16 Juli · Juz 16
Ketika Musa naik ke Bukit Thur, Harun ditinggalkan memimpin Bani Israil. Tidak lama setelah itu, Samiri membuat patung anak sapi emas dan mengklaimnya sebagai tuhan. Harun tidak diam saja.
Ayat 90 mencatat Harun sudah memperingatkan kaumnya lebih dulu, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” Tapi ayat 91 mencatat jawaban mereka, “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.” Harun sudah bicara, tapi kaumnya menolak.
Begitu Musa kembali dan melihat kondisi ini, ayat 92–93 mencatat kemarahannya, “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah sengaja mendurhakai perintahku?” Musa bahkan sampai menarik jenggot dan kepala Harun. Ayat 94 mencatat jawaban Harun, “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan pula kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata, kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.”
The Rubber Band Model dalam The Decision Book dipakai untuk situasi ketika seseorang tertarik dua arah berlawanan sekaligus, seperti karet gelang yang ditarik dari dua sisi. Harun jelas berada di posisi ini, satu sisi menariknya untuk bertindak tegas menghentikan penyembahan berhala secara paksa, sisi lain menariknya untuk bersabar menahan diri, karena kalau ia memaksa dengan keras, risikonya Bani Israil pecah jadi dua kubu sebelum Musa kembali.
Yang menarik, Harun sendiri yang menjelaskan alasan di balik pilihannya, bukan karena lemah atau lalai, tapi karena sudah menghitung tarikan di kedua sisi, dan memilih arah yang menurutnya menjaga amanat lebih besar, yaitu keutuhan Bani Israil sebagai satu kesatuan.
The Drexler-Sibbet Team Performance Model menjelaskan tahapan yang harus dilalui sebuah kelompok sebelum benar-benar menjadi tim yang solid, dan bagaimana di setiap tahap ada risiko berbeda kalau pemimpin salah membaca kesiapan kelompoknya. Bani Israil saat itu baru saja keluar dari perbudakan panjang di Mesir, belum benar-benar punya fondasi kepercayaan yang kuat, apalagi kepada pemimpin sementara seperti Harun. Membaca kerapuhan ini yang mungkin membuatnya menahan diri, karena tindakan tegas pada kelompok yang belum solid biasanya bukan menyatukan, malah mempercepat perpecahan yang justru ingin dihindari.
Dua model ini menjelaskan tarikan dilemanya sekaligus alasan di balik arah yang dipilih Harun. Yang menarik, Al-Qur’an sendiri tidak pernah mengoreksi keputusan itu. Musa menerima penjelasannya dan justru mendoakan ampunan untuk dirinya dan saudaranya.
Untuk melihat betapa tipisnya batas antara “menahan diri yang bijak” dan “menahan diri yang keliru”, ada baiknya dibandingkan dengan peristiwa yang baru saja terjadi, semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina, 15 Juli lalu. Inggris unggul 1-0 lewat gol Anthony Gordon di menit ke-55. Alih-alih mempertahankan momentum menyerang, pelatih Thomas Tuchel menarik pemain yang sedang tampil impresif dan memasukkan pemain bertahan, mengunci hasil yang sudah didapat. Keputusan itu tampak masuk akal di atas kertas, tapi setelah perubahan itu, Argentina justru mengambil alih kendali permainan, mencetak dua gol dalam rentang tujuh menit lewat Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez, membalikkan skor jadi 2-1.
Tuchel, seperti Harun, sebenarnya juga sedang menghadapi The Rubber Band Model-nya sendiri, tertarik antara terus menyerang atau beralih total ke mode bertahan. Bedanya, kalau dipinjam dari The Drexler-Sibbet Team Performance Model, timnya sebenarnya sedang dalam momentum tinggi dan solid, situasi yang justru butuh dipertahankan energinya, bukan direm. Salah membaca kesiapan tim sendiri inilah yang membuat keputusan defensif itu berubah jadi celah, sesuai pola The Swiss Cheese Model juga, satu perubahan taktis yang tampak aman, tapi berbaris pas dengan pengalaman juara Argentina dan ketajaman Messi, hingga menjadi dua gol beruntun yang berujung kekalahan.
Bandingkan dengan Harun. Ia menahan diri karena membaca dengan tepat bahwa kelompoknya rapuh, belum siap menerima tindakan tegas. Tuchel menahan timnya padahal timnya sedang solid dan unggul momentum. The Rubber Band Model yang sama, dua arah tarikan yang mirip, tapi hasilnya berlawanan total, karena yang menentukan bukan sekadar memilih menahan diri atau bertindak tegas, melainkan seberapa jujur dan tepat membaca kondisi nyata sebelum menariknya ke salah satu arah.
Wallahu a’lam.
