14 Juli, Juz 14.
Hari ini bacaanku sampai di penutup Surah Al-Hijr, ayat 94 sampai 99. Hanya enam ayat, tapi terasa cukup berat, seperti Allah sedang bicara langsung ke hati Nabi Muhammad yang tengah lelah dihina orang-orang di sekelilingnya.
Ayat 94
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”
Menurut catatan Ibnu Katsir yang mengutip Ibnu Abbas, ayat ini turun setelah ejekan kaum musyrikin Quraisy sudah kelewat batas dan makin gencar. Jadi perintah untuk tetap terbuka menyampaikan kebenaran ini datang justru di tengah situasi yang memanas, bukan pada saat keadaan sedang tenang.
Ayat 95
“Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu),”
Jaminan perlindungan ini turun tepat setelah perintah untuk terbuka. Seolah Allah menegaskan, jalankan saja tugasmu, urusan keamanan itu bagian-Ku.
Ayat 96
“(yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibatnya).”
Orang-orang yang mengejek itu dibiarkan saja, tidak perlu ditanggapi argumennya satu per satu. Konsekuensi dari kekeliruan mereka akan mereka tanggung sendiri kelak.
Ayat 97
“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan,”
Bagian ini yang membuatku berhenti cukup lama. Allah tidak menyuruh Nabi menyangkal rasa sesaknya. Perasaan itu diakui lebih dulu, baru diberikan jalan keluarnya.
Ayat 98
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),”
Jalan keluarnya bukan menahan diri atau membalas, melainkan ibadah. Tasbih dan sujud diposisikan sebagai tempat melepas tekanan tersebut.
Ayat 99
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”
Penutupnya memberi batas waktu yang jelas: ibadah itu berjalan terus sampai ajal, bukan sampai masalah selesai atau orang berhenti mengejek.
Kalau ditarik benang merahnya, susunan enam ayat ini membentuk alur regulasi diri yang utuh. Rasa sesak diakui lebih dulu (97), baru diberikan jalan keluar (98), dengan jaminan keamanan yang sudah ada sejak awal (95), sehingga keputusan untuk tetap terbuka menyampaikan kebenaran (94) tidak goyah karena ejekan orang lain (96).
Ini mengingatkanku pada satu konsep di The Decision Book, bernama The Feedback Box (Dealing with other people’s compliments and criticisms), terletak di seksi How to Improve Yourself. Modelnya berupa matriks sederhana untuk menyortir kritik atau pujian yang kita terima, dinilai dari kompeten atau tidaknya sumber, serta spesifik atau umumnya isi kritik tersebut. Intinya, sebelum bereaksi, kita diajak menilai terlebih dahulu apakah kritik itu layak dipegang atau boleh diabaikan.
Namun setelah dibandingkan, arahnya justru kontras, bukan mirip. The Feedback Box mengajak menyaring kritik melalui penilaian rasional, apakah sumbernya kompeten, apakah isinya substantif, baru diputuskan diterima atau diabaikan.
Sementara Al-Hijr 94–99 mengambil jalan yang berbeda. Ejekan kaum musyrik tidak perlu disaring atau dinilai kualitasnya sama sekali (ayat 96), cukup diakui dampaknya di dada (ayat 97), lalu dibawa langsung kepada ibadah sebagai tempat pelepasan (ayat 98). Yang diproses bukan isi kritiknya, melainkan rasa yang ditinggalkannya.
Membaca ulang ayat-ayat ini menjadi pengingat bagiku, kadang tekanan datang justru setelah kita mengambil langkah yang benar, bukan sebelumnya. Dan responsnya bukan menahan rasa sesak sendirian atau sibuk menilai layak-tidaknya sebuah kritik, melainkan kembali kepada ibadah sebagai tempat pulang.
Wallahu a’lam.



