dunia, dan azab akhirat lebih menghinakan.” (QS Al-Fussilat: 16)
Ketiga, surat ini mengingatkan bahwa suatu hari, mulut mereka dikunci, sehingga tidak ada lagi argumen pembenaran.
Allah berfirman:
“Pada hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke neraka… sampai ketika mereka tiba, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al-Fussilat: 19–20)
Ayat di atas tidak hanya berlaku buat pelaku kedzoliman, tapi juga buat kita yang melihat, apakah kita mendukung, mendiamkan atau melawan.
Maka hikmah Juz 25 ini bukan sekadar tentang dunia yang rusak, tapi tentang posisi kita di tengah kerusakan itu.
Sejarah memang berulang. Tapi Al-Fussilat mengajarkan tidak semua orang harus mengulang posisi yang sama, harus berani berpikir ulang.
Jadi, ada sebagian menjadi pelaku, sebagian menjadi pembenar, sebagian menjadi penonton, dan yang terakhir sebagian yang menjadi penentang.
Mana yang akan kita pilih ketika pola perilaku dzalim muncul di depan kita?
Wallahu a’lam.

