Menolak Keburukan dengan yang Lebih Baik Itu Harus Jadi Sebuah Kemampuan Pribadi

Bismillahirrahmanirrahim.

Tiap Agustus kata merdeka dipasang di mana-mana. Spanduk gang, seragam lomba, pidato yang isinya mirip dari tahun ke tahun. Diteriakkan ramai-ramai, dijawab ramai-ramai, lalu disimpan lagi sampai Agustus berikutnya.

Bulan ini aku mau memeriksanya lewat Al-Qur’an. Pengin mencari makna kemerdekaan dalam ayat-ayat Al-Quran dengan tiga pertanyaan.

Satu: merdeka itu apa

Al-Qur’an bercerita tentang banyak orang yang dibebaskan, dan bentuknya berbeda-beda.

Musa datang menghadap Fir’aun menuntut satu bangsa dilepaskan, lalu membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Itu merdeka dari penjajahan.

Ibrahim lahir di tengah kaum penyembah berhala, menolak ikut, sampai berselisih dengan ayahnya sendiri. Itu merdeka dari kepercayaan warisan.

Pemuda-pemuda Ashabul Kahfi meninggalkan kota dan bersembunyi di gua daripada tunduk pada raja yang memaksa mereka. Itu merdeka dengan cara menyingkir.

Yusuf memilih penjara daripada menuruti ajakan istri pembesar Mesir. Itu merdeka dari keinginan sendiri.

Istri Fir’aun tinggal di dalam istana penindas dan tetap tidak ikut tunduk. Itu merdeka tanpa pindah tempat.

Dan memerdekakan budak dijadikan hukum, bukan sekadar anjuran.

Dua: karakter apa yang dibutuhkan

Dari kisah-kisah itu aku mau tahu syaratnya apa. Ibrahim perlu berani sendirian. Yusuf perlu menahan diri waktu tidak ada yang melihat. Pemuda gua perlu rela kehilangan rumah dan kenyamanan. Musa perlu sabar menghadapi bangsanya sendiri yang berkali-kali ingin kembali ke Mesir.

Karakter mana yang disebut Al-Qur’an sebagai syarat untuk merdeka, dan bukan cuma sifat baik tambahan.

Tiga: apa hasilnya

Bebas itu bukan garis akhir. Bani Israil sudah keluar dari Mesir, tapi di padang pasir mereka masih merengek minta makanan Mesir. Merdeka badan, belum merdeka selera.

Jadi aku cari juga apa yang keluar dari orang yang benar-benar merdeka. Berani bicara benar, berlaku adil, tenang menghadapi ancaman, mampu memberi tanpa menghitung.

Satu hal aku tetapkan di depan supaya ini tidak jadi pekerjaan mencocok-cocokkan. Tidak semua juz punya ayat kemerdekaan yang kuat. Kalau sebuah juz memang tidak membicarakannya, aku bilang apa adanya.

Di tengah bulan ada tanggal tujuh belas. Aku ingin tahu apakah yang direbut hari itu sama dengan yang dimaksud Al-Qur’an, atau cuma lapisan paling luarnya.

Semua tulisan bulan ini aku kumpulkan di satu tag: arti kemerdekaan. Jadi kalau ada yang mau mengikutinya dari awal, atau menyusul dari tengah, lewat tag itu saja.

InsyaAllah segera mulai dari Juz 1.

Wallahu a’lam.