1 Juli, Juz 1. Bismillah. Awal bulan Juli ini bertepatan dengan momen penting dalam perjalanan profesionalku. Baru-baru ini, aku berkesempatan berdiri di sebuah forum untuk sharing pengalaman timku, yaitu mendorong transformasi sebuah tim yang selama ini dianggap sebagai fungsi pendukung di belakang layar, agar bisa naik kelas menjadi salah satu motor penggerak strategis bagi organisasi.

Di bulan Juli ini, aku ingin menggunakan buku The Decision Book: Fifty Models for Strategic Thinking, karya Mikael Krogerus dan Roman Tschäppeler sebagai bagian dari jurnal harianku. Buku ini menarik karena berisi lima puluh model berpikir yang dipakai luas di kelas-kelas MBA, tapi disajikan sangat ringkas. Model berpikir di atas dibagi ke empat tujuan: bagaimana memperbaiki diri sendiri, bagaimana memahami diri sendiri lebih baik, bagaimana memahami orang lain lebih baik, dan bagaimana meningkatkan kemampuan orang lain.

Aku mau coba satu pendekatan: mencari hikmah dari ayat-ayat di juz yang aku baca setiap hari—mengikuti tanggal berjalan—lalu melihatnya lewat kacamata model-model berpikir di buku ini. Ini semata-mata alat bantu untuk melihat pola praktis sehari-hari, tanpa sedikit pun menyamakan derajat teori manajemen dengan Al-Qur’an yang tetap menjadi sumber utama.

Pembuka — Al-Fatihah dan Awal Al-Baqarah (Ayat 1–20)

Sebagai awal, di Juz 1 ini aku fokus pada Al-Baqarah ayat 1–20, bagian yang memetakan tiga jenis manusia dalam merespons petunjuk (Al-Kitab).

Ayat 1–5

Allah menggambarkan Al-Muttaqin, orang-orang yang beriman pada yang gaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezekinya. Mereka digambarkan sebagai golongan yang mendapat petunjuk dan keberuntungan.

Ayat 6–7

Sebaliknya, orang-orang kafir digambarkan tidak terpengaruh apa pun, diberi peringatan atau tidak, hasilnya sama saja. Hati, pendengaran, dan penglihatan mereka digambarkan tertutup.

Ayat 8–16

Bagian terpanjang membahas orang munafik. Mereka mengaku beriman, tapi hatinya tidak. Allah memberi dua perumpamaan: orang yang menyalakan api lalu tiba-tiba dipadamkan sehingga gelap total, dan orang yang kehujanan lebat disertai petir dan kilat.

Ayat 17–20

Perumpamaan itu diperjelas. Kondisi mereka digambarkan seperti berjalan sesaat saat kilat menyambar terang, lalu berhenti bingung ketika gelap kembali.

Hikmah Keseluruhan

Yang menarik, di awal surat sepanjang ini, Al-Qur’an tidak langsung bicara hukum atau perintah, tapi lebih dulu mengajak audit cara berpikir. Tiga golongan ini sebenarnya adalah tiga cara berbeda dalam memproses sebuah kebenaran. Muttaqin menerima dan konsisten menjalankan. Kafirun menolak total sejak awal tanpa proses evaluasi. Sementara Munafiqun adalah golongan yang paling kompleks: mereka sempat menyala emosinya, lalu padam, diulang terus tanpa pernah stabil.

Refleksi dengan The Uffe Elbæk Model (The Decision Book, How to Understand Yourself Better, hlm. 45)

Model ini dipakai untuk memahami diri lewat empat sudut pandang berbeda: bagaimana kamu melihat dirimu sendiri, bagaimana kamu ingin melihat dirimu, bagaimana orang lain melihatmu, dan bagaimana orang lain ingin melihatmu. Intinya, selalu ada celah (gap) antara empat sudut persepsi ini yang perlu disadari.

Membaca Al-Baqarah 1–20 di tengah upaya mengawal transformasi ini membuatku merenung. Saat kita mempresentasikan sebuah visi perubahan besar agar dipandang secara baru oleh orang lain—dari fungsi yang dianggap sebelah mata menjadi sesuatu yang krusial—model Uffe Elbæk ini mengingatkanku untuk melakukan audit internal yang lebih dalam.

Orang munafik dalam ayat ini memiliki gap yang sangat menganga antara bagaimana mereka ingin dilihat (sebagai orang beriman) dengan kenyataan asli di dalam hatinya. Bedanya dengan model manajemen, di sini yang menilai bukan lagi opini publik atau rekan kerja di perusahaan, melainkan Allah yang mengetahui seluruh isi hati tanpa celah sedikit pun.

Aplikasi Praktis

Momentum ini menjadi waktu yang krusial bagiku untuk bertanya jujur pada diri sendiri. Ketika membawa sebuah gagasan transformasi, apakah semangatku seperti Muttaqin yang konsisten menginternalisasi nilai ke dalam tindakan nyata, atau jangan-jangan mirip dengan karakteristik Munafiqun yang digambarkan di ayat 17–20: menyala terang penuh euforia saat memaparkan ide di depan banyak orang, lalu padam dan kebingungan begitu kembali ke realitas eksekusi sehari-hari?

Perubahan yang sejati tidak boleh hanya berhenti sebagai kosmetik presentasi yang megah di luar. Saatnya meruntuhkan jarak antara citra yang ingin kita tampilkan dengan kenyataan hati kita yang sesungguhnya di hadapan Allah.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News